Kamis, 18 Oktober 2018

SOLO TRIP


Kamu yakin, kamu mengenal dirimu dengan cukup baik?

Kamu adalah dirimu yang selama dua puluh tahun belakangan ini selalu berada dalam bundaran akrab yang kamu kenal, dan bundaran akrab ini mengenalmu dengan sama baiknya.
Pernah nggak, kepikiran, seperti apa versi dirimu ketika ia berada seorang diri di tempat asing yang sama sekali tidak kamu kenal. Dan seasing apa pun mereka di matamu, kamu sama asingnya di mata mereka.
ditemukan di "Aleph" oleh Paulo Coelho

Melarikan diri untuk menemukan diri sendiri. Bagaimana kalau kamu meninggalkan semua yang sudah kamu kenali bertahun-tahun untuk berada di tengah keterasingan seorang diri? Travelling sendiri tidak hanya membawa kita mengenali dunia di luar sana, tetapi juga mengenali siapa sebenarnya penduduk yang bernaung di dalam diri kita. Dan percaya deh, kesempatan ini emas, tidak akan ada lagi chance seumur hidupmu yang akan menawarkan kebebasan dan ketidakbergantungan ultimativ yang menyenangkan seperti ini.

Bulan Mei yang lalu untuk pertama kalinya saya melakukan solo Trip, mimpi yang sudah saya tabung bertahun-tahun. Saya memiliki daftar negara favorit untuk dikunjungi dan Ceko adalah negara yang paling membuat saya tidak bisa menunggu. Praha adalah ibu kota tua, indah dan romantis, kata orang, dan saya tidak tahan ingin segera membuktikannya. Kebetulan letaknya hanya 600 KM lebih dari Hamburg (kayak dari Jogja ke Banten lah) dan tidak butuh visa untuk ke sana karena saya memiliki residence permit Jerman.

Apa kata Dunia?
Kollega-kollega kerja melototi saya selebar-lebarnya, tidak percaya, terlebih karena pada saat itu saya sedang berada dalam sebuah hubungan yang serius dengan mantan pacar saya. Mereka tidak habis pikir kenapa saya harus bepergian seorang diri! Ada yang segera menggunjingkan retaknya hubungan kami, ada yang memfitnah diam-diam bahwa saya punya kekasih gelap di Praha!!!! Menyedihkan bahwa manusia bisa senaif itu. Jenis naif yang tidak mereka sadari melukai hati orang lain. Terserah, tekad saya sudah bulat dan saya berangkat!

Dengan pundi-pundi yang setengah penuh saya menyeberang negara dengan bis termurah yang hotspot terjanjinya harus saya ikhlaskan untuk 50 penumpang lainnya.  Saya sengaja menumpang bis malam supaya saya bisa beristirahat, hemat hostel dan hemat waktu. Delapan jam kemudian saya terbangun di sebuah terminal bis, jam di hape saya mengatakan bahwa saya telah tiba.  Pertama-tama saya harus mencari Money Changer, saya termasuk klub manusia vintage yang menyukai uang kes dan menukar mata uang supaya saya merasakan rasanya memegang valuta asing, lagipula Kartu giro saya menunjukkan saldo yang stabil di angka nol. Seketika Euro di tangan saya berubah menjadi Koruny. Nolnya banyak, memberi perasaan seolah-olah kaya selama beberapa mili detik lalu saya tersenyum karena di Indonesia saya „lebih kaya“ lagi.

                                                                      ∞ ∞ ∞

Saya memang suka melamun! Dan saya sering tenggelam dalam pikiran saya sehingga saya lupa mengajak teman seperjalanan saya untuk mengobrol. Ini pernah saya alami sebelumnya, beberapa kali, sehingga saya tobat. Dunia luar memiliki sudut-sudut unik dan tersembunyi yang memancing rasa penasaran saya, dan saya tidak bisa membagi pikiran ke dua arah yang berbeda, saya hanya ingin di antara saya dan dunia itu hanya ada keheningan untuk direnungkan—bukan seorang teman seperjalanan yang tersinggung jika tidak diajak bicara.

…Saya juka suka tersesat. Solo Trip is all about discover!

Saya sudah terbiasa berjalan di jalanan Hamburg menurut orientasi yang ditunjuk oleh Google Map, serta embel-embel di jalan mana terdapat kafe dan bar apa, plus referensi para pelanggan yang pernah icip-icip di sana, apakah Saos Tsatsikinya lezat atau tidak, apakah birnya enak atau tidak, apakah meja kicker-nya berfungsi dengan bagus atau tidak, musiknya, pelayanannya, dst…. Itu mah bukan Discover namanya! Kalau kamu sudah dikasih tahu terlebih dahulu apa yang akan kamu hadapi. Saya suka membiarkan kaki saya membawa saya ke mana pun mereka mau. Ketika di Praha, saya sama sekali tidak punya internet, and that‘s where the story begins! I did get lost many times, but i had plenty of time for that and that was what that trip all about, to discover!

