Rabu, 06 Maret 2019

Kejar Daku Kau Kutangkap: Out of The Victim Role!


Si Pasif yang Suka Memainkan Peran Korban

Saya sering dengar orang mengomentari, „Kasian ya, dia cuma dimainin saja!“ Ketika sebuah hubungan cinta di antara seorang laki-laki dan seorang perempuan berakhir. Dan dia di sini selalu dialamatkan kepada pihak perempuan. Bahkan komentar macam begini bukan saja datang dari pihak ketiga (baca= komentator alias biang gosip) melainkan juga dari diri sang perempuan sendiri.

„Cuma dimainin“ adalah ungkapan yang naas sekali, terdengar seolah dia tertimpa tragedi dan dialah korbannya. Padahal percintaan adalah sebuah proses memberi dan menerima, di mana keberlangsungannya terjadi karena ada yang menginginkan dan ada yang menyetujui. Atau kedua belah pihak sama-sama meenginginkan dan sama-sama pula menyetujui. Lantas kenapa setelah putus si wanita mengklaim diri sebagai korbannya? Mari kita recheck!

Di dalam budaya patriarki para pemilik phallus dianggap memiliki hak istimewa untuk menentukkan keinginan dan keputusannya. Sebaliknya kaum hawa diidealkan menjadi subordinat, submasiv. Keinginan untuk setara tanpa perbedaan jenis kelamin itu tentu saja ada di lubuk hati setiap wanita. Namun dalam usaha merealisasikannya mereka dihalang oleh ikatan-ikatan sosial dan politik. Kehendak akan penyetaraan mereka ini menerima penolakkan di berbagai konteks dan kesempatan sampai akhirnya mereka lantas sadar, terbuka matanya bahwa mereka memang „hanyalah perempuan“. Seiring berjalannya waktu, semakin banyak penolakkan yang mereka terima, semakin banyak pengalaman „trauma-trauma“ yang mereka kumpulkan hingga mereka kapok juga dan menyerah. Pada akhirnya mereka menerima status subordinat itu dan mengamini kesubmasivan mereka. Mereka pun ikut main dalam arena sosial, pakai aturan patriarkal: Jadilah pasif, wahai kau perempuan! 
www.thinkstockphotos.de/royalty-free/david-pictures
Saya tau, kata-kata saya di atas itu keras sekali bagi beberapa orang yang membaca. Namun begitulah kenyataannya. Kenyataan memang pahit, makanya banyak orang lebih suka bersembunyi di balik ketidaktahuan atau kefiksian atau sekalian saja mitos dan dongeng.

Kepasifan perempuan dalam budaya patriarki itu pada umumnya dilakukan secara tidak sadar oleh sang perempuan sendiri. Saya ulangi, mereka tidak sadar bahwa mereka memainkan peran pasif dalam berbagai hal. Pertanyaannya: memangnya salah kalau mereka tidak sadar? Dalam banyak hal iya. Kehilangan kesempatan adalah salah satu kerugiannya. Contoh, saya hampir belum pernah mendengar seorang perempuan menembak seorang laki-laki, atau melamar untuk bertunangan. „Will you marry me?“ selalu ditunggu untuk keluar dari mulut laki-laki. Perempuannya lagi apa? Dia ke mana saja? Dia sedang menunggu. Dia sedang menunggu untuk dikatain seperti itu oleh seorang laki-laki. Saya yakin ada perempuan pemberani di luar sana yang percaya diri dengan kekuatannya sebagai perempuan dan berinisiatif untuk maju duluan sebelum si laki-laki buka mulut, namun kebanyakan lebih suka bersembunyi dan berharap. Kalau harapannya ini yang lama-lama menjelma jadi ekspektasi tidak terpenuhi, dia kecewa. Sebenarnya solusinya gampang saja, kenapa tidak ambil alih kendali? Kenapa harus menunggu si pria yang buka mulut? Kenapa tidak mau pro aktif? Supaya kalau besok-besok kalian pacaran kamu bisa dengan bangga bilang ke semua orang, „Dulu dia yang kejar-kejar saya, sayanya sih santai-santai saja.“? Oh, wanita, sadarlah!

Satu bulan yang lalu saya men-download App Tinder, sebuah aplikasi bursa percintaan (online dating) karena saya merasa siap berkenalan dengan orang baru. Seorang teman cewek saya bertanya apakah saya yang memulai duluan perbincangan via chatting atau si laki-laki. Saya jawab dengan percaya diri, „Saya yang mulai.“ Lalu teman saya mulai membandingkan dengan pengalaman pribadi dia saat masih aktif di dunia kencan virtual, katanya, „Kalau saya dulu sih saya nggak pernah mulai, selalu cowoknya yang mulai. Kalau dia nggak chat, saya nggak akan duluan.“
https://mubi.com/de/films/kejarlah-daku-kau-kutangkap
Kejar Daku Kau Kutangkap
Di sini saya melihat pola wanita patriarki yang tunggu disenggol dulu baru bereaksi. Tunggu aksi supaya puya kesempatan untuk bereaksi. Tunggu orang lain buka mulut dulu baru kita menyahut karena kita mau cari aman. Tunggu ada yang mulai, supaya kita punya seseorang yang bisa disalahkan kalau-kalau nanti sesuatu yang tidak diinginkan terjadi (contohnya putus cinta yang saya sebutkan di atas tadi). Pasif, bukannya aktif. Jangan salah mengerti ya, teman-teman. Bersabar itu hal lain lagi, pasif dan sabar jangan dikait-kaitkan satu sama lain ya. Dari artinya saja sudah beda sekali.

Kalau kita pasif kita kehilangan banyak kesempatan: ya, saya yang mulai duluan perbincangan di bursa single itu. Saya seleksi baik-baik para pria di sana melalui foto-foto di album mereka dan dari catatan profil mereka, sehingga saya bisa tahu seberapa persen ada kecocokan. Dan pria-pria yang saya sapa hampir semua membalas. Sampai saat ini saya masih menjalin kontak dengan beberapa dan kami mengalami perbincangan di dunia nyata yang sangat menyenangkan. Jadi saya tidak perlu repot-repot kecewa kalau mereka besok-besok tidak mau berpacaran dengan saya (saya hanya ingin mengenal orang dan cerita baru saja sih) karena saya pun turut ambil bagian dalam proses ini. Saya tidak menunggu. Saya tidak menanam saham harapan. Saya aktif menjalankan tujuan saya, yaitu saya ingin mendengar kisah-kisah baru dituturkan oleh wajah-wajah baru. Dan yang lebih penting lagi, saya tahu apa yang saya mau. Kalau kita tahu apa yang kita mau, ada kemungkinan besar kita mampu mengatakan TIDAK begitu seseorang menawarkan sesuatu yang kurang bonafit kepada kita. Sehingga kalau sang pria menawarkan sesuatu yang hati kita sebenarnya tidak suka dalam sebuah hubungan pria-wanita, kita bilang saja TIDAK. Karena itu tadi: kamu mengenali kemauanmu. Dan kebetulan kemauan si pria tidak sejalan dengan kemauanmu.  Kalau kita mengorbankan keinginan hati kita hanya karena percaya bahwa kesubordinatan kita tidak memiliki privilleg untuk menentukkan keinginan, maka tidak heran jika kita memadang diri kita sebagai korban pada saat kisah cinta kita berakhir.

Kesimpulan: kalau kamu juga merupakan pemain yang pro aktif dalam sebuah hubungan, kamu tidak akan berkomentar, „Aduh, kasian ya saya cuma dimainin!“

Rabu, 20 Februari 2019

Liszt to Cherry Beer: Another Solo Trip in Budapest

Chasing the melody.

