Jumat, 02 Maret 2018

Praktikum (Magang) di Jerman




Enaknya di Jerman, kita selalu bisa gali info dan kumpul pengetahuan di manapun. Selain kuliah, sekolah, kerja, atau Ausbildung, ada yang namanya Praktikum. Hampir bisa disamakan dengan yang di Indonesia; kita bekerja di sebuah instansi atau perusahaan dengan/tanpa dibayar dalam jangka waktu yang pendek, dengan tujuan mengumpulkan pengalaman, pengetahuan tentang sesuatu yang berkaitan dengan karier masa depan, dan jaringan ke para pemberi kerja.

sumber gambar
Di Jerman dibedakan yang namanya Freiwillige Praktika (magang atas inisiatif sendiri) dan Pflichtpraktika (magang wajib). Perbedaannya sudah jelas: yang atas inisiatif sendiri tentu tidak diutus oleh pihak tertentu, sementara yang wajib, mereka biasanya dikirim oleh kampus atau sekolah sehingga biasanya mereka tidak diberikan fee (atau gaji) oleh sang majikan. Sedikit bercerita ya tentang dunia kerja, spesifiknya Praktikum di Jerman. Sistem pendidikan Jerman memungkinkan individu sejak dini, sehingga orang dibuat sadar bahwa mereka punya pilihan dan meyakinkan orang tersebut bahwa keputusan hari esok mereka ada di tangan mereka sendiri. Pada usia (paling dini) 13 tahun mereka sudah diutus oleh sekolah untuk (pertama kalinya) mencari tempat praktikum yang sesuai dengan minat mereka. Praktikum biasanya dua minggu berturut-turut, 6-8 jam sehari. Kebanyakan ya di dunia medis mendaratnya, karena jumlah dokter di sebuah desa di Jerman bisa lebih banyak dari jumlah kios, toko dan/atau supermarket! Di sana mereka akan mengamati dan mempelajari pola kerja para karyawan dan sedikit-sedikit membantu sebisanya. Setiap harinya mereka diwajibkan mengisi buku laporan yang nantinya harus dikumpulkan ke sekolah, isinya tentang apa saja yang mereka pelajari dan hal-hal teknis/organisatoris sebagai basis. Sebagai pembanding, saya baru “dibolehkan melihat dunia luar” waktu mengenyam pendidikan di Indonesia pada usia 21 tahun—KKN/PPL di sebuah SMA, mengajar Bahasa Jerman. Saat itu kami semua setim kikuk dan kaku dengan lingkungan baru yang berbau instansi, ya karena it was for the first time.
Sekarang saatnya saya bercerita tentang yang Freiwillige Praktika alias magang atas inisiatif sendiri. Itu adalah kita-kita ini yang sedang meraba-raba dunia kerja, entah untuk pertama kali atau mungkin kita sedang dalam fase banting stir ke arah lain. Bisa juga kamu adalah tipe Scanner yang hobi icip sana-icip sini (seperti penulis, hehe. Tulisan lengkapnnya di Scanner vs Diver Part 1 dan Part II ). Sekalipun kamu seorang mahasiswa, tapi atas keinginan sendiri ingin cari pengalaman saat liburan panjang atau cuti, kamu juga termasuk ke kategori Freiwillige Praktika.

Praktikum di mana, dalam bidang apa?

Sebelum kamu menulis lamaran, pikirkan baik-baik dengan perhitungan efektifnya waktu yang kamu punya. Jika kamu punya segudang mimpi dan penasaran yang positif, pasti bingung mau ke mana. Tetapkan prioritas. Oke, sekarang sudah punya bidang yang ingin kamu tekuni, selanjutnya tentukan ke perusahaan/instansi mana yang mungkin akan menerima lamaranmu. Pikirkan saja, everything is possible. Kamu boleh menghambur lamaran ke mana-mana, namun dicatat ya, perusahaan/instansi tujuanmu itu harus kamu pelajari sebaik-baiknya, sehingga lamaranmu terasa personalized jika dibaca. Sebagai contoh, kalau di Indonesia kita boleh kan menulis, “Bapak kepala bagian yang terhormat…” di awal surat, di Jerman kita harus benar-benar menuliskan nama orang tersebut, jadi jangan asal “Sehr geehrte Damen und Herren…”.
Secara jaman ini digital, kamu bisa searching online ke bursa-bursa yang menawarkan praktikum seperti ini, atau mencatat alamat dan nomor telepon perusahaan/instansi yang dimaksud untuk didatangi secara langsung. Jika kamu sudah di Jerman namun memiliki kendala transportasi, kamu bisa menelpon terlebih dahulu untuk memastikan segala sesuatu cukup aman untuk memiliki harapan. Bertanya di Jerman adalah satu-satunya hal yang gratis, manfaatkan! Mereka selalu siap dan bersedia menjawab tanda tanya di kepala kamu, jadi jangan malu-malu. Tentu kamu tidak akan bertanya tentang gaji di percakapan pertama kan? *kedip kedip mata*