Wisata pernah?
Secara pribadi, saya anti wisata pernah. Menapaki bekas injak orang lain itu seperti jenis recycling yang mengurangi dosis kenikmatan dan kebahagiaan, contoh: teh celup yang dipaksa dicelup ke cangkir ke dua dan ke tiga.  Hanya karena orang-orang pergi ke Praha dan melakukan ABCD, bukan berarti saya pun harus melakukan itu, untuk mendatangi hal yang sama, menelusuri jalan yang sama hanya untuk mengunjungi tumpukan batu yang sama. Inilah keistimewaan Solo Trip, kamu memiliki kebebasan mutlak untuk tersesat sesuka hati, atau sesuka perut, atau sesuka dengkul. Solo Trip lebih asik tanpa semeter daftar kunjungan yang harus dicentang. Wisata pernah? Tidak, terimakasih!

Setiap kali saya bepergian seorang diri, seolah-olah saya memiliki kompas di suatu tempat di dalam diri. Atau yang saya sebut mata kaki. Karena basis saya adalah „mata kaki“, saya bersyukur bahwa pada momen-momen tertentu, di mana saya sedang asyik-asyiknya mendalami yang saya lihat, tidak ada suara di samping saya yang berkata, „Cari makan yuk“ atau „Balik ke hostel yuk, sudah capek keliling-keliling!“
kalau bukan minta orang asing memfotokan, Foto di depan kaca ;)

Traveling antarnegara seorang diri, apalagi perempuan, pasti membuat ragu di hati. Tapi ngapain takut?  Solo Trip memperkuat kepribadian kita, memperkaya tak-tik dan membuat kita semakin tangguh. Kenapa harus malu? Solo Trip menunjukkan kepada dunia bahwa kamu petualang yang berani dan cerdas (karena sendiri di tanah yang asing itu butuh independensi, nyali dan kecerdasan untuk survive), You are the Wander Woman, Girl!!!

Tips dan Trik

1.      Mulai dari cara pandang diri sendiri
     Sebelum mengangkat wajah dan menatap dunia, tunduklah dan tataplah dirimu.  Siapa yang kamu lihat di sana? Semoga bukan Disney Princess, tetapi bintang DC, Wonder Woman!  Because you are the Wander Woman!

2.      Latihan dulu.
    Berada sendiri di tempat yang asing apalagi negara asing yang tidak berbicara bahasa yang sama maupun Internasional memang bisa bikin kewalahan, oleh karena itu awali solo trip mu dari step paling kecil dengan jarak, luas dan jangka waktu yang logis, misalkan mulai dari negara atau kota dengan luas 200-450 KM², dan jangan langsung dua minggu sendirian ke pedalaman yang tidak ada sinyal selularnya, atau malah ke benua lain!! Awalilah dengan weekend escape di sekitaran kota/negara tetanggamu.

3.      Berhenti mengasihani diri sendiri
    Jika kamu kesusahan menemukan hostelmu, atau tersesat bertubi-tubi, muter-muter di kompleks yang sama berpuluh-puluh menit, dalam udara dingin, atau harus naik turun bukit untuk bisa sampai ke sebuah tujuan, atau kelaparan tengah malam dan tidak punya apa pun untuk mengenyangkan, Plis deh jangan lebay, tidak pakai termehek-mehek. Pelajari tak-tik supaya kesalahan sepele tidak terjadi, antisipasi meraungnya lambung dengan cara singgah ke supermarket saat jalan-jalan di kota, tidak peduli semalas apa pun kamu saat itu untuk menggotong pulang sebatang pisang (misalnnya).

4.      Jika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana malah mendatangkan kejutan yang tidak diperhitungkan sebelumnya, jangan keburu putus asa, lompatlah sejauh-jauhnya ke setidak-tidaknya lima tahun yang akan datang: kamu akan melihat kembali ke hari itu dan menertawakannnya bersama teman-temanmu.

5.       Analoginya seperti lensa kamera! Zoom in saat momen-momen indah terjadi, rekam dekat-dekat, sebaik-baiknya, resapi, dan zoom out saat everything seems to be going wrong.

6.      Bawalah Internet di handphone mu, tapi hanya gunakan kalau memang benar-benar perlu, misalnya kamu tersesat padahal kamu harus buru-buru ke stasiun kereta.

7.      Solo Tripping tidak hanya untuk mereka yang single. Kalau pacar kamu mau ke ke selatan, padahal kamu mau ke utara, jangan dipaksakan, karena hanya akan jadi kenangan yang berat sebelah. Cobalah berpisah arah untuk sejenak, dan kembali untuk bertukar cerita yang menarik dari hasil petualangan solo kalian, itu akan memperkaya hubungan kalian dalam hal musyawarah dan kesalingpercayaan.

8.       Tinggalkan yang berat-berat di rumah, keluarkan yang tidak perlu dari dalam ransel, sebagai gantinya Packing rasa penasaran yang besar ke dalam backpack kamu dan bawa ke mana pun kamu melangkah!  Dan kamu sedang melangkah melewati sesuatu yang tadinya kamu lihat sebagai tirai pembatas antara dirimu dan dunia luar, ternyata hanyalah batasan-batasan abstrak yang tadinya membatasi dirimu dari dirimu sendiri.

9.       Bantal leher! Saya tidak tahu apa Bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk ini, tapi kamu pasti tahu maksud saya. Iya, tepat, bantal berbentuk huruf U yang diselipkan di belakang tengkuk saat kita melakukan perjalanan darat dengan mobil, bus atau kereta. Itu selalu saya bawa-bawa, mungkin kelihatannya ribet dan menuh-menuhin, tapi hey, jangan sepelekan tulang dan sendimu! Bantal jelek itu bisa menyelamatkan mood, serius!