Lebih dari sepuluh tahun yang lalu saya dibuat jatuh cinta oleh ring tone hape senter (baca: hape monokrom) saya. Judulnya Liszt, yang pada akhirnya saya tahu itu bukanlah nama lagu tersebut, melainkan nama sang komponis. Namanya juga ring tone, kontennya sangat terbatas, tidak ada satu menit, namun sepenggal dentangan melodi piano yang terentang dalam ruang 30 detik itu sudah sanggup menyulap perasaan saya. Merepetisi berhari-hari saya mendengarkan segmen itu dan saya ingat betul betapa nyaman dan damai hati saya setiap kali saya dengar (jaman itu internet apalagi Spotify belum diimpor ke desa). Ya, saya tidak hanya emosional dan musikalis tetapi juga melankolis. 
Adalah Franz Liszt, seorang virtuoso piano yang sangat terkenal, berkebangsaan Hungaria, yang dengan mantranya berjudul Liebestraum (Love dream) telah merebut hati saya. Seperti judul lagu yang melegenda ini, begitulah perasaan saya ketika berada di Budapest. Keindahannya yang charmant dan karismatis membuat orang merasa seolah-olah mundur ke satu dua abad sebelum sekarang. Mulai dari gedung Opera yang megah, Cita Della yang bertahta anggun sebagai balkonnya kota Budapest, sampai sungai Danube yang membelah Buda di bukit barat yang terjal dan Pest yang terhampar di dataran timur. Kedua kota itu akhirnya bersatu pada tahun 1873.
Eropa memang benua dengan catatan sejarah terbanyak, bergolak ke sana ke mari hingga tahta dan mahkota berpindah kuasa, hingga teritori-teritori berganti nama, hingga batas-batas geografi bergeser, hingga gedung-gedung kokoh, kolosal nian menawan dari Epoche ke Epoche berikutnya runtuh lalu dibangun kembali… Eropa punya banyak cerita when it comes to games of thrones.

Hanya tidur di pemakaman yang tidak bisa!
Teman saya, Desty, membookingkan pesawat untuk saya. Murah meriah, kalau tidak mana saya mau terbang (Rekor terlama saya berjalan darat tanpa singgah adalah 12 jam 45 menit! Saya masih hidup!!). Sayangnya harus lewat Berlin, sementara saya hidup 4 jam perjalanan mobil dari sana. Kamis, sepulang kerja jam 8 malam saya menumpang Car Sharing yang mempersatukan saya dengan seorang Polandia dalam sebuah gubuk beroda empat. Dia tidak berbicara bahasa-bahasa yang saya bicarakan dan itu bagus, sehingga tidak terasa aneh kalau-kalau keheningan tercipta di antara kami. Saya lelah sudah bekerja seharian, jika ada sesuatu yang saya butuhkan sekarang, itu adalah istirahat di dalam mobil—kalau saya sanggup jatuh tertidur, itu sudah anugerah banget! Pesawat saya terbang besok pagi jam 6! Saya tidak memiliki akomodasi sehingga saya harus tidur di sofa di bandara. Terkadang saya berfantasi tentang tempat-tempat potensial mana lagi yang bisa saya tiduri; taman nasional di Afrika di tengah-tengah suaka singa, di tepi rawa buaya? Maybe? Hanya di taman pemakaman ogah!
 Solo trip= Bebas kompromi, tanpa diskusi
Menjadi sesorang yang „datang dari dunia antah berantah“ itu menarik. Di mata mereka saya adalah orang asing: mereka tidak tahu siapa saya, saya datang dari mana, apa sejarah hidup saya, apa masa lalu saya, apa luka-luka saya, apa yang saya kerjakan, apa kebiasaan aneh saya, apa tujuan hidup saya, dst. Singkat kata masih perawan dari Judgement
Saat solo trip, cerita dibelokkan pada tikungan yang harus kamu lalui seorang diri!  Ironi pribadi saya telah berubah menjadi humor pribadi. Jadi begini, saya itu manusia yang ingin terdengar, tapi bicara lantang ogah. Saya ingin diajak bicara tapi membuka percakapan sungkan. Saya ingin memiliki banyak teman, tetapi saya menemukan kenyamanan di sudut ruangan, saat orang-orang asik ngobrol dan lupa memperhatikan. Saya ingin dihargai, tetapi saya lagi dan lagi menoleransi orang-orang yang paksa masuk ke teritori saya hanya untuk membongkar-bangkir batas kesabaran saya. Saya ingin konsekuen! Saya ingin menjadi determined, menjadi pemain, saya bosan menonton dari balik kaca jendela dan berkomentar. Saya ingin terjun! Meskipun ke air dingin.  Solo Trip memang hanya diperuntukkan bagi mereka yang suka tantangan, karena mereka beranggapan zona nyaman hanya memberi cukup ruang bagi kreatifitas pake batas.

Private Party
Jadi pada malam itu, Tommy, mengajak saya ke sebuah pesta ulang tahun temannya. Saya senang akhirnya dipertemukan dengan warga lokal. Malam itu lumayan dingin, kami menelusuri jalan-jalan sempit dan gelap untuk „jatuh“ ke dalam lubang bawah tanah itu. Sebuah bar. Kami menuruni tangga dan hangatnya menyapa dalam wajah-wajah berseri yang segera Tommy peluk sambil menyerahkan kado ke dua perempuan kembar yang usianya tidak jauh beda dari kami. Bar unik itu ada di bawah tanah. Tekstur dindingnya yang tidak rata dan atapnya yang rendah, yang juga terbuat dari batu membuat saya merasa hangat-hangat nyaman. Kami dibawa masuk ke ruangan sebelah, ternyata bar itu memiliki bilik lain, yang komplet tertutup, kerapatannya hanya bisa dibuka oleh sebuah pintu. Pada daun pintu tergantung tulisan „Private Party“. Now the story begins… 
Sebelumnya saya sudah diwanti-wanti oleh Tommy bahwa Duo Birthdaygirls menyewa tempat di sebuah bar. Tapi saya pahamnya, mereka menyewa sebuah meja besar di sudut ruangan sebuah bar. Ternyata mereka menyewa seluruh bar! 
Di dalam bilik itu, yang tidak benar-benar bisa disebut bilik juga karena lumayan besar untuk berdansa dan lumayan panjang untuk menaruh DJ Set di sebuah kutub dan 2 meja Kicker di kutub lainnya. Dan di antaranya ada dua meja panjang. Dan yang lebih kerennya lagi, meja-meja kicker itu ditutupi selembar kaca selebar lapangan mainnya, sehingga kamu bisa menaruh bir di atasnya selagi asik menjaga pertahanan atau menjebol gawang lawan.
Ada sekitar 19 orang berkebangsaan Hungaria dan satu orang Indonesia di dalam sana, karena sang Duo Birthdaygirls membawa „gang“ mereka masing-masing. Musik membawa suasana yang sangat positif dan percakapan beralih dari meja panjang itu menuju meja kicker. Bir di tangan. Kami saling berkenalan di antara nada-nada pop nostalgia dari era 90an. Britney Spears sedang beradu dengan Polyphonie saat kami saling mempertemukan gelas-gelas bir di udara. Cherry Beer is a dancer!!  
Kembali ke meja panjang—setelah lelah menyerang dan menjaga gawang di meja Kicker—mempertemukan saya dengan seorang gadis berambut gelap tebal panjang ikal dan mempesona (terimakasih untuk darah Italianya) dalam perbincangan seputar duo tripnya di Jepang bersama Tommy. Bahasa Inggrisnya yang perfek tanpa dialek membuat saya terkagum-kagum dan terpingkal-pingkal karena dia mengeluhkan betapa tidak asiknya nge-trip sama Tommy dengan gaya ala manga namun dikemas dalam sinisme dan sarkasme yang sangat Amerika. Menurut dia Tommy itu harap gampang… saya melihat komen dia tentang Host Couchsurfing saya itu sebagai joke
Seperti yang sudah saya tulis di blog, awal musim panas itu saya sudah solo trip ke Praha— dan saya sangat tidak heran bagaimana saya jatuhnya candu bukan kapok. Saya candu akan mengembangkan batas-batas diri—batas-batas ilusional yang menjebak kita pakai kedok selimut zona nyaman. Solo trip membantu saya membuktikan saya bisa jadi siapa saja yang saya mau, kalau saya mau! 
Saat kue ulang tahun yang bermuatan seton gula sudah dibagi-bagikan, diteguk pakai bir yang ke sekian dan musik menjadi pening dengarnya, Kicker sudah dimainkan sampai receh terakhir dipertaruhkan, puntung rokok nyaris terakhir terhisap, semua ambruk ke kursi di meja panjang dengan wajah lelah. Sejauh ini hanya si gadis manga berambut ikal mempesona yang berbicara dengan saya dalam kalimat-kalimat panjang—saya hampir yakin dia satu-satunya yang berbicara Bahasa Inggris dengan mapan. Lalu seorang pria temannya Tommy menghampiri kursi kami. Tidak berapa lama kami terlibat pembicaraan asik, saya kembali bersemangat dan mencetuskan permainan klasik Truth or Dare. The story began for the second time! Meja kembali ramai, yang lain ikutan main. Dan saya tersenyum dalam hati karena berhasil membangkitkan yang hampir „mati“ dan ini sama sekali bukan diri saya yang biasanya saya kenal. Saya berhasil jadi saya yang saya mau. (Does the sentence make sense?)
At that game people said stuffs they would have regretted the next morning but no one cared because no one would remember anything tommorow— It was the funniest night of my 2018! Saya dedikasikan ucapan terimakasih saya yang tulus kepada kebaikan hati Tommy yang meng-host saya selama dua malam. He ist the best Host in Budapest yang mengajarkan saya trik membawa vodka ke dalam bar secara legal alias tanpa seorang pun tahu. The funniest and dearest man I have ever met 😊 I was lucky to get to know him.