Menulis Lamaran

Kamu butuh:
Surat lamaran itu sendiri yang berisi siapa kamu secara singkat, motivasi kamu melamar di tempat ITU (tegaskan kalau kamu menginginkan praktikum di tempat mereka—dan bukan di tempat lain— karena alasan apa dan apa, bila mungkin, biarkan mereka merasa spesial oleh ulasanmu), dan alasan melamar. Standar kedengarannya? Jika kamu sempat memimpikan “orang dalam”, berbahagialah bahwa “orang dalam” itu adalah kedua tanganmu sendiri. Sajikanlah diri kamu dengan apik di atas kertas, untuk menarik simpati. Mengucap yang sudah klise: melamar itu menjual diri. Tulis lamaran buat Praktikum coba ke sini 
Ijazah dan sertifikat yang relevan. Ini artinya, kalau ingin melamar ke klinik dokter gigi, tidak perlu cantumkan bahwa kamu pernah kerja di tempat billiard atau pernah jadi Waitress di kafe. Mengacu ke saya, saya hanya akan melampirkan ijazah kuliah dan SMA saja. Sama halnya dengan sertifikat, kalau kamu pernah, misalnya, camping dengan komunitas tertentu dan dapat sertifikat, itu tidak terhitung.
Curriculum vitae: di Jerman sistem penulisan CV kebalikannya dari sistem Indonesia. Jadi aktivitas yang terbaru yang dicatat di paling atas. Intip sini!
Kalau kamu pelajar atau mahasiswa, lampirkan kartu identitasmu.
Arbeitszeugnisselihat link Karena memang di kita nggak ada, jadi terjemahan Bahasa Indonesianya yang resmi tidak ada, saya bilang saja ini ijazah kerja, sejenis job references. Saya sudah bekerja di beberapa perusahaan di Indonesia, belum pernah saya diberikan sesuatu yang wujudnya seperti Arbeitszeugnis. Di dalamnya tercantum seberapa puasnya majikan terhadap pekerjaanmu. Dan itu diulaskan kalimat per kalimat (baik banget kan?). Jika kamu tidak memiliki ini tidak apa-apa juga, keep positive thinking!

Berapa lama sih Praktikum itu?

Pada umumnya Freiwillige Praktika berlangsung singkat:
2-3 minggu (biasanya tanpa fee): dilakukan oleh mereka yang ingin memulai Ausbildung di perusahaan tersebut.
namun bisa juga 2-3 bulan (biasanya diberikan fee): dilakukan oleh mereka yang ingin memulai pekerjaan regular (entah di perusahaan tersebut atau di mana pun itu), misalnya mahasiswa yang baru lulus kuliah.

Interview?

Bisa jadi lamaranmu datang ketika perusahaan tidak membuka lowongan, maka kamu harus menunggu. Pengalaman pacar saya; sebuah perusahaan yang sudah hampir dia lupakan menelpon untuk pertama kalinya setelah 12-13 bulan penantian yang terhembus angin begitu saja, dan setelah setahun berlalu akhirnya beliau dipanggil wawancara! Well, itu mungkin juga karena yang dia lamari itu gawean regular, bukan sekedar praktikum.
Jika perusahaan tertarik dengan seisi map lamaran kamu, kamu akan diundang ke wawancara. Terhitung satu minggu setelah penyerahan lamaran, kamu bisa dihubungi, tetaplah berada dalam lingkaran signal dan WLAN!
Selagi kamu siap materi dan mental, pasti bisa. Harapkan pertanyaan seperti “Kenapa kamu ingin bekerja di sini?Apa harapan kamu dari Praktikum ini?” datang dari bibir pewawancara.

Apakah saya akan digaji?

Tidak semua praktikan mendapat gaji terutama mereka yang diwajibkan dari sekolah atau kampus. Namun jika iya, pasti sudah langsung diutarakan oleh personalia saat wawancara. UMR di Jerman 8,84 Euro, namun itu nanti dipas-pasin juga dengan di kota mana kamu bekerja.

Jumat, 25 November 2016

Stereotip: Sepatu Nike, Donor Darah Sampai Cina yang Pelit


Suatu ketika saya jalan-jalan di jejeran toko di Hamburg. Sampai di toko sepatu saya berhenti dan masuk. Di rak Nike saya sisir teliti dengan mata, sampai mata terhenti. Sepatu berwarna coral itu duduk di atas rak dengan warna yang “tidak sabaran”, layaknya seorang atlet lari menanti aba-aba “Siap-sedia-ya”. Sebelum keburu menghayal tinggi, saya lihat harganya. Sedikit di atas 100 Euro. Layak. Lalu saya mendapati sebuah label di dalamnya yang membuat saya serta merta meragu. Bak kitab pedoman shopping, saya seperti dibisik sebuah “kebijaksanaan” yang entah sejak kapan ada di ingatan saya. Ini barang Cina (barang yang diproduksi di negeri Cina)!!! Hati-hati pemalsuan! Ini bukan Nike asli, sekalipun harganya “asli”!



Saya lepas seketika jemari saya dari sepatu itu, seolah ia bawa hama penyakit. Tapi lalu  kembali merampasnya tidak sabaran, saking penasaran dengan keasliannya. Sambil berharap mata saya cukup cerdik membedakan barang asli dan palsu, saya bolak balik si Nike, depan-belakang, dalam-luar, bawah-atasnya, lalu menelusuri dengan mata tajam setiap jaring serat yang terkukuhkan oleh “lem” di setiap sendinya: dari tangan kiri, oper ke tangan kanan. Adegan ini menunjukkan betapa phobianya saya dengan barang produksi Cina. Selama di Indonesia saya berkali-kali beli produk Cina, dan saya memang tahu dan sengaja: they are fake. Misalnya anting-anting berwarna emas, tapi bukan emas benaran dsb. Tapi ini Nike!!! Dengan harga di atas 100 Euro! Mana rela saya keluarkan uang sebanyak itu untuk barang Cina. Persepsi saya terhadap barang Cina ini, yang entah diciptakan kapan dan oleh siapa, bukanlah sesuatu yang secara sosial positif! Persepsi ini bisa merugikan kelompok yang bersangkutan, karena terlanjur dicap negatif. Persepsi ini disebut stereotip.