10.  Kamu suka Instagram? Kamu suka memposting rupamu dalam outfit terbaikmu? Kamu suka difoto di tempat-tempat wisata? Jangan bawa kaos atau rok atau topi atau beha atau apa pun itu yang belum kamu testdrive! Lebih baik bawa sesuatu yang sudah tubuh kamu kenal baik dan nyaman dipakai sehingga tidak sia-sia dibawa namun tak dipakai.

Saya tidak perlu menunggu bukti kesuksesan Solo Trip saya di Praha, untuk membuat saya merencanakan The Next Solo Trip. Karena kenyataannya itu sudah selalu ada di kepala saya. Setelah mencatat beberapa pelajaran berharga di kepala, empat bulan kemudian saya terbang ke Budapest. Apa yang sebenarnya menimpa saya di Praha dan seperti apa Episode Solo Trip #2 di Budapest akan saya cerita di Solo Trip #2. Apakah yang saya sebut sebagai kesuksesan di Praha adalah kesuksesan yang kalian bayangkan di kepala kalian? Apakah saya tidur di tempat yang wajar di Praha? Apakah saya melakukan hal-hal yang pantas di Budapest? Apakah saya kelaparan atau tidur di jalan? Dan yang paling penting, pelajaran apa sih, yang saya dapat dari Solo Trip ini selain  independensi yang sudah saya tera di atas? Tunggu saja.

Jumat, 07 September 2018

10 Alasan Kenapa Saya Suka Musim Panas


Musim panas di Jerman dimulai secara resmi pada 1 Juni-31 Agustus. Hamburg, tempat saya tinggal, adalah kota abu-abu yang senantiasa diselimuti hawa dingin, butuh 3 kali winter untuk membuat saya tidak lagi harus menggerutui dinginnya Hamburg karena belum terbiasa. Tahun ini musim panas tiba sedikit lebih awal dan benar-benar hangat, tidak seperti yang saya kenal di Hamburg 3 tahun belakangan ini.  Sekarang musim gugur menjelang, weil ich in diesem Sommer schon so viel Spass hatte!

1.      Kuteks!
Oh yaaaa!!!! Sudah jelas, bahwa karena hangat, kita terbebas dari sweater wol yang berat-berat. Rok mini? Bikini? Martini? :D Tapi favorit saya adalah kutek, obviously. Karena it doesnt make sense pake kuteks di saat Winter, karena pertanyaannya cantik atau menggigil?

2.      Go outside and grill
Musim panas memang musim sosialisasi. Orang Jerman paling suka grill pada musim panas, bisa dilakukan di balkon rumah, halaman belakang, atau di taman kota. Paling seru kalau dengan keluarga atau teman-teman. Ini memang ajang berkenalan orang baru yang dibawa teman kita atau memperdalam keakraban di antara sesama teman.

3.      Bebas depresi gelap
Mungkin terdengar asing, tapi depresi gelap memang benar-benar eksis, kalau kita bicara tentang sinar matahari, vitamin-vitaminya, terutama Vitamin D, seperti yang pernah saya ceritakan di postingan yang lalu di sini!, kalian bisa cukup dapat bayangan di mana letak hubungannya. Matahari pada musim semi memang sedikit lebih panjang daripada musim winter, tapi pada musim panas akan lebih lama lagi bersinar, sekita jam 4 pagi itu sudah terang dan baru akan terbenam malam banget. Singkat kata, terlalu terang untuk murung :)

4.      Festival/Karnaval dan open airs!
Ada bioskop outdoor, teater, konser, dsb…. Paling sering diadakan di saat musim panas dan asyiknya yaitu kita bisa pakai pakaian setipis apa saja, minum apa saja yang dingin ataupun yang hangat tanpa harus menderita. Favorit saya adalah open air theater atau yang bahasa Jermannya Freilufttheater. Kapan-kapan saya tulis lah, open air theater yang pernah saya tonton di Hamburg dan sekitarnya :D

5.      Piknik

Selembar kain tikar dan sekantong Chips di bawah pohon cukup untuk sore hari yang menenangkan pada suatu hari musim panas. Sendiri, berdua atau berkelompok sama-sama menyenangkan.

6.      Semua olahraga air


No question! Mulai dari berendam, renang, selam, snorkeling, sailing, surfing, Canoeing, stand up paddling, boating, wake boarding, dan seterusnya.

7.      Makan es krim terasa logis
Mau kapan lagi?

8.      Bintang kecil di langit yang hitam.
Pada musim panas langit malam lumayan cerah untuk memamerkan berlian kerlap-kerlipnya di angkasa. Saya suka melihat bintang-bintang itu dan mengenali banyak di antaranya, yang sudah sering saya amati sejak kecil, dan setiap kali saya harus mengalami gelombang nostalgia yang bisa bikin setengah termehek-mehek. They are so beautiful.

9.      Late night outside
Begadang? Minum bir? Udud? Party? Sekedar ngobrol? Bisa dilakukan sampai tengah malam di luar tanpa takut dingin ­čśŐ Dan berhubung matahari baru terbenam sekita jam 9.30, energi kita selalu terjaga seolah-olah masih jam 4 sore.

10.  Fenster auf!
Berkendara mobil? Tidak takut buka jendela untuk membiarkan angin segar masuk. Di musim dingin atau semi angin masih dingin sehingga praktis menjadi musuh modus pewe.