Sudah Tanam Harus Panen, dong!
Solo Trip memang patut dicoba, setidaknya sekali seumur hidup—sejenis sebuah investasi mental. Berikut adalah pembelajaran yang sangat personalized yang saya dapatkan sejauh ini.
1.      Tiba-tiba harus jadi menejer dan sekretaris untuk diri sendiri. Semua tetek bengek logistk: saya yang bertanggung jawab atas tiketnya, bookingnya, keterlambatan ke halte bis, kalau saya melakukan kesalahan atau keteledoran, saya adalah satu-satunya untuk disalahkan. 
2.      Saya bisa menikmati seniman jalanan selama apa pun saya mau. 
3.      Saya belajar bahwa hal-hal indah di dunia ini tidak harus diperoleh melalui pertukaran uang.
4.       Belajar survive: tak-tik siap siaga berkonfrontasi dengan hal-hal spontan. Saya belajar memecahkan masalah seorang diri. Di tepi keberhasilanmu, ada rasa puas dan percaya diri yang  baru dan positif. Boro-boro kasihan diri sendiri, kamu layak dapat applaus!!
5.       Traveling dengan teman/partner, ada kecendrungan untuk malah bertahan dalam kubu itu. Justru karena kita sendiri, mempermudah kontak dengan manusia baru: saya belajar untuk membuka diri secara positif tapi tetap mempertahankan respek satu sama lain. Terlebih bagi yang suka ber-Couchsurfing ria, yang Host nya adalah lawan jenis, saya selalu jaga sikap sedemikian supaya tidak terjadi kesalahpahaman.
6.       Kebebasan memutuskan hari ini ke mana, apa yang akan saya lakukan, telah membuat saya jadi lebih tahu dan yakin tentang apa dan bagaimana yang saya mau. Bukan itu saja: karena saya sendiri, saya jadi tidak peduli pada penampilan, karena saya tidak harus meng-adjust dengan si Princess atau Prince di sebelah. 
7.       Saya semakin yakin, dengan tema dan topik mana dalam percakapan yang saya suka, begitu juga dengan lawan bicara mana yang membuat waktu saya berkualitas. Saya semakin yakin bahwa saya tidak suka kalau waktu saya dibuat basi oleh percakapan small talk, kan kalau begitu saya tidak perlu keluar negeri!
8.       Ransel saya semakin ringan, dibandingkan dengan Solo Trip pertama! Saya belajar survive dengan hanya satu jaket, satu celana panjang jins, dan tiga biji baju.
9.      Kamu mempersepsi dunia dari sudut yang berbeda dan orisinil, jika kamu traveling seorang diri, karena kamu bisa fokus dan terlepas dari pendapat orang lain. 
10.   Saya belajar untuk menguasai rasa takut. Contohnya takut tersesat: saya siasati dengan bertanya sekeliling. Saya takut terhadap host saya yang laki-laki: saya ajak dia ngobrol untuk membuat dia sadar bahwa saya hanya ingin berteman. Sebenarnya rasa takut ada disebabkan karena kita kurang persiapan, kurang siasat dan kurang kreatif saja sih.

Selamat ber Solo Trip Ria 😊 I am wishing you much much good luck and sunshine 😊

Minggu, 27 Januari 2019

Indonesia: Bhinneka itu fakta, Tunggal Ika itu fiktif

„Sabang sampai Merauke“, bukan  „Jawa Barat sampai Jawa Timur“
Indonesia itu paket jumbo lengkap! Terdiri dari 18.000 pulau, kita memiliki ribuan dan ratusan ras, suku, etnik, bahasa daerah dan dialek yang berbeda-beda. Kenapa paket lengkap? Mulai dari hidung mancung-besar, mancung-ramping sampai pesek-besar, pesek-ramping ada, rambut lurus sampai keriting ada, rahang besar sampai sempit ada, bibir tipis sampai bibir tebal ada, sawo matang sampai setengah matang ada, putih pucat sampai putih langsat ada. Atau kuning langsat. Kulit gelap sampai gelap kopi ada banget.
Kita memang berbeda-beda. Tetapi satu???
Tapi kalian pasti tahu kualitas-kualitas fisik macam apa yang media televisi kita dambakan. Benar, selalu yang itu-itu saja. Saya tidak lihat satu pun pemain FTV yang berasal dari Papua dengan kualitas fisik khas Papua. Kalau pun ada dia akan memainkan peran pelawak yang konyol dan ada di layar kaca hanya untuk jadi bahan tertawaan. Sayang sekali. Padahal Indonesia itu negara kesatuan, tapi kita membiarkan saja televisi kita mengajarkan masyarakat nusantara tentang nilai-nilai yang salah, secara langsung dan tidak langsung—Nilai-nilai yang justru memecah-belahkan kita. Tapi pertanyaan saya: Emang benar kita ini merupakan negara kesatuan? Atau itu idealisme utopis belaka? Karena yang saya amati dalam prakteknya justru berat sebelah!  Berat ke mana? Ke barat lah! Mau ke mana lagi?
Beberapa waktu lalu seorang artis menghina etnik Papua sementara dia sendiri sedang tampil di televisi mengenakan kostum etnis Papua. Ini penyangkalan NKRI atau sekedar kurangnya moral? Saya senang bahwa dia akhirnya mendapat reaksi tegas dari warga Papua yang membuat si artis yang malang minta maaf. Semoga dia sadari apa arti kata martabat, karena yang dia hina itu Papua, setara dengan menghina keseluruhan bangsa Papua. Wow, cukup berani si gadis kecil. Saya senang melihat kasus itu diceploskan oleh mulut seorang artis yang mana kehidupannya selalu jadi sorot kamera, sehingga seluruh Indonesia akhirnya belajar nilai moral lewat layar kaca: etnis lain juga punya martabat, jangan asal ceplos!
Seperti berita yang dimuat oleh BBC Indonesia tentang etnis tertentu yang tidak mendapat kesempatan ngekos di Yogakarta hanya karena mereka berasal dari daerah X, Y, Z.  Menurut kabar angin karena warga lokal menciptakan stereotip tertentu tentang daerah tersebut.  Kalau memang mereka tidak menyukai etnis atau daerah tertentu, apakah mereka memiliki alasan? Kalau memang ada masalah, kenapa tidak diungkapkan? Sampai kapan segala sesuatu harus dikubur? Menunggu busuk? Bukankah kita memiliki UU Nomor 40 tahun 2008 tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Enis? Tapi kalau memang warga Yogyakarta merasa benar, ya monggo, aspirasinya. Supaya ke dua belah pihak puas. Itu kan inti dari demokrasi! Yang ada mereka malah mingkem! Kapan datang inisiatif dari politikus? Apakah mereka sebenarnya baca berita? Kok diam saja?
Apa-apa Tabu
Saya melihat sebuah kecenderungan ketika saya mulai angkat bicara tentang tema diskriminasi, orang-orang pada bungkam. Diam. Bertingkah seolah tidak pernah tahu. Tidak pernah dengar, bahkan seolah tidak pernah alami. Biasa, cari aman… Ah, itu mitos! Kata mereka. Saya bisa tilik ini dari perspktif budaya kita: kita masyarakat yang suka menabukan banyak hal. Tabu. Tabu adalah hobi kita. Tabu adalah selimut hangat kita yang melindungi kita dari rasa takut di saat hujan deras, kilat menyambar, guntur bergemuruh. Ya! Masyarakat kita suka dengan kata tabu. Apa-apa tabu. Dikit-dikit tabu. Tabu itu seperti selimut tebal yang memisahkan mereka dari dunia luar, dari dunia fakta dan realita. Supaya mereka tidak usah repot-repot lagi berpikir, supaya otak mereka beristirahat saja yang nyenyak di bawah selimut hangat dan tebal. Dengan kata tabu tiba-tiba apa pun bisa dijelaskan. Tinggal bilang saja, „Eh itu tabu loh!“ Perkara pun dengan demikian selesai, orang tidak tanya lagi, pembicaraan ditutup, diskusi bubar! Kalian mengerti maksud saya? Lama-lama rasanya seperti kata anu. Apa pun itu bisa kamu sebut pakai anu. Anu bisa menggantikan banyak nama, banyak istilah, banyak kata kalau kamu tidak tahu istilah sesuatu atau sedang tidak ingat apa namanya atau misalnya kamu ingin meng-crypto-kan sesuatu, tinggal bilang saja… anu! Kelar! Contoh : „Jangan lupa beli bawang, kecap, merica, sama anu ya!“ Semenjak kamu mengenal kata anu, kamu tidak perlu lagi memiliki ingatan, pengetahuan dan daya pikir yang bagus, karena segala sesuatu bisa kamu jelaskan secara praktis dengan sebuah anu. Sama kayak tabu! 
Anak: „Mama, kenapa seorang ibu bisa hamil?“
Ibu: „Karena sang ayah dan sang ibu melakukan persetubuhan.“
Anak: „Apa itu persetubuhan?“
Ibu: „Jangan tanya itu, itu tabu!“
Anak: ….