Menurut Wikipedia, Stereotip adalah penilaian terhadap seseorang hanya berdasarkan persepsi terhadap kelompok di mana orang tersebut dapat dikategorikan. Stereotip merupakan jalan pintas pemikiran yang dilakukan secara intuitif oleh manusia untuk menyederhanakan hal-hal yang kompleks dan membantu dalam pengambilan keputusan secara cepat. Namun, stereotip dapat berupa prasangka positif dan juga negatif, dan kadang-kadang dijadikan alasan untuk melakukan tindakan diskriminatif. Stereotip jarang sekali akurat, biasanya hanya memiliki sedikit dasar yang benar, atau bahkan sepenuhnya dikarang-karang. Asal mula stereotip adalah perbedaan yang dialami kelompok dengan kelompok lainnya; pola komunikasi tentang kelompok tersebut; dan konflik antarkelompok.  Berikut adalah contoh-contoh stereotip:

Ø  Barang Cina: pasti imitasi, murahan
Ø  etnis Tionghoa : pasti kaya dan pelit
Ø  Islam: pasti teroris (banyak orang barat yang berpikir begini)
Ø  Wanita berambut pirang : pasti bodoh dan penakut
Ø  Wanita yang suka berpakaian mini: pasti “murahan”
Ø  Guru: pasti jujur dan berakhlak mulia
Ø  Laki-laki: selalu pake otak, kuat, tidak pernah (tidak boleh) menangis
Ø  Perempuan: selalu pake perasaan, lemah, gampang meneteskan air mata
Ø  Insinyur: pekerjaannya laki-laki
Ø  Guru/pustakawati: pekerjaannya perempuan

Heyyy, memangnya kalian tidak pernah ketemu barang Cina yang bagus, orang Cina yang hidup sederhana dan murah hati, orang Muslim yang baik dan sangat berperikemanusiaan, cewek pirang yang cantik dan pintarnya ekstrim, cewek menor yang hatinya bersih, laki-laki yang menangis, perempuan yang berotot dan mandiri, insinyur perempuan, guru laki-laki?????

Bicara tentang stereotip, saya punya segudang cerita dari pengalaman sendiri. Dua hari lalu saya berdiri di antrian donor darah di sekolah saya. Hampir semua partisipan orang Jerman (ini saya nilai dari warna kulit mereka ya, entah mereka orang rantauan dari Polandia…who knows…). Tiba saat saya mau menunjukkan kartu identitas diri, saya sudah ditatap tidak simpatik oleh si wanita penjaga stand yang kerjanya gesek-gesek kartu di mesin aneh di depan batang hidungnya. Saya tanya, “Boleh tidak saya mendonor, jika berat badan saya 46 kg?” “Tidak,” jawabnya culas tanpa ampun. Serius, saya bukannya mematok nilai ramah tamah ala Nusantara ke beliau ini ya, tapi dia memang ketus banget terhadap saya. Saya pun angkat bahu dan balik ke kelas sebelum beberapa menit sempatkan diri baca “aturan main” donor darah di Jerman. Karena ini kali pertama saya, saya buta dan gelap tentang poin-poin yang harus ditaati. Saat baca, ada sebuah poin bilang, “Anda tidak berhak mendonor darah jika dalam 6 bulan terakhir ini berada di Asia Tenggara….dst dst dst”… Oh… saya paham. Dengan rating HIV/AIDS yang tinggi di tempat saya, tidak heran jika tatapan waspada tadi dilemparkan cuma-cuma ke arah saya. Lagi-lagi stereotip! Siapa yang mau “pakai” darah Asia Tenggara saya?


Contoh yang saya ceritakan di atas termasuk ke golongan stereotip yang negatif, jadi artinya ada yang positif juga (contohnya orang latin pintar dansa). Stereotip yang negatif selalu merugikan masyarakat yang bersangkutan, jika stereotip ini tentang etnis/suku/kelompok masyarakat tertentu. Stereotip tidak kenal individualitas, bro. Stereotip sapu rata! Stereotip sangat subjektif, kebenarannya bisa sampai nol persen!

Rabu, 23 November 2016

The Power of Kebetulan

Empat minggu lagi dari sekarang saya akan berlibur ke Indonesia selama tiga minggu. Kedengarannya banyak, tiga minggu, padahal kalau dihitung dengan cermat, itu bukan apa-apa! Waktu habis di jalan, kata orang Indonesia. Bagaimana tidak: terbang dari Hamburg-Munich-Doha-Jakarta- dan bermuara di- Kupang makan waktu dua hari (saya wajib harus mengunjungi orang tua dulu di Pulau Timor), lalu berziarah ke makam leluhur di Pulau Flores, mengurus “gudang” berjalan saya yang sudah dua tahun ini terlantar begitu saja di Jakarta, dan sebagai perjalanan penutup saya sudah janji dengan seorang sahabat untuk berlibur romantis ala gadis-gadis di Pulau Tidung, Kepulauan Seribu. Reuni-reuni kecil dan besar sudah saya set up, bahkan beberapa teman meminta saya menset-up kan karena kangen, yang mana susah untuk saya tolak. Pelesir kecil-kecil atau besar-besar sudah saya jadwalkan: di mana, ke mana, dengan siapa, kapan, bawa apa, nanti buat apa saja… Lengkap di notebook saya. Saya tidak bisa hidup tanpa rencana. Saya tipe yang suka listing. Ini tidak ada kaitannya dengan sifat pelupa. Lha, bayangkan saja kalau barang yang harus dibawa ada 10 biji, emang situ hafal semua, apalagi dalam bingkai travel, jadi Listing itu penting! Saya suka mendaftarkan per nomor poin-poin yang harus saya ingat/beli/bawa/cari, supaya saya tahu mana yang sudah ter-cross-check, mana yang masih menggantung. Secara liburan seperti ini tidak terjadi setiap tahun, enaknya kalau sekali pergi, pulang-pulang semua yang diharapkan berhasil terkumpul di bakul hehehe! Kecenderungan untuk planning dan/atau listing seperti ini bukan hanya terdapat dalam diri saya, tapi hampir semua manusia. Rencana sudah jadi bagian dalam hidup dan dunia. Dan memang tidak ada salahnya berencana!