Kamis, 29 Maret 2018

Susah Payah Menjadi Au-Pair di Jerman



Sebagai mahasiswa jurusan Pendidikan Bahasa Jerman, kata au pair bukan lah sesuatu yang asing di telinga. Saya kenal banyak teman/adik/kakak tingkat yang sudah/sedang mengantongi pengalaman ini. Meskipun begitu, saya juga ingin tegaskan bahwa untuk jadi au pair, orang tidak perlu ke bangku universitas. Banyak juga yang menempuh jalan lain, misalnya lewat agen-agen au pair.

Jaman di kampus dulu, saya suka menerawang, membayangkan bagusnya kesempatan ini jika dapat saya raih. Saya sudah susun rencana setelah au pair: pengen kuliah master di Jerman. Mimpi ini ternyata tidak selurus penggaris. Hingga hari ini pun saya masih belum berstatus mahasiswa, meskipun kontrak au pair saya sudah saya arsipkan 3 tahun yang lalu.

Saya menulis artikel ini bukan untuk menakut-nakuti siapa pun, saya hanya ingin berbagi pelajaran yang saya dapat. Tidak semua au pair cukup beruntung untuk mendapat Gastfamilie yang bagus dengan wish list yang di cross-check dari A-Z… Misalnya ada au pair yang ongkos kursusnya dibiayai 100 % oleh sang Gastfamilie, ada yang dikasi karcis bus dan kereta gratis, dikasi pulsa, difasilitasi mobil untuk dikendarai sendiri saat menjalankan dinas (baca: antar-jemput anak), dikasi laptop, dikasi handphone, kerjanya hanya 2-3 jam sehari, tinggal di pusat kota dan bebas kejenuhan, dibawa berlibur ke Dubai dan dikasi kamar hotel sendiri, dsb… Ada pula yang….seperti saya.

Tips untuk tidak jadi au pair yang macam saya juga sudah saya cantumkan di bawah sana J

Januari 2015 saya mendapat konfirmasi dari sebuah keluarga bahwa mereka menginginkan saya menjadi au pair. Senang! Di Profil mereka di website pencomblangan au pair-GF (baca: Gastfamilie) itu tercantum bahwa mereka memiliki empat anak (7,5,4,3 tahun usia mereka). Keempat-empatnya harus saya “asuh”. Oke, saya memang penyuka anak-anak! Pada akhirnya memang dari keempat anak itulah saya belajar dasar-dasar karakter orang Jerman. Misalnya saya jadi tahu kenapa mereka sangat mandiri dan bertanggung jawab. Well, lanjut. Maretnya saya berangkat. Keluarganya tinggal di sebuah kompleks perumahan di sebuah kota kecil. Saya memang penyuka kota kecil, semakin kecil saya semakin suka. Jenuh terhadap kecilnya sebuah kota belum pernah jadi dilema saya, namun kalau kangen kampung halaman, jenuhnya terasa! Melihat manusia (asing) lewat di jalan saja sudah senang, kira-kira begitu.

Itu tadi setting tempat, sekarang langsung saja ke babak belurnya. Sejak di Indonesia saya sudah dikirimkan jadwal kerja lewat email. Saya baca, cukup fair. Atau lebih tepatnya saya tidak tahu saat itu, idealnya fair itu kayak apa, dan apakah itu masuk akal... Menurut jadwal itu: Senin-Jumat itu hari dinas saya. Tiap hari, jam mulai dan jam berakhirnya beda-beda. Sebagai contoh, Senin jam 6.45 -14.00 dengan satu jam Pause sekitaran jam 9 atau 10 pagi, Selasa beda lagi, dst... Isinya mencakup menyiapkan sarapan untuk keluarga dan bekal buat si anak cowoknya (7 tahun), merapikan dan membersihkan meja makan setelah sarapan, piring dan perkakas kotor lainnya dimasukkan ke mesin cuci, menyedot kotoran di ruang makan, dapur dan koridor, setrika, jika mesin cuci sudah selesai: mengeluarkan perkakas makan dari mesinnya dan merapikannya ke laci-lacinya, menyiapkan makan siang untuk anak-anak, diakhiri menjemput ketiga anak gadis dari TK. Kelar. Ini benar-benar saya kutip dari hitam-di-atas-putih, ya.

Implementasinya sebagai berikut. Saya bekerja hampir tanpa istirahat sampai jam 19.00. Jika saya ada waktu luang, anak-anaknya minta ditemani main. Saya tidak bisa tolak. Mama-Papa mereka kerja seharian. Jam 8 pagi pergi, baru tiba rumah nanti jam 17.30/18.00. Selama itu masakan saya mempercayakan si bocah tiga tahun itu turun naik tangga sendiri? Saya ingin total kerja, saya jagalah anaknya, alhasil saya jadi sangat lelah karena lembur. Belum lagi hampir tiap hari saya siapkan mereka makan malam juga. Memang sih makannya dingin (tanpa tindakan masak-memasak: roti-rotian), tapi itu semua tenaga guys! Habis itu saya rapikan lagi mejanya, repeat! (lihat proses sarapan pagi deh!)

Dan nomor “setrika” yang tercantum di skejul ternyata ada plus-plusnya: saya juga harus mengganti seprei dan sarung bantal anak-anak (kalau tidak salah seminggu sekali), memasukkan pakaian kotor ke dalam mesin cuci, setelahnya ke mesin pengering pakaian jika tidak digantung di… apa ya nama benda itu dalam Bahasa Indonesia? Kalian tahulah yang saya maksud…Lantas kalau sudah kering yang perlu disetrika harus saya licinkan, dihanger/dilipat, dibawa ke kamar mereka, dst… Aduh, tugas saya itu kalau diinventaris tidak ada habisnya! Nanny merangkap babu lah kira-kira.