Sayang sekali, anak yang cerdas dan memiliki rasa ingin tahu yang besar di-hush pakai sebuah kata tabu. Selamat tinggal ilmu pengetahuan! Si ibu lebih suka ada dalam zona selimutnya yang nyaman, cari aman.
Kenapa sih, tabu? Bukankah semakin sesuatu ditabukan, semakin manusia itu kehilangan rasio? Kehilangan minat terhadap rasio, terhadap berpikir. Manusia jadi suka ambil jalan pintas: Ngapain repot-repot mikir apa itu, kan itu tabu! Begitu juga dengan diskriminasi media, sampai kapan kita diam saja dan menolak berpikir kritis? Sampai kapan kita membiarkan televisi membuat kita merasa asing di negeri sendiri? Sampai seluruh warga NTT mem-bonding rambut mereka di salon karena mereka tidak puas diri dan ingin terlihat seperti artis FTV? Karena teleivisi mengajarkan mereka tentang nilai kecantikan yang salah: bahwa rambut lurus adalah kecantikan mutlak sehingga orang-orang berambut keriting merasa low self-esteem lantas menyangkali kenaturalan mereka.
Kearifan lokal tidak berarti membatasi integrasi.
Malah sebaliknya! Justru membuka batas-batas geografi dan etnis supaya kita makin inisiatif menabrakkan diri dengan berbagai budaya agar kita semakin kenal siapa kita. Ada cerita lucu, waktu saya masih di Indonesia teman-teman saya bahkan mantan pacar saya yang berkebangsaan luar negeri bilang bahwa saya sangat tidak indo. Mereka melihat pola pikir saya yang kritis dan keberanian saya bicara sehingga mereka bilang begitu, sampai saya pun akhirnya percaya. Lantas 4 tahun yang lalu saya merantau ke Jerman dan bertubruk-tabrak budaya dengan warga dunia, membuat saya melihat betapa Indonesianya saya! Dari situ saya mulai melihat dan menimang, pengamatan saya bertahun-tahun di bidang budaya akhirnya terjawab. Saya akhirnya tahu kenapa orang Asia atau Indonesia menyandang gelar tertentu oleh orang barat. 
Itu tadi, kearifan lokal tidak berarti kita lantas hanya mau menerima yang sedaerah atau serupa dan sewarna saja, melainkan proses penimbahan pengetahuan lewat cross-culture supaya kita melihat budaya secara objektif. Supaya kita tidak pikir budaya kitalah atau etnis kitalah atau warna kulit kitalah yang piling benar, baik, atau bagus.  
Tak Kenal Maka Tak Sayang
Ketika kuliah di Yogyakarta saya dan teman-teman NTT saya sering ditertawai karena logat dan dialek kami. Mana lagi kami tidak bisa melafalkan bunyi e, karena kami hanya bisa é ala NTT. Ketika kami bicara dengan orang Jawa, kami tidak menertawai logat mereka karena kami sudah sering dengar dari TV. Logat itu sudah tidak asing lagi bagi kami sehingga kami bahkan merasa akrab dan justru aneh untuk menertawai dialek daerah mereka. Saya memetik sebuah pola di sini: tak kenal maka tak sayang. Teman-teman Jawa kami ini belum pernah nonton orang NTT berbicara di TV, sehingga sekalinya kami buka mulut mereka merasa aneh. Kalau pun di TV ada orang Indonesia Timur tampil, dia selalu kebagian peran pelawak, seolah media mau bilang, itu sudah lumrah untuk menertawakan logat kami.  
Sesuatu yang kita tidak kenal namanya asing. Asing sering kita rasakan sebagai janggal. Kejanggalan kadang menggelitik kita untuk menertawakan atau mengejek bahkan merendahkan. Saya tidak heran, Indonesia itu terdiri dari sekian banyak pulau jadi orang-orang cenderung hanya bergaul dengan manusia sejenisnya saja yang sesama pulau atau sesama daerah. Pertukaran budaya itu belum masuk negara kita, sodara-sodara. Kita ini hitungannya masih ndeso, kita tidak masuk hitungan warga dunia, melainkan warga pulau. Karena yang kita kenal itu-itu saja.
Si artis tadi yang saya ceritakan di atas, terdengar seperti tidak punya teman atau kenalan orang Papua, sehingga gampang saja dia ceploskan itu. Tanpa beban. 
Saya memiliki teman dari berbagai pulau, berbagai wana kulit dan agama, yang saya kenal baik secara pribadi. Tidak pantas rasanya saya mengejek seseorang yang berlogat batak (ambil contoh), karena saya benar-benar punya teman orang batak dan logat dia sudah akrab di telinga saya. Jadi mau asing apanya lagi? Mau lucu apa lagi? Mau hina apanya lagi? Dia teman saya, saya kenal dia beserta kebatakannya itu. Dan saya rasa itu cool untuk stay cool: saya bicara logat NTT, dia jawab pakai logat Batak.  Itulah inti NKRI! Bhinneka tunggal ika! Kalau ada yang menertawakan dan mengejek logat dan dialek daerah seseorang hanya karena itu terdengar asing di telinganya, kalian tahu  dia itu apa: ndeso. Pengejekan itu bahkan penyangkalan akan arti Indonesia Raya: Bagi dia Indnesia itu bukan Sabang sampai Merauke, melainkan rumah saya, rumah nenek saya, rumah tetanga saya. Titik. 

Sampai kapan kita mau cuci tangan? 
Saya anak perantau dari Pulau Timor, selama 13 tahun terakhir ini saya hidup dalam „pengasingan“. Saya melewati 9 tahun sekolah-kuliah-kerja-hidup di beberapa pulau, beberapa propinsi di Indonesia dan bersimpang siur dengan banyak  warga lokal dan perantau dari berbagai pelosok Tanah Air.  Saya melihat, mendengar, merasakan dan mengalami diskriminasi hampir setiap hari dalam 9 tahun itu. Entah itu karena jeis kelamin saya, daerah asal saya, etnik saya, rupa dan tinggi tubuh-wajah saya, agama saya, bahasa daerah dan dialek saya, sampai ke adat budaya saya! 
Sampai kapan kita mau cuci tangan? Sampai kapan kita balik punggung? Keluarlah dari selimut tabu dan bicarakan hal-hal yang sudah layak dikeluarkan dari koper berdebu dan dibilas pakai ilmu pengetahuan lewat diskusi terbuka. Dan itulah alasan saya menulis artikel ini. Saya bisa rasakan itu: orang-orang diam saja dengan tema ini, memangnya kalian nyaman berendam dalam kubangan diskriminasi? Jaman sudah  berganti dan jikalau kita mau keluar dari selimut tabu kita itu tadi, sebenarnya ada banyak literatur tentang ilmu pengetahuan yang bisa kita baca. Tidak ada satu pun di dunia ini yang tidak bisa dijelaskan kecuali eksistensi supra: Tuhan. Sayang kalau kita membungkus ilmu pengetahuan pakai karung tabu lalu dikubur supaya orang tidak tahu. Kasihan! Kapan generasi kita maju kalau kita hanya mingkem-mingkem manis di balik lipstik?
Peran Guru
Di sekolah-sekolah di Indonesia diajarkan PPKN, tetapi melulu yang muncul di soal ulangan: 
Kalau kalian melihat seorang nenek tua ingin menyeberangi jalanan, apa yang kalian lakukan sebagai anak yang berbudi pekerti?
a.      Membiarkan saja si nenek menyeberang sendiri
b.      Menawarkan bantuan kepada si nenek untuk dituntun ke seberang jalan
c.       A dan C salah.

