Kamis, 10 Januari 2019

Apa Kabar Praha: Anekdot Solo Trip

Seperti yang sudah saya sebutkan pada bagian pertama tentang Solo Trip ini, saya anti wisata pernah. Saya lebih suka berada dalam „Sekarang dan Di sini“, jadi saya tidak kejar tayang. Saya tidak ngebut harus ke sini atau ke situ pada hari Satu, hari dua dan hari tiga. Definisi trip saya hampir mirip dengan ziarah. Jadi, bukan tentang mencentang berapa gedung yang sudah saya potret, dan berapa yang belum, tetapi apa yang saya lihat, apa yang saya alami dan ke mana memori saya memanggil ketika saya melihat sesuatu, mengamati sesuatu. It is all about me! Bagaimana suatu Scene melepaskan reaksi psikologis dalam saya dan bermain-main dengan indra dan rasa saya. Bagaimana itu menginspirasi dan menggugah saya, bagimana itu membuat saya bertanya dan jawabannya adalah pertanyaan juga. Itu yang saya cari.
Saya membiarkan diri saya terbawa arus. Dalam kesadaran dan kendali, karena saya inginkan arah, ke mana itu, saya belum tahu, lha makanya saya jalan-jalan sendiri untuk bertemu pintu-pintu yang baru. Maaf ya, mbak-mbak dan mas-mas, kalau saya terdengar rada spiritual. Aliran saya memang demikian, easy life is boring.
Saya tidak terbangun suatu pagi dan memutuskan untuk menggeledah isi dunia di luar sana. Saya memutuskan secara sadar, dan saya sudah tunggu seabad lamanya sampai mimpi itu matang untuk dipetik. Sehingga saya tidak ingin mendoktrin siapa pun yang membaca halaman ini, tidak pula menyalahkan mereka yang lebih suka travelling dengan teman atau pacar atau hewan…
Saya melihat dinding-dinding yang tidak kasat mata di sekeliling saya, seolah-olah gerak-gerik kita sudah terdefinisi, tapi intuisi saya selalu tahu, ada batas-batas yang memang bisa ditembus…Tidak hanya secara fisik, tapi juga psikis. Tidak hanya melintasi batas wilayah, tetapi juga menjejaki batas-batas dalam perspektif, dalam sudut pandang, dalam horison, cakrawala berpikir kita, dan terutama, bagaimana cara kita mamandang ke dalam diri…
Praha
Awal Summer 2018. Itu pertama kalinya saya meninggalkan sarang saya untuk keluar negeri. Dengan excited saya membooking dua hostel yang berbeda karena alasan budget dan ketersediaan waktu. Tadinya saya pikir itu ide bagus.
Satu malam sebelum check out hostel yang pertama saya iseng mencari alamat hostel berikutnya, ternyata letaknya hanya beberapa blok dari tempat saya menginap. Google Map menavigasikan saya ke sebuah hotel berbintang 3 (garuk kepala bingung: yang saya booking itu hostel) setiap kali saya mengklik peta dalam profil hostel yang ingin saya tuju itu. Sedikit tidak percaya: masakan mungkin dengan 14 Euro saya bisa dapat sesuatu di sana, mentok-mentok sebuah bantal di atas lantai, di koridor menuju dapur, itu pun kalau boleh!
Sedangkan dengan 17 Euro saja saya hanya bisa mendarat di sebuah hostel dan harus berbagi kamar dengan 15 orang asing lainnya, dalam tempat tidur tingkat, semuanya terhuni, kamar mandi cuma satu! Bahkan dulu di asrama Katolik Syuradikara, kami hanya ber enam sekamar! Hostel kedua saya ini menjanjikan kamar dan tempat tidur untuk sendiri! Harganya hanya 14 Euro pula! Saya hampir ngiler dibuatnya.