Ada lagi nih, “mengganti popok si bocah 3 tahun” adalah tugas yang tercantum pada hari selasa. Logikanya kan itu bisa terjadi pada hari apa saja! Lembur lagi, tenaga lagi, waktu lagi!

“Menjemput gadis-gadis kecil dari TK” adalah travelling setengah bolah dunia! Letak TK mereka jauh sekali dari rumah, sudah begitu kami memang dianjurkan jalan kaki (satu-satunya halte bus terletak lumayan jauh dari rumah dan jam lewatnya tidak ngepas ke jam kelar TK nya anak-anak). Sudah begitu si bocah 3 tahun itu masih harus didorong pakai kereta bayi. Maka saya pun “menyetir” melewati lembah yang mendaki dan menurun (benaran demikian topografinya!) hingga tiba rumah. Kalian silahkan tidak percaya, tapi batita itu montok banget, ditambah keretanya didorong kosong saja sudah berat. Ketika itu musim semi, masih dingin, selangkangan saya suka sakit pegal dan nyeri kalau kena dingin. Dalam kondisi otot dan sendi yang malang seperti itu saya dorong keretanya jauh-jauh hingga depan pintu rumah! Dingin lagi! Waktu saya ceritakan mama mereka tentang keluhan saya, dia responnya, “Hm, aneh.” Sekian saja. Anak gadis yang umur 4 tahun itu sering rengek ala putri-putri dalam perjalanan pulang, lumayan susah diarahkan dan suka menangis for noooooo reason. Pernah itu gara-gara dia main drama pakai air mata akhirnya saya dituduh penyebabnya.

Saya pangkas saja ya keluhannya, nanti tidak kelar-kelar tulisan saya.

Intinya, saya tidak diberikan kemewahan seperti pulsa, tiket bus, barang elektronik, 100% biaya kursus, dst: memang sudah tercatum di kontrak seperti itu. Malah ketika kami libur bareng pulangnya saya harus beli tiket sendiri; naik Flixbus lagi, 12 jam perjalanan demi tiket murah!!! Licinan bokong saya daripada papan setrika, bu! Yah begitulah, sudah gaji kecil, saya perlu ekstra merogoh dari saku sendiri 40  Euro lagi per bulan untuk biaya kursus! Ongkos beli buku paketan di tempat kursus juga tanggungan pribadi, bangkrut lah.

Empat bulan kemudian saya mengundurkan diri.

Tips dan trik jadi au pair di Jerman

1.     Baca profil GF mu di website nya baik-baik dan teliti

2.     Sebaiknya carilah keluarga yang sebelumnya sudah memiliki au pair (mereka tahu lebih baik bagaimana caranya memperlakukan au pair)

3.     Paling ideal kalau calon GF kamu itu memiliki riwayat au pair-au pair yang langgeng hingga masa kontrak berakhir. Itu sudah sinyal positif tentang siapa mereka.

4.     Sangat disarankan membangun kontak dengan mantan au pair terakhir mereka sebelum kesepakatan dibulatkan, tanya feedback sebanyak-banyaknya tentang calon GF mu.

5.     Dari awal banyak tanya: sebelum teken kontrak, pastikan semua penasaranmu yang relevan dengan kerja tercentang.

Apa saja sih yang ditanya?

├╝ Berapa lama hari dalam seminggu dan jam kerja?
├╝ Apa tugas saya?
├╝ Pekerjaan rumah tangga yang ringan? Konkretnya seperti apa?
├╝ Berapa jarak dari TK/sekolah sang anak ke rumah (jika kamu memang ditugaskan menjemput seperti saya)
├╝ Adakah bis yang melewati rumah GF? Jika ada, bagaimana frekuensinya? sejam sekali? sejam dua kali? Atau malah sehari tiga kali?
├╝ Berapa gaji saya?
├╝ Apa konsekuensinya kalau saya lembur? (dalam bentuk apa pun itu)
├╝ Siapa yang bertanggung jawab atas pembayaran perpanjangan visa saya setelah masa tiga bulan berlalu?
├╝ Akankah saya mendapat tiket bus?
├╝ Berapa lama libur saya dalam setahun?
├╝ Bolehkah saya menentukan sendiri kapan saya ingin berlibur ataukah saya baru boleh dapat libur jika kalian berlibur?
├╝ Apakah biaya kursus saya ditanggung penuh?
├╝ Jika kursus saya telah tamat dan saya ingin mengikuti ujian kelulusan, haruskah saya membayarnya dengan uang sendiri? (kursus dan ujian dibayar terpisah, harga sebuah ujian 200-300 Euro)
├╝ Haruskah saya membayar dengan uang sendiri buku wajib dari tempat kursus?
├╝ Bolehkah saya mendapat kunjungan atau menginapkan teman di rumah?
├╝ Apakah saya diberikan/dipinjamkan sepeda?
├╝ Boleh kerja sambil main handphone? Di depan anak-anak? (GF saya dulu melarang ini, tidak boleh main hape di depan anak-anak)

6.     Jika kamu melamar secara independen alias  lewat website, bacalah aturan main di situ baik-baik. Baca konsekuensinya jika kamu misalnya dipecat (ini hampir tidak pernah terjadi) atau mengundurkan diri, kepada siapa kamu melapor dan apa akibatnya terhadap ijin tinggalmu serta pilihan apa yang masih tertinggal (saya sih langsung banting stir ke Ausbildung saat itu).