ALAMAK! Pengetahuan tinggallah jadi sejarah jika ia kehilangan aktualitasnya! Seharusnya soal PPKN berbunyi begini,
Di kelas Ani ada siswa baru dari NTT. Dia berbicara dengan dialek daerahnya yang sangat khas. Ketika dia memperkenalkan diri di kelas siswa-siswa menertawakan. Yang harus Ani lakukan sebagai anak yang berbudi pekerti adalah?
            a.      Membiarkan saja teman-temannya menertawakan.
b.      Ikut tertawa.
c.     Menegur teman-temannya karena itu salah. Kita harus belajar saling menghargai. 

Kamis, 10 Januari 2019

Apa Kabar Praha: Anekdot Solo Trip

Seperti yang sudah saya sebutkan pada bagian pertama tentang Solo Trip ini, saya anti wisata pernah. Saya lebih suka berada dalam „Sekarang dan Di sini“, jadi saya tidak kejar tayang. Saya tidak ngebut harus ke sini atau ke situ pada hari Satu, hari dua dan hari tiga. Definisi trip saya hampir mirip dengan ziarah. Jadi, bukan tentang mencentang berapa gedung yang sudah saya potret, dan berapa yang belum, tetapi apa yang saya lihat, apa yang saya alami dan ke mana memori saya memanggil ketika saya melihat sesuatu, mengamati sesuatu. It is all about me! Bagaimana suatu Scene melepaskan reaksi psikologis dalam saya dan bermain-main dengan indra dan rasa saya. Bagaimana itu menginspirasi dan menggugah saya, bagimana itu membuat saya bertanya dan jawabannya adalah pertanyaan juga. Itu yang saya cari.
Saya membiarkan diri saya terbawa arus. Dalam kesadaran dan kendali, karena saya inginkan arah, ke mana itu, saya belum tahu, lha makanya saya jalan-jalan sendiri untuk bertemu pintu-pintu yang baru. Maaf ya, mbak-mbak dan mas-mas, kalau saya terdengar rada spiritual. Aliran saya memang demikian, easy life is boring.
Saya tidak terbangun suatu pagi dan memutuskan untuk menggeledah isi dunia di luar sana. Saya memutuskan secara sadar, dan saya sudah tunggu seabad lamanya sampai mimpi itu matang untuk dipetik. Sehingga saya tidak ingin mendoktrin siapa pun yang membaca halaman ini, tidak pula menyalahkan mereka yang lebih suka travelling dengan teman atau pacar atau hewan…
Saya melihat dinding-dinding yang tidak kasat mata di sekeliling saya, seolah-olah gerak-gerik kita sudah terdefinisi, tapi intuisi saya selalu tahu, ada batas-batas yang memang bisa ditembus…Tidak hanya secara fisik, tapi juga psikis. Tidak hanya melintasi batas wilayah, tetapi juga menjejaki batas-batas dalam perspektif, dalam sudut pandang, dalam horison, cakrawala berpikir kita, dan terutama, bagaimana cara kita mamandang ke dalam diri…
Praha
Awal Summer 2018. Itu pertama kalinya saya meninggalkan sarang saya untuk keluar negeri. Dengan excited saya membooking dua hostel yang berbeda karena alasan budget dan ketersediaan waktu. Tadinya saya pikir itu ide bagus.
Satu malam sebelum check out hostel yang pertama saya iseng mencari alamat hostel berikutnya, ternyata letaknya hanya beberapa blok dari tempat saya menginap. Google Map menavigasikan saya ke sebuah hotel berbintang 3 (garuk kepala bingung: yang saya booking itu hostel) setiap kali saya mengklik peta dalam profil hostel yang ingin saya tuju itu. Sedikit tidak percaya: masakan mungkin dengan 14 Euro saya bisa dapat sesuatu di sana, mentok-mentok sebuah bantal di atas lantai, di koridor menuju dapur, itu pun kalau boleh!
Sedangkan dengan 17 Euro saja saya hanya bisa mendarat di sebuah hostel dan harus berbagi kamar dengan 15 orang asing lainnya, dalam tempat tidur tingkat, semuanya terhuni, kamar mandi cuma satu! Bahkan dulu di asrama Katolik Syuradikara, kami hanya ber enam sekamar! Hostel kedua saya ini menjanjikan kamar dan tempat tidur untuk sendiri! Harganya hanya 14 Euro pula! Saya hampir ngiler dibuatnya.
Topografi Praha sedikit bergelombang, saya yang berasal dari Kupang, Ende, Jogja dan Hamburg, tidak mengenal ini. Saya tidak terbiasa menaiki dan menuruni jejalanan. Saya harus mendaki untuk tiba di hotel berbintang tiga itu. Layaknya gedung-gedung di kota-kota di Eropa, hotel itu tidak berdiri seorang diri, melainkan saling menempel berjejeran dengan gedung-gedung lain, yang saya bisa lihat hanyalah fasadnya. Sebuah umbul-umbul hampir sama tingginya berkibar memisahkan batas dindingnya dengan dinding tetangga, tercetak nama hotel tersebut, tebal. Saya melangkah melewati lobi menuju konter, bertanya apakah ini alamat mereka, sambil menunjukkan alamat yang saya screenshot dari profil si hostel di Airbnb. „Tidak, alamat yang Anda cari letaknya di suatu tempat di belakang hotel ini, jalannya menurun. Hati-hati“ Kenyataannya jalan itu memang terlalu curam untuk… sepatu berhak saya dan kaum jompo dengan rollator. Setelah tersesat beberapa kali dan bertanya arah selusin kali, saya pun tiba di depan sesuatu yang tidak menyerupai hostel maupun hotel. Saya telpon si pemilik hostel, „Kenapa saya tidak melihat papan nama hostel Anda?“
„Tidak ada papan nama,“ sahut suara di seberang, seolah-olah itu normal: hostel tanpa papan nama.
„Mana pintumu? Saya ingin bicara dengan resepsionis!“ desak saya.
„Tidak ada resepsionis, saya sekeluarga juga tidak tinggal di sana“ jawabnya santai. Mulut saya menganga.
OK, saya kenal beberapa orang yang menyewakan apartemen mereka pada saat weekend, sementara mereka hengkang ke tempat pacar atau orang tua: „Sambil Rileks-Berendam-Minum Cappucino-Selfie, uang mengalir ke kantong kasir“, bunyi moto mereka. Tapi saya keliru total! Suara di hape saya menginstruksikan saya untuk melangkah beberapa meter ke samping, sampai saya menemukan sebuah pintu dicat kuning yang ada poster Kodaknya. Lewat kaca pintu itu saya berusaha mengintip, tapi susah karena gelap. Saya berani sumpah, apa pun yang ada di dalam sana, tidak bisa dibandingkan secuil pun dengan sebuah hostel.
 „Datang saja besok kalau mau check in, jam 9 kan? Nanti saya telpon tepat waktu. Tapi sekarang kamu sudah tahu di mana pintu masuknya! Bye!“ tutupnya meninggalkan alarm buruk di kepala saya! Kembali ke hostel dengan perasaan tidak aman malam itu.
Keesokannya petualangan Jumanji dimulai! Saya ditelpon tepat jam 9, saya barusan check out dan berpisah dengan 16 dipan tingkat.
„Bagaimana saya bisa masuk kalau tidak ada resepsionis dan kamu tidak tinggal di sini?“ saya hampir mengucapkan itu dalam teriakan.
Instruksi berikut yang saya dapat; saya hampir pikir saya tuli. „Pergi ke pintu sebelah (tetangga), di sampingnya ada beberapa kotak surat, cari yang namanya XXX (saya samarkan), coba buka pintunya, kalau susah ditinju saja. Kunci kamarmu ada di dalam sana.“ Mulut saya sekarang sudah kemasukan lalat!
Dia benar, saya harus tinju untuk membuka kotak surat rongsokan itu! Dengan kunci itu saya berhasil masuk ke sesuatu yang dijanjikan sebagai hostel. Saya melangkah di antara penasaran dan enggan, sesuatu dalam diri saya tahu, saya tidak akan suka dengan apa yang akan saya lihat. Kini alarm di kepala saya tidak lagi memukul seperti gong, melainkan membisu dan saya hampir menangis.
„Hallo?“ Ternyata kami masih terhubung. Saking shocknya saya tidak sadari hape saya masih menempel di telinga.
„Mana kamar saya?“ Tanya saya membeku di dalam sebuah studio foto, yang dia iklankan di Airbnb sebagai hostel.
„Itulah kamarmu.“ Nadanya seperti tanpa dosa. Sepertinya ini bukan kali pertama dia berbohong tentang akomodasi ini.
„Mana tempat tidurnya?“ Saya tentu bukan satu-satunya korban penipuan.
„Coba tengkok ke atas.“ Saya melakukan yang disuruh. Dan tempat tidur itu melayang di antara atap dan lantai, tepat di atas kepala saya.
„Bagaimana saya bisa sampai ke atas?“ Tanya saya pasrah.
„Di ruangan sebelah ada tangga portabel.“ Tutornya dengan nada yang sangat terlatih dan sangat biasa seolah-olah nasib saya saat ini sedang sangat luar biasa prima.
Singkat kata, apa pun yang saya singkap di sana hanyalah berita dan mimpi buruk. Itu ternyata adalah studio foto, tempat si pemilik „hostel“ bekerja. Sebuah mesin pencetak raksasa bernaung di sudut ruangan, di antara tumpukan kertas. Di dinding-dindingnya, baik di ruang depan maupun ruang belakang menuju toilet, terpampang foto-foto hitam putih dari awal tahun 1900 (wtf!), ada yang posenya malah close up sehingga saya merasa di mana pun saya berdiri, rasa-rasanya mereka sedang menatap saya. Sial!!! Saat saya mencari kamar mandi, saya malah hanya menemukan sebuah toilet dengan tisu yang sepertiganya sudah terpakai. Tidak ada air hangat di wastafel. Kasur yang saya tiduri tidak berselimut dan sepreinya tidak diganti. Welcome to…Prague! Saya tidak hanya tidak bisa mandi, saya juga akan tidak bisa tidur!!! Setelah seharian menikmati Praha dan lagi-lagi tersesat, malamnya saya kembali ke gubuk Kodak saya untuk ganti baju, selanjutnya saya akan menghadiri pertemuan para Couchsurfers di sebuah taman di tepi bukit. Dengan begitu, hari saya akan menjadi lebih sedikit menyedihkan. Dari taman itu tadi orang bisa melihat seluruh kota Praha dan pemandangannya luar biasa indah. Sesampai saya di sana, ternyata saya bukan saja menjadi sedikit rileks, melainkan mendapatkan malam yang luar biasa menyenangkan dan mengumpulkan kontak, dengan beberapa di antaranya masih saling bertukar kabar sampai hari ini.
Airbnb Vs Couchsurfing
Itu terjadi pada hari kedua, pada hari yang pertama saya dikonfrontasikan dengan ngoroknya sang tetangga dipan dan toilet yang rusak; dan hari ke tiga, sekaligus hari terakhir saya hengkang dari gubuk kodak, dihadapkan dengan bateri hape yang mati dan dengan last-minute-request, saya kabur ke rumah Pavel, Host dari Couchsurfing yang baik hati dan membagikan saya sepenggal fase hidupnya yang sangat inspiratif.
Offline is Luxus?
Saya baru tahu kalau saya tidak tahu cara bergaul baik dengan dunia digital maupun analog.
Peta darurat di tangan saya yang saya cabut dari konter hostel saya, pasti sudah menertawakan saya sejak tadi kalau dia bisa bersuara. Saya tersesat bertubi-tubi. Ternyata saya manusia yang tidak hanya vintage dan konvensional, tetapi juga gaptek. Menyedihkan. Saya pikir saya harus menjalani hubungan yang serius dengan teknologi!! 
Kesepian=terapi
Bohong kalau saya bilang kamu tidak akan kesepian, terutama jika solo trip mu lebih dari 4 hari. Memang akan ada momen di mana kesepian muncul, tetapi justru ini bagus; kamu dikonfrontasikan dengan hal-hal tak terduga, dalam kasus ini kesepian. Menengok ke belakang, dalam keseharianmu di kos/flat, kesepian kau tepis dengan cara kabur ke/bersama teman untuk nogkrong misalnya.  (Yang saya baca nih: kita memang seringya mencari kebahagiaan dalam diri orang lain; itu tidak bagus: sampai kapan ketergantungan ini?). Lantas kenapa manusia takut dengan kesepian? Atau selalu menghindarinya? Gampang, karena ia melepas pelatuk ketidakpastian dan keraguan dalam diri kita. Nah, Solo Trip mengajarkan kita bagaimana cara bergaul dengannya.
Mau terlihat menarik di Instagram?
Orang solo travelling itu kalau bukan foto sebuah objek tanpa dirinya, ya foto di depan apa pun yang bisa memantulkan bayangannya sendiri. Terjemahannya, saya tidak perlu membuat teman seperjalanan saya menderita hanya karena saya ingin terlihat menarik di Instagram. Boro-boro saya memanfaatkan kehadiran teman, yang ada saya malah sangat berterima kasih atas kehadiran orang-orang asing yang menunjukkan saya arah dan jalan saat saya desorientasi. Saat itulah saya benar-benar sadar betapa beruntungnya saya, dan bahwa kebaikan manusia tidak otomatis harganya. Tidak lagi anggap enteng bantuan orang! 
Perempuan, sendiri, asing.
Ketika saya cerita ke kolega-kolega di tempat kerja; hendak travel ke Praha solo, saya dapat pelototan. Tanpa membiarkan spekulasi menghantui pikiran, dengarkan suara hati. Intuisi. Jika kamu mendengar alarm berbunyi di suatu tempat dalam hatimu, pasang telinga baik-baik. Manusia dikaruniai firasat. Gunakan dengan bijaksana. Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan kesadaran dan tanggung jawab; merujuk ke tiga kata yang saya cetak tebal di atas. Kalau memang perlu, tunjukkan batasmu. Universum ini kurang lebih adalah cerminnya kita, tapi yang namanya sial tidak ada hubungannya dengan apakah seseorang baik atau tidak ya. Emang kalian pernah lihat orang baik hidupnya melulu tanpa apes? Apes itu seperti KFC, ada di mana-mana! Mengantisipasi ini, kita hanya bisa jeli melihat dan perhatian, awas lalai. Live for the moment, tanpa perlu Paranoia.
Yang ingin saya katakan adalah, sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin bercerita tentang anekdot dari masa kecil saya di kampuang kito nun jauh di mato…Ada tips di balik itu. Kalau ada orang asing di hostel atau stasiun kereta atau di tikungan jalan yang baru kamu temui dan baru bicara dua menit, bertanya, „Baru pertama kali di sini?“
Apa jawabanmu?!