Topografi Praha sedikit bergelombang, saya yang berasal dari Kupang, Ende, Jogja dan Hamburg, tidak mengenal ini. Saya tidak terbiasa menaiki dan menuruni jejalanan. Saya harus mendaki untuk tiba di hotel berbintang tiga itu. Layaknya gedung-gedung di kota-kota di Eropa, hotel itu tidak berdiri seorang diri, melainkan saling menempel berjejeran dengan gedung-gedung lain, yang saya bisa lihat hanyalah fasadnya. Sebuah umbul-umbul hampir sama tingginya berkibar memisahkan batas dindingnya dengan dinding tetangga, tercetak nama hotel tersebut, tebal. Saya melangkah melewati lobi menuju konter, bertanya apakah ini alamat mereka, sambil menunjukkan alamat yang saya screenshot dari profil si hostel di Airbnb. „Tidak, alamat yang Anda cari letaknya di suatu tempat di belakang hotel ini, jalannya menurun. Hati-hati“ Kenyataannya jalan itu memang terlalu curam untuk… sepatu berhak saya dan kaum jompo dengan rollator. Setelah tersesat beberapa kali dan bertanya arah selusin kali, saya pun tiba di depan sesuatu yang tidak menyerupai hostel maupun hotel. Saya telpon si pemilik hostel, „Kenapa saya tidak melihat papan nama hostel Anda?“
„Tidak ada papan nama,“ sahut suara di seberang, seolah-olah itu normal: hostel tanpa papan nama.
„Mana pintumu? Saya ingin bicara dengan resepsionis!“ desak saya.
„Tidak ada resepsionis, saya sekeluarga juga tidak tinggal di sana“ jawabnya santai. Mulut saya menganga.
OK, saya kenal beberapa orang yang menyewakan apartemen mereka pada saat weekend, sementara mereka hengkang ke tempat pacar atau orang tua: „Sambil Rileks-Berendam-Minum Cappucino-Selfie, uang mengalir ke kantong kasir“, bunyi moto mereka. Tapi saya keliru total! Suara di hape saya menginstruksikan saya untuk melangkah beberapa meter ke samping, sampai saya menemukan sebuah pintu dicat kuning yang ada poster Kodaknya. Lewat kaca pintu itu saya berusaha mengintip, tapi susah karena gelap. Saya berani sumpah, apa pun yang ada di dalam sana, tidak bisa dibandingkan secuil pun dengan sebuah hostel.
 „Datang saja besok kalau mau check in, jam 9 kan? Nanti saya telpon tepat waktu. Tapi sekarang kamu sudah tahu di mana pintu masuknya! Bye!“ tutupnya meninggalkan alarm buruk di kepala saya! Kembali ke hostel dengan perasaan tidak aman malam itu.
Keesokannya petualangan Jumanji dimulai! Saya ditelpon tepat jam 9, saya barusan check out dan berpisah dengan 16 dipan tingkat.
„Bagaimana saya bisa masuk kalau tidak ada resepsionis dan kamu tidak tinggal di sini?“ saya hampir mengucapkan itu dalam teriakan.
Instruksi berikut yang saya dapat; saya hampir pikir saya tuli. „Pergi ke pintu sebelah (tetangga), di sampingnya ada beberapa kotak surat, cari yang namanya XXX (saya samarkan), coba buka pintunya, kalau susah ditinju saja. Kunci kamarmu ada di dalam sana.“ Mulut saya sekarang sudah kemasukan lalat!
Dia benar, saya harus tinju untuk membuka kotak surat rongsokan itu! Dengan kunci itu saya berhasil masuk ke sesuatu yang dijanjikan sebagai hostel. Saya melangkah di antara penasaran dan enggan, sesuatu dalam diri saya tahu, saya tidak akan suka dengan apa yang akan saya lihat. Kini alarm di kepala saya tidak lagi memukul seperti gong, melainkan membisu dan saya hampir menangis.
„Hallo?“ Ternyata kami masih terhubung. Saking shocknya saya tidak sadari hape saya masih menempel di telinga.
„Mana kamar saya?“ Tanya saya membeku di dalam sebuah studio foto, yang dia iklankan di Airbnb sebagai hostel.
„Itulah kamarmu.“ Nadanya seperti tanpa dosa. Sepertinya ini bukan kali pertama dia berbohong tentang akomodasi ini.
„Mana tempat tidurnya?“ Saya tentu bukan satu-satunya korban penipuan.
„Coba tengkok ke atas.“ Saya melakukan yang disuruh. Dan tempat tidur itu melayang di antara atap dan lantai, tepat di atas kepala saya.
„Bagaimana saya bisa sampai ke atas?“ Tanya saya pasrah.
„Di ruangan sebelah ada tangga portabel.“ Tutornya dengan nada yang sangat terlatih dan sangat biasa seolah-olah nasib saya saat ini sedang sangat luar biasa prima.