7.     Inti dari au pair bukan saja untuk mengenal Jerman, tetapi juga sub-sub budayanya. Apa itu? Para pendatang yang mengadu nasib di jerman. Tahukah kamu Jerman adalah negara dengan jumlah imigran terbesar di dunia? Di tempat kursus kamu akan mengenal “teman-teman seperjuangan” yang datang dari berbagai negara. Tips saya: segera bergaul! Selain menantang kemampuan Bahasa Jerman kamu, mereka bisa jadi pengobat rindu kampung halaman. Siapa tahu mereka teman asyik untuk diajak ngopi pada saat weekend.

Sekali lagi jangan sungkan bertanya, kalau perlu dikritisi jika sesuatu terasa janggal. Orang Jerman sudah terbiasa kok ditanya dan dimintai penjelasan, mereka tidak akan tersinggung, mereka bahkan sudah terbiasa berdebat, berdiskusi sampai dikritisi, jadi jangan ada rasa tidak enak ala nusantara dalam rangka menjaga perasaan. Kalau kamu merasa terlemburkan, bilang saja! Mereka justru suka orang yang tidak hanya bisa berpikir, namun juga bisa mengutarakan pemikiran itu kepada si lawan bicara. Kalau kamu diam saja, ada kemungkinan kamu dimanfaatkan.


Rabu, 28 Maret 2018

10 Alasan Kenapa Saya Suka Musim Semi


Selamat datang kehidupan!

sumber gambar

Belahan utara bumi menyambut datangnya musim semi sejak tanggal 21 Maret kemarin. Winter yang muram dan kelabu akhirnya berlalu, kini musimnya pucuk-pucuk keluar dari tunas dan bersemi, maka itulah disebut musim semi. Musim ini tidak hanya ditandai oleh mekarnya bunga-bunga dan dedaunan, melainkan juga masih banyak fenomena alam lainnya: yang jadi favorit saya sudah saya catat di bawah ini. Musim dan pergantiannya mempengaruhi keadaan dan kondisi psikologis manusia, setidaknya mood! Sewaktu di Indonesia yang mana kita hanya punya dua musim (dengan perbedaan temperatur yang hampir tidak eksis), saya tidak kepikiran bahwa it is possible, namun setelah mengalaminya sendiri saya jadi percaya, sambil terkesima bahwa itu nyata. Apa, seperti apa dan kenapanya akan kalian temukan di tulisan berikut ini.

1.    Bunga-bunga bersemi, semerbak di sana sini
…mulai dari yang ditanam dan dirawat di halaman rumah sampai yang liar di hutan dan di pinggir jalan. Pepohonan menghijau. Rerumputan mengeluarkan tunasnya dari balik timbunan dedaunan kering dan mati sisa dari musim gugur dan winter. Favorit saya adalah bunga sakura (Kirschbl├╝ten) seperti yang tampak di foto ini, yang biasanya mekar di bulan April.
 
sumber: foto sendiri :)


2.    Kicauan burung di mana-mana
Tidakkah itu indah? Sementara di belahan dunia lain, misalnya New York, soundtrack kota mereka adalah sirene truk pemadam kebakaran, di sini saya menikmati nyanyian alam. Jika kamu ke kebun binatang pada musim semi, gaduhnya wow! Tidak heran, es ist Fr├╝hling!

3.    Lepas! Lepas! Lepas! 
   Bagi saya musim dingin adalah musim terberat. Berat jaketnya, mantelnya, Turtleneck-nya, syalnya, topi rajutnya, sarung tangan, sampai sepatu UGG yang setinggi lutut. Waduh, hampir susah bernapas sih, tapi terpaksa beradaptasi. Sial! Saya ingat banget tuh, awal-awal di Jerman kecekik mulu lehernya sama turtleneck dan syal. Jadi tiap lima menit longgarin leher. Tapi karena sekarang musim semi, akhirnya bebas dari “penjara outfit”. Meskipun di Jerman utara domisili saya, bulan Maret itu masih dingin, saya masih belum bisa ganti jaket winter saya ke trenchcoat, tapi setidaknya sepatu bot dan sarung tangan sudah bisa saya lepas.

4.    Aroma kehidupan
Musim semi memancarkan aura kehidupan lewat banyak perantara, salah satunya lewat udara. Tidak percaya? Keluar saja dan tarik napas dalam-dalam sambil menghirup udara segar: it smells like blossoms and green leaves! Tentu beda jauh dengan udara musim dingin yang beku dan kosong.
sumber: foto sendiri :)

Saya suka mengingat, di dalam udara itu, meski tidak kasat mata, terdapat serbuk sari yang tertiup ke segala arah, membawa cikal bakal kehidupan ke kehidupan yang sesungguhnya. Saya sarankan untuk berhati-hati, karena kita (yang belum mengenal musim semi sebelumnya) tidak tahu apakah kita alergi serbuk sari. Saya beruntungnya tidak, namun tidak menutup kemungkinan suatu waktu mendapat alergi tersebut. Karena bisa saja kita tidak alergi terhadap serbuk sari dari pohon X, namun alergi terhadap pohon Y. Di Jerman fenomena penyerbukan ini disebut Pollenflug (Pollen: serbuk sari, Flug: terbangnya); menyebabkan banyak orang bersin-bersin. Banyak panduannya di internet, pohon apa, pada bulan apa berbunga, check this out, guys!