Banyak Melihat Itu Memang Bagus, Semua Orang Juga Bisa. Tapi Banyak Mengalami Itu Lebih Baik.
Dinginnya Jerman membuat saya kangen pantai Indonesia yang sebiru batu safir. Sebagai pembalasan dendam, saya ingin sekali menghabiskan waktu dengan teman-teman di atas pasir pantai sambil bersenda gurau dan bernostalgia jaman di mana kita dulu masih unyu. Harapan ini lalu membawa kalender ke tangan saya, hampir setiap hari saya geser sana-sini tanggal-tanggal mainnya. Tidak menentu. Sudah saya tetapkan harinya, tiba-tiba teringat kendala biaya, saya hapus lagi, ganti tanggal lagi, ganti acara lagi. Saya jadi pusing sendiri. Hingga muncul pertanyaan: ini liburan atau tur seminar? Rasa-rasanya saya hampir-hampir tidak punya waktu untuk mneyeruput es kelapa karena tiket pesawat/kapal laut berikutnya sudah berdetak layaknya jarum jam di teling saya. Saya tidak mau menghitung hari atau jam atau menit pada saat saya berada dalam liburan. Bahwa Indonesia memang isinya pulau-pulau, itu sudah tidak bisa kita rubah, sodara-sodara. Artinya, kalau mau keliling-keliling pulau ya resikonya waktu habis. Semakin tua saya semakin paham: lebih baik banyak mengalami daripada banyak selfie!

Surprise Itu Tidak Selamanya Bad, Planning Itu Tidak Selamanya Under Control
Saya akhirnya temukan satu solusi: jangan berencana. Kalau pun harus, ya garis-garis besarnya saja. Maka saya tetapkan untuk tinggal masa bodoh dengan orang tua saya sampai muncul kesempatan atau tawaran berikutnya, ke mana saya harus pergi selanjutnya. Saya tidak mau waktu berkualitas kami harus diinterupsi oleh listing yang sudah saya patokkan sebelumnya. Setelah saya pikir-pikir, listing itu bisa saja malah jadi mempersempit kemungkinan datangnya kejadian-kejadian menarik lainnya ke lorong perjalanan saya, namun keburu kepotong si listing. Oh ya, bicara tentang lorong. Hidup dengan planning (jadwal/rutinitas) sama analoginya dengan Highway. Sudah jalannya mulus, diberi nomor lagi, mana mungkin nyasar! Tanpa planning? Analoginya seperti lorong dan gang: kau bahkan tidak tahu apa yang ada di ujung sana, apakah gang itu buntu, tak ada yang tahu; berapa cabang yang ada dalam lorong, jalani saja kalau mau tahu! Just let yourself be surprised! Tidak semua kejutan serta merta bawa bencana.

Sejarah manusia berencana itu simple saja: manusia selalu ingin pegang kendali, manusia berharap segala sesuatu semaksimal mungkin terjadi sesuai yang otak mereka bayangkan. Mereka lebih pilih jalur aman ini karena takut terjadinya kejutan-kejutan dramatis yang mengseluncurkan mereka ke kawah masalah sebecek lumpur dan selengket bubur. Tapi pengalaman saya mengajarkan, seberencana apa pun saya, tetap juga tuh terjadi “kebocoran”. Hanya karena otak kita tahu masa lalu kita, bukan berarti dia tahu masa depan kita. Listing yang otak kita sering catat, kerap disaring dari memori masa lalu. But please, Hidup ini jauh lebih luas dari otak kita choy, jadi keluarlah dari lisitng-mu hari ini, dan coba lakukan sesuatu yang berbeda, yang mungkin saja mengantarmu ke sebuah pencerahan atau inspirasi, bahkan revolusi!

Berikan kebetulan kesempatan untuk lewat atau mampir dalam perjalananmu!

Selasa, 22 November 2016

Napoleon Kompleks dan Krisis Tinggi Badan Ala Jerman

Sampai dua tahun yang lalu belum ada yang mengatakan kepada saya kalau saya bertubuh pendek. Kecil sudah, mungil sudah, imut sudah, pendek? Baru ketika saya tinggal di Jerman! Di Jerman ini semuanya diciptakan besar-besar. Rumahnya besar-besar, atapnya tinggi-tinggi, meja dapurnya tinggi-tinggi, lemari/rak mencapai atap, cerminnya tertempel tinggi di dinding, sampai kita benar-benar sadar: kita ini pendek sekali!

Secara orang Eropa rata-rata memang lebih tinggi dari orang Asia, orang Jerman apalagi! Yang saya maksud di sini adalah Jerman di mana saya tinggal: Hamburg. Ada sebuah mitos orang sini yang mengatakan, “Semakin ke utara, semakin tinggi-tinggi manusianya. Sebaliknya semakin ke selatan (ke arah Jerman bawah, Italia, Prancis, dst) tinggi badan manusianya semakin rendah.” Mitos ini sebenarnya tidak 100 % benar juga karena toh ada tuh orang Hamburg yang lebih pendek dari orang München! Tapi memang saya akui, menemui pria/wanita dengan tinggi badan 185 cm ke atas di jalanan Hamburg ini memang sudah bukan hal yang eye catching. Sejarah ziarahnya suku bangsa Viking (Skandinavia) ratusan tahun lalu ke si kota pelabuhan memang memainkan peran besar dalam evolusi tubuh manusia di Hamburg dan sekitarannya.