Singkat kata, apa pun yang saya singkap di sana hanyalah berita dan mimpi buruk. Itu ternyata adalah studio foto, tempat si pemilik „hostel“ bekerja. Sebuah mesin pencetak raksasa bernaung di sudut ruangan, di antara tumpukan kertas. Di dinding-dindingnya, baik di ruang depan maupun ruang belakang menuju toilet, terpampang foto-foto hitam putih dari awal tahun 1900 (wtf!), ada yang posenya malah close up sehingga saya merasa di mana pun saya berdiri, rasa-rasanya mereka sedang menatap saya. Sial!!! Saat saya mencari kamar mandi, saya malah hanya menemukan sebuah toilet dengan tisu yang sepertiganya sudah terpakai. Tidak ada air hangat di wastafel. Kasur yang saya tiduri tidak berselimut dan sepreinya tidak diganti. Welcome to…Prague! Saya tidak hanya tidak bisa mandi, saya juga akan tidak bisa tidur!!! Setelah seharian menikmati Praha dan lagi-lagi tersesat, malamnya saya kembali ke gubuk Kodak saya untuk ganti baju, selanjutnya saya akan menghadiri pertemuan para Couchsurfers di sebuah taman di tepi bukit. Dengan begitu, hari saya akan menjadi lebih sedikit menyedihkan. Dari taman itu tadi orang bisa melihat seluruh kota Praha dan pemandangannya luar biasa indah. Sesampai saya di sana, ternyata saya bukan saja menjadi sedikit rileks, melainkan mendapatkan malam yang luar biasa menyenangkan dan mengumpulkan kontak, dengan beberapa di antaranya masih saling bertukar kabar sampai hari ini.
Airbnb Vs Couchsurfing
Itu terjadi pada hari kedua, pada hari yang pertama saya dikonfrontasikan dengan ngoroknya sang tetangga dipan dan toilet yang rusak; dan hari ke tiga, sekaligus hari terakhir saya hengkang dari gubuk kodak, dihadapkan dengan bateri hape yang mati dan dengan last-minute-request, saya kabur ke rumah Pavel, Host dari Couchsurfing yang baik hati dan membagikan saya sepenggal fase hidupnya yang sangat inspiratif.
Offline is Luxus?
Saya baru tahu kalau saya tidak tahu cara bergaul baik dengan dunia digital maupun analog.
Peta darurat di tangan saya yang saya cabut dari konter hostel saya, pasti sudah menertawakan saya sejak tadi kalau dia bisa bersuara. Saya tersesat bertubi-tubi. Ternyata saya manusia yang tidak hanya vintage dan konvensional, tetapi juga gaptek. Menyedihkan. Saya pikir saya harus menjalani hubungan yang serius dengan teknologi!! 
Kesepian=terapi
Bohong kalau saya bilang kamu tidak akan kesepian, terutama jika solo trip mu lebih dari 4 hari. Memang akan ada momen di mana kesepian muncul, tetapi justru ini bagus; kamu dikonfrontasikan dengan hal-hal tak terduga, dalam kasus ini kesepian. Menengok ke belakang, dalam keseharianmu di kos/flat, kesepian kau tepis dengan cara kabur ke/bersama teman untuk nogkrong misalnya.  (Yang saya baca nih: kita memang seringya mencari kebahagiaan dalam diri orang lain; itu tidak bagus: sampai kapan ketergantungan ini?). Lantas kenapa manusia takut dengan kesepian? Atau selalu menghindarinya? Gampang, karena ia melepas pelatuk ketidakpastian dan keraguan dalam diri kita. Nah, Solo Trip mengajarkan kita bagaimana cara bergaul dengannya.
Mau terlihat menarik di Instagram?
Orang solo travelling itu kalau bukan foto sebuah objek tanpa dirinya, ya foto di depan apa pun yang bisa memantulkan bayangannya sendiri. Terjemahannya, saya tidak perlu membuat teman seperjalanan saya menderita hanya karena saya ingin terlihat menarik di Instagram. Boro-boro saya memanfaatkan kehadiran teman, yang ada saya malah sangat berterima kasih atas kehadiran orang-orang asing yang menunjukkan saya arah dan jalan saat saya desorientasi. Saat itulah saya benar-benar sadar betapa beruntungnya saya, dan bahwa kebaikan manusia tidak otomatis harganya. Tidak lagi anggap enteng bantuan orang! 
Perempuan, sendiri, asing.