5.    Sinar matahari memanjang! 
  Jika di winter jam 3 sore itu sudah gelap, di musim semi everything gets better. Jam 6 sore gelapnya. Yeahhh! Saya tidak bisa hidup tanpa sinar matahari. Khatulistiwa sejati hehehe. Bukan saja keindahan sinarnya yang membuat kita cerah ceria, namun juga pengalih lelah dan suntuk. Sepengamatan saya, jika saya pulang kerja dan hari masih terang, pikiran saya akan teralihkan dari betapa beratnya hari yang saya lalui di tempat kerja selama 9 jam! Namun jika keluar pintu saja sudah gelap yang menyambut (mood-nya tumbang saja ke kasur!), kesumpekan dan suntuknya kerja saya seharian kecantol saja di pundak tidak pergi-pergi, dan itu membuat saya semakin lelah dan stress hingga tubuh tertumpuk di kasur, blackout dan dibuang ke hari gelap berikutnya. Di mana matahari baru keluar jam 8 pagi!!! Tidak heran depresi paling tinggi terjadi di musim dingin.

6.  Orang jadi lebih cerah dan bersemangat, mood menjadi stabil dan tidak perlu lagi bersembunyi di balik jaket winter tebal mereka.
Pada saat musim semi, alam hidup kembali dalam pengertian yang sesungguhnya; bukan hanya bunga dan pohon bertunas dan merekah, hewan keluar dari hibernasinya dan mencari pasangan penetrasi, tetapi manusia pun ikut “bersemi”. Rahasianya? Curah matahari yang bertambah. Tahukah kamu bahwa sinar matahari adalah pelatuk hormon serotonin dan endorphin? Kedua hormon ini bertugas melepas rasa bahagia di otak dan membuat suasana hati terangkat. Manusia “terbangun” dari kebekuan winter yang digantikan oleh kehangatan musim semi yang jernih.

7.    Entah ini hanya saya atau kalian juga, tapi sayur-mayur yang saya beli di musim dingin itu rasanya no-go! Mungkin karena diimpor jauh-jauh kali ya? Dari Amerika Selatan begitu? Saya berterimakasih sekali kepada musim semi, musimnya penetrasi, musimnya hewan dan tumbuhan melipat-ganda, musimnya serbuk sari membuahi sesuatu yang ujung-ujungya tersaji di atas meja makan kita. Akhirnya kami bisa menikmati kembali sayur lokal yang tidak perlu disemprot pengawet karena seminggu terbang pakai pesawat dari pelosok-pelosok dunia. Akhirnya kami bisa makan Spargel produksi lokal sekitar April yang rasanya tentu jauh beda, bebas pengawet; lebih nikmat dan intensif karena kebun sang bapak petani tidak sejauh di Spanyol sana.

8. Saat yang sempurna untuk keluar dan menikmati alam. Jika bumi sudah berevolusi mengelilingi garis matahari, menjadi seperempat kali lebih dekati dengannya, artinya Winter yang gelap dan murung terselubungkan lebih dari lima puluh gradasi abu-abu telah tertinggal di belakang! Orang-orang mulai terlihat di jalanan hanya untuk sekedar menikmati musim semi dan menghirup aroma kehidupan. Musim “menatap keluar lewat jendela” terlalu berlalu, sekarang tiba saatnya keluar rumah dan menyambut “dunia yang baru”.
sumber: foto sendiri :)


9.    Suasana hati serta-merta terbawa sukacita ini.
Siapa yang sanggup murung jika dunia di luar sana dihiasi kuncup-kuncup bunga aneka warna, tunas mengintip di mana-mana, pepohonan semakin menghijau dari hari ke hari, burung-burung bernyanyi, udara menghembuskan aroma segar, sejuk dan wangi…. apalagi setelah musim dingin yang “membelenggu” bumi selama 3 bulan sebelumnya.
 
sumber: foto sendir i:)
10.          Ini adalah musim ideal untuk melakukan olahraga.
Seperti yang telah saya tulis di artikel sebelumnya, pada musim dingin orang-orang mengalami kenaikan berat badan yang mana wajar secara biologis. Berhubung jam terang di musim semi memanjang dan temperaturnya meramah, ini adalah musim ideal untuk melakukan olahraga. Jogging di antara kuncup-kuncup daun bunga yang baru mekar dan menghirup udara segar adalah salah satu pilihan nge-hit yang ditawarkan musim semi.




Kamis, 08 Maret 2018

Ceritakan saja! (Narasi adalah santapan lezat otak)



Enam tahun yang lalu….
Teater adalah minat besar saya dalam dunia seni pertunjukan. Sewaktu kuliah di Jogja, saya selalu berusaha mendatangi panggung-panggung sandiwara meskipun dompet mepet. Ah, ingat masa itu, nostalgis! Terkadang Entrinya hanya 10 ribu rupiah, maklum teater di kampus sendiri; Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta (kami memang beruntung). Selain sebagai pencinta kata-kata, saya menikmatinya dengan lebih intensif kalau itu divisualisasikan, apalagi dengan tabur irama dan musik! Ketika mata mengamat, telinga dan kepala aktif, di saat itu emosi terprovokasi. Pertunjukan teater diakhiri dengan aplaus yang meriah dan penonton pulang dalam diam yang damai. Mungkin juga sumringah.