Di Kleine Mona (Si Mona Kecil/Pendek) : Nama panggilan = labelisasi
Sebagai orang Asia yang juga lahir besar di Asia, saya tentu tidak pernah merasa wajib gelisah dalam mempertanyakan tinggi badan saya: toh hampir seluruh suku bangsa saya tingginya seperti saya. Domisili saya di Jerman mengubah persepsi saya terhadap tubuh saya. Saya tadinya lumayan terganggu jika semua meja yang ada di mana pun tingginya melelahkan bahu kanan kiri saya. Namun kesadaran akan kecilnya tubuh saya ini masih terbilang normal, karena saya belum merasa ada yang kurang, atau bahkan ada yang salah dengan tumbuh kembang tubuh saya (yang mana sejak 8 tahun yang lalu sudah tidak saya pertanyakan lagi!). Sampai suatu ketika saya menyadari sesuatu: orang-orang di sekitar saya sering memanggil saya “Die kleine Mona” yang artinya “Si Mona Kecil/Pendek”. Kadang ada variasinya, seperti, “Na, da ist die kleine!” (Nah, itu dia si Kecil/Pendek!). Seruan ini saya dengar se-ti-ap hari. Baik oleh ‘orang-orang rumah’ maupun kolega kerja saya (Mendapati orang pendek di Jerman itu memang eye catching banget!). Saya akhirnya merasa seperti ditepuk di bahu, “Eh, Mona, kau itu kecil.” Coba bayangkan kalau kau dibilang kecil/pendek terus-menerus, lama-kelamaan kau jadi yakin bahwa kau memang kecil/pendek. Coba ini saya bandingkan seorang gadis yang tembem kalau sejak kecil dikasi nama panggilan “Eh Ndut!” dan setiap hari harus berkali-kali mendengar dirinya dipanggil dengan nama si Gendut, maka sampai kapan pun dia akan merasa dirinya gendut. Jika di Asia orang paling takut jadi gendut, di Jerman orang paling takut jadi kecil, dalam artian pendek. Dan yang saya pertanyakan, kenapa yah, nama panggilan itu selalu dicari dari kekurangan fisik seseorang. Coba lihat, mana ada cewek cantik sejak kecil dipanggil teman-teman sebangku sekolah dasarnya, “Eh cantik!”. Yang ada diamati dulu kelemahannya sampai ketemu. Tiba-tiba, “Eh Tukang Contek!”

Napoleon Bonaparte, Kaisar Mungil yang Menaklukan Eropa
Suatu ketika saya terlibat obrolan dengan seorang Jerman bertubuh 190 cm. Kami mengobrolkan seorang pria kecil yang mana tidak lain adalah mantan bapak kos saya sendiri. Beliau itu cerewet orangnya, selalu mencari pujian dan pengakuan, seperti pernah dia bilang ke saya, “Mona, saya ini dulu mudanya ganteng!” Ketika itu saya anggukan saja sambil tersenyum ala Asia. Tapi si bapak kos ini memang bukan jenis yang peka, dia malah semakin ngoceh tentang kelebihan-kelebihannya yang mana… saya harus tahu begitu. … Dia sama sekali tidak tertarik untuk tahu apakah saya tertarik untuk tahu itu! Yang penting ngomong tinggi sampai dipuji. Nah, menurut teori si Alfred Adler, psikolog yang menemukan sindrom pria kecil ini, perilaku haus akan pujian yang dilakukan oleh para pria bertubuh kecil di sebut Napoleon Kompleks.

Menurut Wikipedia, Napoleon kompleks adalah sindrom yang “diidap” oleh para pria bertubuh kecil dengan ditandai adanya perilaku sosial yang terlalu agresif atau mendominasi. Penemuan teori ini dinamakan menurut Kaisar Prancis yang sangat terkenal, Napoleon Bonaparte. Konon untuk mengimbangi kurangnya tinggi badannya yang kira-kira hanya 170 cm (untuk ukuran Eropa itu sudah termasuk kecil, apalagi untuk seorang kaisar!) adalah sebab mengapa ia bersikeras mencari kekuasaan, tahta, melepas perang dan penaklukan di mana-mana sampai Eropa selebar yang kita kenal sekarang.

source: https://northtexasdrifter.blogspot.de/2015/05/napoleon-complex.html


Kenapa Nenek Sihir dan Bukan Kakek Sihir?
Menurut si Pria 190 cm, mantan bapak kos saya itu absolutely mengidap Napoleon Kompleks. Saya memang sudah pernah dengar istilah itu, tapi saking sering si pria 190 cm mengecap orang-orang yang kami temui dengan label “Dasar Napoleon!”, saya jadi penasaran untuk meng-google pendapat para penduduk dunia maya tentang Napoleon kompleks. Saya pengen tahu, apakah itu mitos atau nyata, saya penasaran, berapa di antara mereka yang benar-benar yakin, seyakin si pria 190 cm, bahwa kompleksitas ini murni penyakit. Terlebih dalam lagi, saya mempertanyakan, kompleksitas ini jangan-jangan hanyalah fenomena yang muncul sebagai korban diskriminasi masyarakat. Persamaannya seperti sejarah wanita penyihir. Pernah dengar sebelumnya? Jadi konon, fenomena wanita penyihir atau kerap disebut nenek sihir itu muncul gara-gara wanita sering tidak dikasi podium di masyarakat, wanita banyak yang dikecewakan oleh kaum lelaki, diselingkuhi, ditinggalkan, cinta bertepuk sebelah tangan, dst… Dan si kaum laki-laki ini sialnya memegang posisi-posisi penting dalam masyarakat atau birokrasi, si perempuan semakin merasa tidak punya otoritas. Nah, untuk memenangkan/melampiaskan dendam/impian/harapannya, wanita mempelajari ilmu sihir, jadi dendam mereka terhadap diskriminasi masyarakat itu terbalas di situ. (Itulah mengapa penyihir itu biasanya digambarkan dalam wujud wanita; emang ada yang pernah dengar istilah ‘kakek sihir’?). Begitu ceritanya. Jadi kalau saya sinkronkan dengan teori Napoleon Kompleks, saya bisa tarik benang merah sendiri: Bagaimana si pria pendek tidak mati-matian unjuk kemampuan, jika di masyarakat mereka selalu dianggap si kecil/pendek, selalu diremehkan hanya karena kurangnya sekian centimeter di tubuh vertikal mereka, selalu dibandingkan dengan pria lain yang lebih tinggi, gagal meraih hati wanita pujaan karena si pujaan kawin lari dengan si yang lebih tinggi…. Mujurlah saya terlahir sebagai wanita, jadi menurut standar masyarakat saya tidak perlu tinggi-tinggi amat, toh menjadi model bukan ketertarikan saya. Syukurlah saya bukan si jenis kelamin yang diwajibkan oleh masyarakat untuk lebih tinggi dari lawan jenis saya. Tapi coba lihat para pria, yang mana dijadikan objek untuk teori kompleksitas ini. Mereka didiskriminasi, mereka disepelekan hanya karena fisik yang kurang sekian inchi view di atas kepala orang lain. Saya terus terang merinding baca komen-komen di halaman online itu, rasa penasaran saya menelantarkan saya di antara ratusan komenan sadis-diskriminatif tentang tubuh pendek para lelaki dan hubungannya dengan “ketimpangan” perilaku mereka. Para komentatornya mencaci maki pria-pria bertubuh kecil. Mereka dengan blak-blakan melabeli hal yang sama: haus pujian, lucu tapi kurang serius, bahkan tidak bisa diajak serius, hiruk-pikuk, haus perhatian, butuh pengakuan, dst, dst. Oke, wait, Bapak kos saya tadi itu memang nyata-nyata mengidap Napoleon kompleks. Namun hanya karena satu laki-laki yang saya temui seperti itu, bukan berarti saya harus melabeli semua pria pendek dengan cap yang serupa, kan?