Berbohong !!!!!
                                                                    ∞ ∞
Pada suatu sore yang teduh yang sering dipakai untuk tidur siang di desa saya—awal tahun 1990— kakak saya Erik beranjak menuju pintu, mengikuti sebuah suara mengetuk. Kakak-kakak saya (termasuk saya di kemudian hari, yang saat itu masih bayi) adalah pemberontak anti tidur siang.
Erik tidak membuka pintu, tapi malah mengintip lewat jendela kaca nako yang letaknya tepat di samping pintu. Seorang pria dewasa tak dikenal berdiri di depannya, berbatasan kaca dan tembok, sepertinya suara ketukan tadi berasal darinya.
"Selamat sore adek, Bapa ada?“ suara itu ramah.
„Ada tidur,“ sahut kakak saya datar. (=sedang tidur)
„Mama?“ Tidak menyerah orang itu.
„Mama juga ada tidur.“ 
„Bisa bangunkan ko, adek?“ Orang itu musti rentenir atau sales, yang tidak kami harapkan!Niat!
Tentu saja kakak saya berbohong. Siapa sangka dia dapat ide itu?! Rumah kami saat itu kosong, dia seorang diri di sana. Dia masih anak SD saat itu, tapi dia tahu cara main. Saya takjub dan bangga pada kakak saya ketika kami sudah cukup besar untuk diceritakan tentang kejadian sore itu oleh orang tua kami. Mereka merasakan hal yang sama, karena mereka tidak pernah mengajarkan kami untuk mengatakan yang lain selain fakta dan kenyataan. Tetapi kakak saya nampaknya tipe yang lebih praktis. Kami tidak tahu orang macam apa itu, apa inginnya, dari mana asalnya, apakah dia orang baik, atau orang jahat… 
Desa kami terpencil dan orang-orangnya naif, mereka saling kenal satu sama lain, dan selalu beranggapan positif terhadap orang asing, tidak seperti di negara maju seperti Jerman; sejak kecil seorang anak diajarkan untuk tidak bicara dengan orang asing, dan bahkan diajarkan bahwa orang asing bisa ingin melakukan kejahatan kepada mereka. Tapi ajaran itu tidak sepenuhnya salah! Berhati-hati, kata kuncinya. 
Orang tua saya yang baik hati dan jujur tidak pernah terpikir akan ada orang berkeinginan jahat di desa asri kami di awal tahun 1990!!!  Well, who knows! Tapi kakak saya pandai! Bisa jadi orang asing tadi penculik anak, perampok rumah, atau apapun hal keji yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia polos era itu!
Orang asing tadi akhirnya pergi karena Erik menolak membukakan pintu dan menolak membangunkan orang tua saya demi menemui dia. Erik memang berbohong, tetapi untuk melindungi kami, dan paling utama dirinya sendiri.