Tiga tahun lalu …
Sejak domisili saya di Jerman, saya dikenalkan pada teater oleh pacar saya, yang juga penyuka panggung. Antusias saya bak gayung bersambut. Kami mengunjungi teater berkali-kali dalam setahun, maklum, harga tiketnya sudah bukan 10 ribu rupiah lagi. Karena kami menonton teater tersebut bareng, kami jarang mengupas ulang dramanya karena sama-sama sudah tahu jalan cerita. Seringnya kami hanya mengulang-ngulang cuplikan-cuplikan lucu atau kalimat-kalimat sarkastis yang terucap oleh para pemain yang layak kami kopi sebagai bahan bercanda.


Sejak setahun yang lalu…
Di tempat saya bekerja, klinik gigi, kelamaran seorang dokter muda, Frau Mou, yang usianya sama dengan saya. Begitu tahu kami memiliki ketertarikan yang sama, kami selalu bertukar cerita tentang pengalaman mengunjungi teater; di mana teaternya, apa judul dramanya, apa yang dipentaskan, alur cerita,  sampai kritik dan berapa jempol yang layak didapat teater itu. Dan itu kerap kami lakukan sambil membor gigi pasien (karena memang jarang ada waktu ongkang-ongkang). Lewat pertukaran cerita kami itulah saya jadi kepikiran satu hal. Dan ini menggelitik, sodara-sodara. Saya tidak bisa lagi recall sebagian besar drama yang pernah saya saksikan, baik yang di Jogja maupun yang di Jerman. Waktu adalah faktor besar, memang. Tapi sebagian besarnya tidak ingat? Ini tidak sehat! Kebalikannya, ketika saya menonton drama Cassanova’s Comeback tahun lalu, saya masih ingat betul plotnya hingga hari ini. Tentu terlalu muluk untuk mengingat nama setiap pemain. Namun saya sanggup menceritakan dari awal sampai akhir, jika diminta lagi. Pasalnya, seminggu setelah pertunjukan, saya menceritakannya kepada Frau Mou. Kembali lagi ke belakang kursi pasien, mengebor gigi berlubang. Kali itu saya benar-benar mencurahkan banyak detail saat ditanya drama itu tentang apa. Kami bahas-bahas sebentar tentang isi dan temanya, selesai. Gigi pasien tertambal.

Satu hal yang menarik perhatian saya di sini: jika sesuatu itu saya ulaskan kembali, apalagi dengan kata-kata sendiri, pasti akan tertanam lebih kuat di ingatan. Dan itu tidak hanya terjadi dalam hal menonton teater, tetapi juga film, buku, artikel, cerita anekdot, apa pun itu, bahkan pelajaran Kewarganegaraan sekalipun!

Harapan untuk mengingat dalam jangka waktu lama detail cerita dalam apa pun itu yang pernah kita tonton, baca, dengar, memang rada mustahil. Kita bukan gajah! Tapi menanamkan teknik daya ingat ke otak itu sederhana saja: narasi! Jika kita menceritakan kembali sebuah pelajaran atau penjelasan atau teori (tentu saja pakai versi bahasa kita sendiri), kita menjadi terlibat aktif di dalamnya. Ketika kita menjadi moderator utama, kita akan menguasai jalan cerita, dan mengingatnya dalam jangka waktu yang cukup lama, demikian menurut Profesor psikologi Dan Johnson, dari Universitas Washington and Lee. (referensi ke teks )

sumber gambar

Sepuluh tahun yang lalu…
Seragam putih abu saya adalah saksi jaman umur belasan di mana pelajaran di kelas terasa lebih membosankan daripada hanya sekedar duduk bengong kemasukan lalat di kantin sekolah. Hari Senin pelajaran X, Senin depannya, saya—kami—sudah lupa minggu lalu diajarkan tentang apa. Kami lupa rumus, lupa kurva, lupa definisi dan teori, lupa nama-nama senyawa… entah ke langit ke berapa terbangnya semua itu! Tetapi kami ingat akan anekdot-anekdot yang guru-guru tersebut ceritakan minggu lalu! Bagaimana bisa? Padahal pada jam yang sama mereka menjelaskan tentang kurva/rumus sekian. Kenapa yang kurva atau rumusnya menguap keluar atap sedangkan cerita anekdotnya malah mengendap di kepala? Jawabannya simpel saja: otak kita menyukai narasi. Kita (atau otak kita) menyukai hal-hal yang dijelaskan dalam bentuk cerita. Begitulah gaya kerja otak. Tetapi untuk menyimpan ingatan ini lebih lama, kita harus menceritakannya kembali. Profesor Johnson melakukan eksperimen dengan mahasiswa-mahasiswanya yang dia sebut nano-narratives. Mereka diberi tugas untuk retelling story yang diberikan oleh professor Johnson menggunakan konsep ala mereka sendiri. Alhasil sang professor tidak perlu lagi mengulang-ulang cerita yang sama karena sekelas sudah hafal.

                                                                ↞↠
Kenapa mengingat itu sangat penting? Kita butuh mengingat untuk bisa belajar. Kita butuh daya tahan ingatan dalam kantong memori kita.