Sebagai orang yang pernah ditolak bekerja di dua tempat, salah satunya di Pizza Hut, karena alasan tinggi badan yang tidak mencukupi, saya bisa (terpaksa) paham: Itu area professional. Namun di Jerman ini beda: tinggi badan jadi bahan sebutan sehari-hari. Rasa-rasanya terlahir pendek itu sama dengan terlahir cacat kira-kira begitu. Atau terlahir tanpa sebuah indra, atau apalah yang nilainya bisa bikin minus rasa percaya diri kita. Saya belum pernah sebelumnya ada di sebuah masyarakat di mana tinggi badan menjadi diskusi seringan snack, yang rankingnya berada tepat di samping cuaca (orang Jerman membicarakan cuaca sehari bisa 10 x). Lama-kelamaan saya memahaminya begini: orang Jerman ini punya krisis, namanya krisis tinggi badan.

Seperti analisis saya di atas, semakin seseorang dianggap/dipandang/dikatakan pendek, semakin ia membangun sebuah rasa citra diri bahwa ia MEMANG pendek. Dan menjadi pendek itu mengesalkan jika harus selalu dibandingkan dengan mereka yang lebih tinggi. Rasa kesal ini lantas lahir ke permukaan namun malah ditolak oleh masyarakat. Padalah yang membuahkan rasa kesal ini siapa kalau bukan si masyarakat itu sendiri? Mereka malah dengan pongahnya meluncurkan teori psikologi baru dalam hal kompleksitas, bernama Napoleon Kompleks. Haduh, masyarakat ini bodoh betul ya!



Selasa, 01 November 2016

Keterpaksaan Untuk Tahu (Part I)

Berapa di antara kita yang masih ingat selownya era di mana internet belum bermain dengan anak-anak desa. Sumber informasi kita hanyalah radio, televisi dan surat kabar. Sadarkah kita, bahwa zaman itu begitu indah, tenang dan damai?

Oke, kita barangkali akan “kebagian” jatah tenar sebuah lagu bertahun-tahun setelah ketenaran yang sebenarnya pertama kali meletus…
Kita juga bukan jadi yang pertama tahu kalau Si Band X dari Amerika konser di Jakarta bulan sekian, tanggal sekian, sehingga kita barangkali bisa menabung untuk menghadiri konsernya…
Kita juga bukan jadi orang pertama yang tahu, di dunia sedang gempar isu X atau doktrin Y…
Namun memang ada baiknya seperti itu, tertinggal dalam kedamaian.

***

Di smartphone saya pernah ada multi jenis media sosial. Deringnya per menit. Bahkan Line, bisa beberapa kali dalam kurun kurang dari semenit! Saya mengikuti beberapa akun yang membuat saya dikabari tiada henti jika ada yang baru dari mereka. Tiba-tiba Starbucks, “Beli sore ini pasti diskon!” Atau Plan Internasional, “Hentikan pernikahan dini di Indonesia!” dengan segenap fakta yang terlampir. Gmail saya juga demikian. Tiba-tiba muncul pesan dari ebay, “Mona, temukan barang yang paling dicari saat ini!” Dan dari Quora, “Bagaimana rasanya kerja di Microsoft?” dan seterusnya, dan seterusnya. Aliran informasi ini per detik, terkanal langsung dari penulis/pengiklannya, membuat saya merasa terkomunikasikan atau dipaksa menjadi komunikatif. Komunikasi searah atau dua arah, yang penting terima dulu informasinya! Kadang terasanya seperti babak belur info. Bagi penggemar Twitter, pasti lebih babak belur lagi di-hashtag sana sini.

Radio, televisi dan surat kabar cetak tidak bakal bisa menandingi kecepatan media online. Kelangsungannya, kecepatannya, dan kemultimediaannya membuat kita memasrahkan ketiga media konvensional tadi dan beralih ke online. Ada gambar, ada video, ada suara, ada feed back! Saling berkomentar adalah fasilitas yang sangat mungkin di dunia online. Jadi si penulis menulis, si pembaca beri masukan. Sikap responsif media online membuat massa jadi kecanduan. Semakin disuguhi informasi, semakin lengket mata pembaca ke layar computer/smartphone. Semakin cepat, semakin berkembang topiknya, semakin maju arah perbincangannya, semakin laku iklannya, semakin kuat dominasi internet terhadap kekaleman media konvensional. Kalem, lamban, kemayu, cupu, jadul: barangkali itulah kata-kata yang bisa saya “umpatkan” ke TV, radio, koran. Namun sadarkah kita, jika suatu waktu nanti kita justru akan membutuhkan “kekaleman” media ini?

Jika dulu kita duduk bersama di teras depan rumah dan menyanyi lagu kesayangan bersama radio dan sahabat akrab, sekarang masing-masing dengan headset dan mendengarkan lagu lewat Soundcloud. Jika dulu tetangga mampir ke rumah untuk baca koran sore, sekarang si tetangga duduk di toilet sambil baca detiknews di smartphone sekian inchinya. Jika dulu jam delapan teng seisi rumah berkumpul untuk menonton Indonesian Idol, sekarang masing-masing di kamarnya dan memutar ulang dari YouTube. Di manakah kebersamaan itu perginya? Menyatu bukan lagi berkumpul menjadi satu, tetapi berpencar satu satu.