Rabu, 09 Januari 2019

Enam Menit Dalam Sehari: Bersyukur & Berterimakasih

Saya mau bercerita kali ini apa yang membuat saya sangat berterimakasih berada di sini dan menjadi saya. Ini bukan berarti karena saya adalah manusia yang terlahir menurut navigasi bintang timur, terlahir di tengah keluarga kaya dan bahagia, yang hidupnya hanya tinggal menjentik jari dan segala sesuatu dihantarkan begitu saja ke atas pangkuan saya. Sama sekali tidak, bahkan jauh lebih buruk dari yang orang bisa bayangkan. Ini juga bukan berarti hidup saya mulus-mulus saja! Banyak orang mengutuk tahun 2018. Bagaikan rollercoaster, itu juga yang saya rasakan. Setelah diguncang dan diuji kesabaran saya sepanjang tahun, mendekati tahun baru malah saya dapat puncaknya. Berikut anekdotnya.
Sementara saya sedang bekerja, Chefin saya memanggil saya ke ruang sosialisasi untuk „bicara“. Saya hampir membayangkan kalimat seperti, „Frau Ambon, kami puas dengan kerja Anda dan saya sudah menandatangani kontrak permanen untuk Anda.“ Saya ikut.
Sedikit penjelasan ya, saya ini sudah selesai Ausbildung dan saya bekerja di Praxis (Praxis= Praktek; sejenis klinik) ini sejak lima setengah bulan yang lalu. Aturan di Jerman, enam bulan itu masa Probation. Memasuki bulan keenam si calon karyawan tetap baru boleh tahu arah nasibnya berikutnya mau ke mana.
Di sana sudah duduk seorang dokter lainnya yang wajahnya sudah saya tebak, dalam hati saya, Well, I´m a strong woman!
Chefin saya mengutarakan sebaris alibi singkat yang intinya dalam waktu sangat dekat ini saya harus mencari Praxis lain. Sekuat apa pun seseorang, tetap saja saya manusia dengan perasaan dan emosi. Saya menangis. Terlebih karena saya sudah sangat bekerja keras sampai saya psikosomatis dan lebih sakit lagi karena saya tahu itu hanya alibi.
Saya berterimakasih kepada para dokter atas semua yang boleh saya dapatkan selama lima setengah bulan terakhir ini di sana. Lantas mereka berdua pergi dan datanglah rekan-rekan kerja saya, memeluk dan mengucapkan, „Es tut mir leid.“ Yang membuat saya semakin sadar betapa naasnya nasib saya saat itu karena mereka pun bilang bahwa mereka sama sekali tidak bisa mengerti kenapa saya diberhentikan. Mereka mengutarakan pengamatan pribadi mereka tentang saya dengan tulus bahkan mereka sendiri hampir menangis. Saya, tambah kencang. Meskipun baru lima setengah bulan bekerja, saya merasa sudah mengenal Praxis itu 3 tahun! Saya memang mengorbankan pikiran dan perasaan secara total di sana. Lokasi strategis, jam kerja yang per Shift, gaji yang bagus, kolega kerja yang super ramah plus anti hierarki ditambah suasana Praxis yang selalu damai dan tentram… Saya kehilangan semua itu! Kehilangan Sang Zona Nyaman. Baru juga beberapa bulan saya nikmati.
Pemberhentian saya itu hanya 2,5 minggu sebelum natal. Itu berarti bencana. Desember adalah bulan dengan jumlah tanggal merah terbanyak dan berturut-turut pula! Banyak Paxis yang mengambil libur panjang bahkan sebelum natal. Belum lagi, secara logika tidak pas dengan rekapitulasi pajak yang mana biasanya dilakukan pada akhir tahun. Dengan kata lain, tidak akan ada employer yang mau menerima seseorang baru bekerja pada bulan Desember. Artinya saya akan nganggur  sampai….. sampai saya tidak bisa tidur!
Di Jerman ini kamu boleh memiliki 5 anak di luar nikah, kawin cerai berkali-kali, keluarkan diri dari gereja, nikah hanya di kantor catatan sipil tanpa ritual pemberkatan sama sekali, menjadi lesbi atau gay, mengganti jenis kelamin dst… Tapi pengangguran itu tabu setabu-tabunya. Tidak hanya kamu akan dilirik sebelah mata oleh lingkungan sosial, kamu juga akan kehilangan banyak kesempatan. Pada kasus kronis, kamu malah kehilangan jati diri dan ambruk ke taraf Low Self-Esteem. Pasalnya hampir semua orang dewasa yang kamu kenal bekerja. Ditambah, pajak dan asuransi adalah „agama“ utama di sini. Jika seseorang tidak bekerja, dia akan mendapat subsidi dari pemerintah (Kedengarannya enak? Tidak!). Subsidi itu berisi 60 % total gaji brutto terakhir yang Anda dapatkan selama 12 bulan terahir ketika masih aktif bekerja. Nah, kenapa tadi saya bisik, Tidak enak! Karena dengan uang itu di sini kamu hanya bisa bertahan hidup, namun kamu tidak hidup. Kamu hanya bisa membayar kamar kos dan makan, sudah! Tidak ada lagi bioskop, nongkrong, ngafe dll… Itulah sebabnya orang-orang yang nganggur memiliki kontak sosial yang secara kontinuu mereduksi. Nah, kalau kelamaan nganggur di Jerman, kamu tidak bisa keep-up dengan progres pergaulan sosial, dan jika itu sudah menahun, kamu terancam mengalami kemunduran rasa percaya diri dan self-esteem yang bisa berakibat psikis. Yahh… kecuali kalo situ punya Sugar Daddy! Lain cerita.
Lalu apakah saya survive?
Berhari-hari setelah pemecatan itu saya tidak melakukan apa-apa. Hanya bernapas dan let go. Tapi move on belum sanggup. Saya tidak marah, saya tidak drop, hanya kekhawatiran yang menari-nari di permukaan alam bawah sadar. Saya tidak buta, saya tahu mereka ada di sana, menari!
Saya seorang diri di Jerman, saya tidak punya siapa-siapa untuk dijadikan sumber pinjaman dana kalau-kalau sesuatu yang mendadak menimpa saya. Saya harus membayar kamar, saya harus mengirimkan orang tua saya uang, saya harus membayar rekening telepon, potongan bank, dan saya harus makan man!  Perasaan takut itu berkecamuk dengan sakitnya hati menerima kenyataan bahwa saya tidak akan bekerja lagi di Praxis favorit saya. Sakit karena kerja keras saya tidak dihargai. Sakit karena saya kehilangan stabilitas itu. It only took one day to lose it all.
Rasa sakit itu ada, tapi tidak ada penderitaan. Karena saya menolak secara sadar untuk memainkan peran Sang Korban—saya hanya butuh waktu untuk menghirup  udara. Saya menerima kenyataan apa adanya, namun rasa kaget disepak itu pasti ada. Rasa kaget itu membuat saya „koma“ sebelas hari. Sebelas hari kemudian baru saya akhirnya menulis lamaran ke tempat baru. Saya tahu perubahan itu adalah hal paling nyata dan paling abadi yang pernah ada. Saya justru akan menderita jika saya paksakan realita terjadi menurut kehendak saya hanya karena saya sudah punya ekspektasi tentang bagaimana hidup saya harus terjadi. Tetapi itu tadi, bahwa saya bisa sampai ke titik pemahaman ini, bukanlah perjalanan yang singkat, sodara-sodara! Bahwa saya bisa menerima dengan ikhlas, saya berterimakasih atas limpahnya cobaan yang menimpa saya selama tahun 2018.
Hanya karena saya tinggal dan bekerja di Jerman, bukan berarti hidup saya menjadi lebih gampang daripada kalian di seberang sana, justru kebalikannnya. Di sini memang tersedia lebih banyak kesempatan tetapi justru itulah yang membuat tantangan hidup jadi lebih keras. Hanya karena kesempatan itu "tersedia" bukan berarti dia didapatkan dengan cuma-cuma ya. Contohnya hanya karena badanmu berada di Jerman bukan berarti kamu disambet Bahasa Jerman sampai lancar.
Kembali ke inti pertanyaan di atas tentang survival. Saya pernah dengar bahwa menuliskan hal-hal positif bisa membantu kita merasa bersyukur dan bersukacita. Secara tidak sengaja bulan November lalu saya terantuk oleh sebuah buku diary tebal yang designnya seperti jurnal. Nama buku itu Diary 6 Menit. Karena 3 menit diisi pagi, 3 menit malam. Satu hari satu halaman. Setiap pagi kamu harus tulis tiga hal yang membuat kamu bersyukur; dan seperti apakah kamu melihat dirimu, terutama di masa depan nanti. Kamu tidak usah tunggu dapat hadiah dari seseorang untuk bisa bersyukur, mulai saja dari hal sepele, „Saya bersyukur hari ini cuaca tidak begitu berangin.“ Atau, „Saya bersyukur bahwa saya tidak terlambat ke tempat kerja hari ini.“ Lantas tiga menit malamnya kamu diminta menulis hal baik apa yang telah kamu lakukan kepada orang lain pada hari itu dan 3 hal bagus yang kamu alami pada hari itu. Saya tanggapi diary itu secara serius dan sebulan kemudian saya rasakan efeknya. Ini bukan mi instan ya, saya cerna baik-baik apa yang saya tulis, dan saya dapati betapa beruntungnya saya jadi orang!!!
Saya terlahir dengan anggota tubuh yang lengkap, saya terlahir sehat dan cantik, saya memiliki rambut bergelombang yang hitam, tebal dan indah, saya diberkati talenta dan kemampuan berpikir yang baik, saya hampir tidak punya alergi (hanya terhadap  kacang tanah, itupun kadang), kulit saya memiliki resistensi yang luar biasa terhadap air, udara, cuaca, alergi, serangga (seumur hidup saya sudah digigit sekian banyak serangga dari desa saya sampai serangga Eropa, tapi kulit saya tahan banting), saya tidak membutuhkan behel, gigi saya terlahir rapi, putih dan bebas keropos, saya memiliki tulang yang luar biasa kuat, sepasang kaki yang perkasa, yang membawa saya ke tempat-tempat yang indah.
Kemanapun saya pergi, saya diperkenalkan dengan orang-orang yang baik hati, yang menawarkan kebaikan kepada saya, dan yang sudah menolong saya. Memang ada juga yang membodohi, membohongi, menghianati, mencaci, membenci, menjatuhkan saya, tapi here I am! What doesn´t kill you make you stronger. Saya mengunjungi sekolah terbaik dan berkenalan dengan orang-orang yang inspiratif, yang sampai hari ini menjaga kepercayaan saya. Itu semua gratis! Kalau sudah dikasi yang gratis-gratis lalu tidak tau bersyukur itu tidak tahu diri sekali!
Saya mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Jerman, bekerja dan menghasilkan uang di sini. Saya bicara bahasa Jerman dan memiliki teman dari berbagai negara. Dan meskipun saya jatuh dan bangun berkali-kali dalam pengejaran mimpi ini, Hey, i´m living my dream! I couldn´t ask for more!
Mungkin membaca itu di atas kalian bisa iritasi dengan saya, atas alasan yang saya tidak bisa bulatkan ke kata-kata. Tapi bagi kalian yang mengerti arah pikir saya, selamat menuliskan diri kalian, tentang berkat dan rejeki yang kalian dapat cuma-cuma!!! Supaya kalian tahu betapa beruntungnya kalian! Di jalan hidup saya ada begitu banyak batu dan kerikil yang menghalang, saya harus jauh dan tersungkur berkali-kali untuk bisa ada di titik pemahaman ini. Sukses bukanlah kata favorit saya, saya lebih suka sebuah keadaan di mana saya sadari apa yang saya punya: sekecil apa pun itu. Pernah dengar kalimat, „Jangan buang mutiara ke mulut babi!“? Orang yang tidak tahu bersyukur itu, sekalipun dikasi sebongkah berlian ke tangannya, dia tidak akan menyadari bahwa itu berharga. Bahwa itu berlian.
Terapi berterima kasih dan merasa syukur yang saya jalani lewat buku diary enam menit tadi membawa dampak yang luar biasa. Saya lebih relax menanggapi masalah atau menanggapi seorang teman yang mentalnya susah diajak kerja sama, saya lebih lihai bergaul dengan/dalam stress dan tekanan, saya lebih bisa bahagia dan puas dalam berbagai hal, saya lebih berorientasi kepada orang dengan siapa saya bicara. Ini semua lebih daripada hadiah bagi saya!
Menurut pengalaman saya, bersyukur dan berterimakasih membantu kita dalam mengatasi rasa takut akan perubahan. Ini saya bicara atas nama sendiri. Karena rasa syukur, saya tidak lagi merengek tentang masalah sepele, atau sekalipun masalahnya besar, saya tidak bereaksi ekstrim. Hanya karena saya harus pindah rumah atau tempat kerja, saya tidak perlu bad mood sampai semua orang ikutan bad mood. Selain itu sejauh pengamatan saya, kita jadi nyeni dalam menjalani Live for the Moment. Contohnya jika kamu berada dalam sebuah acara kumpul-kumpul, kamu tidak perlu menularkan bad mood kamu hanya karena kamu sebal dengan sesuatu. Hey, leave it! Or just leave the crowd. Everybody is having fun and you are not, live for the moment, girl! Sayang kalau momen bahagia orang lain harus kamu rusakkan hanya karena saat ini hati dan kepalamu sedang berendam dalam masalahmu.
Beberapa hari menjelang natal saya mendapat wawancara di Praxis yang baru, jaraknya hanya 25 menit bis-kereta dari pintu rumah saya. Tempatnya sangat bersih, higienis, modern dan memiliki perlengkapan medis yang masih sangat baru. Dokternya hanya satu, ini berarti lebih sedikit stress dibandingkan tempat kerja saya yang lama (3 dokter). Ibu yang baik itu bersedia mempekerjakan saya dengan gaji yang lebih tinggi dari yang pernah saya dapatkan! Dan ini bukan satu-satunya Praxis yang bersedia menandatangani kontrak dengan saya! Yang bikin Jackpot adalah kami kerja tanpa istirahat dari jam 12.00-20.00 atau 8.00-16.00. Artinya saya masih punya waktu untuk hal lain selain gawe. Terimakasih semesta, betapa beruntungnya saya.
Pemecatan itu memang naas, sedih, pahit, sial, sakit, tapi saya menolak memainkan peran korban dalam hidup ini. Tapi cobalah pikir ke arah terbalik, kalau dia tidak memberhentikan saya, mana bisa saya naik tangga, mana bisa saya dapat kenaikan gaji, mana bisa saya hanya butuh 25 menit ke kerja? Karena ke Praxis yang lama saya butuh 40 menit! Tepat sekali, terkadang kita harus melepaskan beberapa hal akrab dalam diri kita yang sebenarnya proses pertumbuhan mental kita sudah tidak butuh itu lagi—dan memang rasanya ogah banget ya—untuk bisa menyambut hal baru. Sifat alamiah manusia adalah berpegang teguh atas sesuatu yang bagi dia sudah akrab, tetapi justru itulah yang membuat seorang manusia menderita. Karena penderitaan berasal dari ketidakterimaanmu atas sebuah perubahan, di mana kamu berusaha mengendalikan perubahan seturut kehendakmu. Padahal satu-satunya yang abadi di dunia ini adalah perubahan. Perubahan adalah inti peradaban. Inti dari eksistensinya waktu. Inti dari evolusi dan revolusi. Menurut Darwin, Bapak Evolusi, orang yang paling bisa bertahan bukanlah mereka yang paling kuat, melainkan mereka yang paling bisa mneyesuaikan diri. Kamu tidak bisa menentukan arah angin, juga tidak bisa mengendalikan ke mana lajunya. Kamu hanya bisa menyesuaikan layarmu.
Tanpa perubahan kita tidak bertumbuh dan berkembang. Saya berterimakasih dan bersyukur untuk itu.
Menerima, jangan menolak. Bersyukur, jangan mengeluh. Amati, jangan judge. Let go and move on!
Selamat berterimakasih dan beryukur.