-bersambung


Jumat, 28 Oktober 2016

Apakah saya seorang Scanner atau Diver (Part II-End)

Scanners love to read and write, to fix and invent things, to design projects and businesses, to cook and sing, and to create the perfect dinner party. Mereka memiliki aneka ragam interest dan hobi yang warna-warni. Mereka selalu ada dalam pergerakan: sebelum sesuatu mereka tuntaskan, tampaknya Scanners sudah mendarat ke hal berikutnya yang menarik perhatiannya. Menjadi Expert bukanlah tujuannya sejak awal. Dia justru berpikir: Menjadi ahli berarti membosankan, sama saja dengan mengikuti satu hal yang sama seumur hidup dan menyangkali 999 hal menyenangkan lainnya.

Tipe Scanners yang jarang dijumpai dalam masyarakat membuat ia sering dianggap remeh bahkan tidak ditoleransi, terutama oleh pemberi kerja. Bagaimana tidak? Curriculum vitae seorang Scanner terlihat begitu tidak fokusnya sehingga si calon bos berpikir ia tidak akan setia bekerja di perusahaan tersebut. Seperti yang kita semua tahu, semua pemberi kerja berharap merekrut karyawan setia yang setidaknya bisa bekerja sampai 30 tahun… Scanners? Dengan resume yang “zig zag” tampak seperti seorang drifter (tersesat ke sana kemari)? Setahun jadi tenaga marketing, kemudian jadi guru, lantas tiga tahun kerja sebagai pemandu wisata, eh, sekarang melamar sebagai tim kreatif pada sebuah perusahaan organiser. Kebanyakan mereka ditolak: dituduh sebagai karyawan yang kurang loyal, bukan tenaga yang expert di bidangnya, tidak komitmen terhadap tugas, dsb, dsb… Sementara itu, menurut Sher, Scanners bukanlah Drifters, mereka justru Adventurers. Scanners menyukai petualangan, mereka menyukai hal baru dan menyingkap tabir misteri (While scanners explore the world broadly, divers explore in depth.) Mereka memiliki rasa penasaran yang naif terhadap segala sesuatu yang menarik perhatian mereka.

Membaca artikel ini saya merasakan epifani: ternyata there’s nothing wrong with me. People Like me do exist. It is totally normal being me as a scanner. Jika membandingkan dengan teori ini, saya adalah seorang Scanner. Saya lulusan pendidikan (pedagogik), pernah mengecap beberapa pekerjaan yang tidak ada hubungannya sama sekali dengan latar belakang pendidikan saya, pernah bekerja sebagai  guru bahasa Inggris dan Jerman, lalu asisten dokter gigi, di saat yang bersamaan blogger dan pelukis. Dan sejak lima tahun terakhir I started taking pictures, karena fotografi adalah bidang yang sangat menarik saya. Bukan hanya di dunia pendidikan dan pekerjaan ciri Scanners dalam diri saya bisa terlihat, di bidang lain pun bisa dengan jelas. Contohnya di usia 17 saya benar-benar ingin belajar main gitar, saking saya menyukai Avril Lavigne (dan belum lagi kecintaan saya terhadap gitaris Andra Dewa 19, Izzi Stradlin dan Zynyzter Gates). Setelah susah payah mengumpulkan uang, saya akhirnya membeli sebuah gitar akustik. Sampai hari ini saya tetap saja tidak tahu cara memetik gitar. Seiring waktu, hal yang sama terjadi pada selera musik saya. Saya menyukai rock, blues, lalu merambat  ke jazz, mendarat di reggae, ska, yang pasti soul, RnB, hip hop, latin, pop, dan ujung-ujungnya dangdut. Teman, sahabat, kenalan saya terdiri dari berbagai jenis golongan yang mana kalau saya pikir-pikir, kadang sampai harus kagum, kok kita bisa nyambung. Bahkan domisili saya pun menunjukkan kalau saya seorang scanners. Saya pernah berdomisili di beberapa pulau yang berbeda yang membuat saya bisa paham/berbicara beberapa bahasa/dialek lokal. Sebagai seorang yang menyukai bahasa, saya berbicara fasih dalam tiga bahasa nasional, dan sedang belajar Bahasa Spanyol. Dulu saya pernah dicap seorang kolega sebagai si tukang Escape, sedangkan baru-baru ini seorang teman pernah melabeli saya YOLO (You Only Live Once)-Type. Dia mengamati saya yang sering merasa dunia ini terlalu besar dan berwarna, tapi saya hanya hidup sekali, usia saya tidak akan lebih dari kurun seratus tahun, I need to grab more and fast before it is too late, cause I’m dying to experience them all!
Pure as a melody, pure as I wanna be…
All I wanna be, oh
All I wanna be is everything
everything at once…


Saya pernah ada di suatu titik di mana saya sempat berpikir: Jangan-jangan saya nanti tidak bisa apa-apa dengan sangat baik dan mapan, karena keseringan ganti hobi dan interest. Saya sadar, saya berbeda. Bahwasanya orang-orang di sekitar saya cenderung homogen: kalau pengennya itu ya itu saja, ditekuni habis-habisan sampai lihai dan professional. Namun menurut buku Barbara Sher, jika dunia memahami dan menerima spesies Scanners ini sebagai eksis dan normal, justru mereka akan menjadi tenaga handal dalam dunia jaman sekarang yang penuh perubahan dan dinamis nan dramatis. Dengan kemampuan dan background mereka yang heterogen, seorang pemberi lapangan kerja bisa memanfaatkan ini ke kreativitas yang benar-benar positif dan inovatif.

Apakah saya seorang Scanner Atau Diver? (Part I)

Ketika kecil saya suka melukis. Karena melihat bakat menggambar saya, ibu saya membelikan cat air dan perlengkapannya. Saya bahkan sempat memenangkan lomba melukis tingkat kabupaten. Tidak lama kemudian saya jatuh cinta dengan menjahit. Lagi-lagi terinspirasi dari ibu saya yang dulu sempat menekuni bidang garmen. Saya sempat menjahit pakaian Barbie, membuat sebuah boneka dan menempel nama saya di bantal kepala. Di saat yang bersamaan saya suka menggunting-gunting kertas, melipat, membuat hiasan, tempat pensil atau apa pun itu. Singkatnya basteln (bahasa Jerman untuk aktivitas menggunting-melipat-menempel). Kalau Anda punya anak putri seperti ini bayangkan seperti apa rumahnya? Berantakan. Jelas.

Ibu saya sering marah-marah karena sebelum menyelesaikan satu “proyek”, saya sudah membanjiri diri saya dengan “proyek” lainnya. Belum selesai melukis, saya masuk kamar dan gunting majalah sana-sini.  Belum kelar rajutan saya, saya sudah minta bantuan ibu saya untuk mengajarkan saya nyanyi. Oh ya, by the way ibu saya pintar nyanyi. Sebenarnya sih dia bisa banyak hal—dengan sangat professional malah— dan “sayangnya” saya mewarisi itu. Tapi ibu saya tidak memahami kenapa saya suka tidak tuntas mengerjakan sesuatu. Dia selalu bilang, “Mona, kamu itu tidak telaten.” Dan karena alasan ini, beliau pernah bilang, “Kalau saya ajarkan kau nyanyi, nanti baru sampai nada mi kau sudah bosan. Kalau mau belajar sama mama harus tuntas, tidak main bosan-bosanan!”  Mama saya bukannya sedang jahat, dia hanya sedang bingung saja—layaknya orang tua “normal”—barangkali pikirnya “Ini anak kalau tipenya begini, jangan-jangan sekolah pun tidak akan tuntas.” Itulah sebagian gambaran masa kecil saya. Saya punya beraneka ragam hobi. Mulai dari indoor (basteln) sampai outdoor: memanjat pohon, menangkap kupu-kupu, jalan-jalan ke hutan, memancing… Saya sampai tidak bisa bilang, saya suka mana lebih daripada yang mana.

Hobi adalah benih dari cita-cita. Karena sejak kecil gemar membaca buku, saya sangat ingin menjadi penulis buku. Tapi cita-cita pertama saya justru menjadi pembaca berita. Masih ingat Desi Anwar? Ya, yang itu, acara berita Nuansa Pagi! Siapa yang tidak ingat kharismanya saat membaca berita. Saya dan sang ayah yang tidak pernah alpa setiap pagi menonton acara di RCTI itu, sangat memuja pesona smart ala Desi Anwar, sampai-sampai sang ayah sempat sangat berharap saya menjadi seperti sang bintang jurnalistik idola. Di masa sekolah dasar saya tiba-tiba ingin menjadi polwan, lalu pernah ingin jadi dokter… bahkan astronot, yang mana sempat menjadi karya lukis saya. Hhh, saya sendiri kadang pusing jadi pribadi yang banyak maunya.

Sampai di sini kalian akan mulai mengambil satu kesimpulan sederhana: saya orang yang tidak fokus terhadap satu hal, saya tidak konsisten, tidak komitmen, saya suka mengganti-ganti. Tapi saya mendefinisikan diri saya dalam kosakata yang nadanya positif: saya hetero, saya adalah garis zig zag, saya dinamis, saya tidak statis, saya eksploratif, saya adaptif, saya fleksibel terhadap perubahan, saya kreatif, variatif, saya lebih dari 50 gradasi abu-abu—bukan berarti saya tidak pegang prinsip. Prinsip saya itu tadi: mobilitas. Tapi jujur saja, saya terang-terangan akan menjauhi rutinitas, menghindari monotonitas dengan alasan itu penjara, perangkap atau takdir.

Secara kebetulan saya membaca di internet sebuah referensi buku psikologi yang ditulis oleh Barbara Sher, “Refuse To Choose” (2006). Buku ini memperkuat keyakinan saya bahwa saya bukannya “tidak normal”, saya hanyalah spesies yang belum dideteksi oleh dunia. Jadi, dalam buku ini, Sher membagi jenis manusia ke dalam jenis The Divers dan The Scanners. Penjelasannya seperti di bawah ini.

The Divers
The Divers adalah tipe yang perfeksionis. Ciri mereka bisa dijumpai pada para musisi, ilmuwan, atlet, penari, programmer. Seperti arti namanya, Penyelam, mereka akan menyelam sampai ke dasar, hingga menemukan keutuhan dari bidang yang mereka tekuni. Mereka ulet, setia, tekun di suatu bidang yang sama, hingga kemampuan mereka di bidang itu tajam terasah. Mereka adalah expert di bidang tertentu dan tidak akan puas jika hanya disuguhkan “permukaan” saja. Mereka terkadang juga hanya memiliki satu atau dua long-life hobi yang mana mereka jalankan dengan telaten. Menurut Sher, mayoritas populasi di dunia adalah tipe Divers.

The Scanners
“To scanners, the world is like a big candy store full of fascinating opportunities, and all they want is to reach out and stuff their pockets. It sounds wonderful, doesn’t it? The problem is, Scanners are starving in the candy store.” tulis Barbara dalam situs http://www.getmotivation.com/articlelib/articles/barbara_sher_scanner.html Terkait dengan tema ini, sebuah situs pernah memaparkan, Scanners tidak takut gagal, Scanners hanya takut bosan. Mereka mencoba ini itu, layaknya si tukang cemil: banyak makan tapi tidak akan merasa kenyang yang sesungguhnya.

Profesi The scanners biasanya pustakawan, filmmakers, guru, manajer, dsj. Jika kita bandingkan terhadap Divers, Scanners cenderung menyentuh sesuatu di permukaan saja. Mereka menyukai banyak hal, bahkan dalam waktu yang bersamaan. Mereka tidak pernah takut mencoba, justru mereka takut untuk tidak mencoba hal baru. Kenapa? Mereka takut missing all that fun!

Jika kamu hampir selalu menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas dengan "Ya", kamu bisa masuk dalam golongan The Scanners.