Ketika saya cerita ke kolega-kolega di tempat kerja; hendak travel ke Praha solo, saya dapat pelototan. Tanpa membiarkan spekulasi menghantui pikiran, dengarkan suara hati. Intuisi. Jika kamu mendengar alarm berbunyi di suatu tempat dalam hatimu, pasang telinga baik-baik. Manusia dikaruniai firasat. Gunakan dengan bijaksana. Apa pun yang kamu lakukan, lakukanlah dengan kesadaran dan tanggung jawab; merujuk ke tiga kata yang saya cetak tebal di atas. Kalau memang perlu, tunjukkan batasmu. Universum ini kurang lebih adalah cerminnya kita, tapi yang namanya sial tidak ada hubungannya dengan apakah seseorang baik atau tidak ya. Emang kalian pernah lihat orang baik hidupnya melulu tanpa apes? Apes itu seperti KFC, ada di mana-mana! Mengantisipasi ini, kita hanya bisa jeli melihat dan perhatian, awas lalai. Live for the moment, tanpa perlu Paranoia.
Yang ingin saya katakan adalah, sebelum saya mengakhiri tulisan ini, saya ingin bercerita tentang anekdot dari masa kecil saya di kampuang kito nun jauh di mato…Ada tips di balik itu. Kalau ada orang asing di hostel atau stasiun kereta atau di tikungan jalan yang baru kamu temui dan baru bicara dua menit, bertanya, „Baru pertama kali di sini?“
Apa jawabanmu?!

Berbohong !!!!!
                                                                    ∞ ∞
Pada suatu sore yang teduh yang sering dipakai untuk tidur siang di desa saya—awal tahun 1990— kakak saya Erik beranjak menuju pintu, mengikuti sebuah suara mengetuk. Kakak-kakak saya (termasuk saya di kemudian hari, yang saat itu masih bayi) adalah pemberontak anti tidur siang.
Erik tidak membuka pintu, tapi malah mengintip lewat jendela kaca nako yang letaknya tepat di samping pintu. Seorang pria dewasa tak dikenal berdiri di depannya, berbatasan kaca dan tembok, sepertinya suara ketukan tadi berasal darinya.
"Selamat sore adek, Bapa ada?“ suara itu ramah.
„Ada tidur,“ sahut kakak saya datar. (=sedang tidur)
„Mama?“ Tidak menyerah orang itu.
„Mama juga ada tidur.“ 
„Bisa bangunkan ko, adek?“ Orang itu musti rentenir atau sales, yang tidak kami harapkan!Niat!
Tentu saja kakak saya berbohong. Siapa sangka dia dapat ide itu?! Rumah kami saat itu kosong, dia seorang diri di sana. Dia masih anak SD saat itu, tapi dia tahu cara main. Saya takjub dan bangga pada kakak saya ketika kami sudah cukup besar untuk diceritakan tentang kejadian sore itu oleh orang tua kami. Mereka merasakan hal yang sama, karena mereka tidak pernah mengajarkan kami untuk mengatakan yang lain selain fakta dan kenyataan. Tetapi kakak saya nampaknya tipe yang lebih praktis. Kami tidak tahu orang macam apa itu, apa inginnya, dari mana asalnya, apakah dia orang baik, atau orang jahat… 
Desa kami terpencil dan orang-orangnya naif, mereka saling kenal satu sama lain, dan selalu beranggapan positif terhadap orang asing, tidak seperti di negara maju seperti Jerman; sejak kecil seorang anak diajarkan untuk tidak bicara dengan orang asing, dan bahkan diajarkan bahwa orang asing bisa ingin melakukan kejahatan kepada mereka. Tapi ajaran itu tidak sepenuhnya salah! Berhati-hati, kata kuncinya. 
Orang tua saya yang baik hati dan jujur tidak pernah terpikir akan ada orang berkeinginan jahat di desa asri kami di awal tahun 1990!!!  Well, who knows! Tapi kakak saya pandai! Bisa jadi orang asing tadi penculik anak, perampok rumah, atau apapun hal keji yang tidak pernah terpikirkan oleh manusia polos era itu!
Orang asing tadi akhirnya pergi karena Erik menolak membukakan pintu dan menolak membangunkan orang tua saya demi menemui dia. Erik memang berbohong, tetapi untuk melindungi kami, dan paling utama dirinya sendiri.

Rabu, 09 Januari 2019

Enam Menit Dalam Sehari: Bersyukur & Berterimakasih

Saya mau bercerita kali ini apa yang membuat saya sangat berterimakasih berada di sini dan menjadi saya. Ini bukan berarti karena saya adalah manusia yang terlahir menurut navigasi bintang timur, terlahir di tengah keluarga kaya dan bahagia, yang hidupnya hanya tinggal menjentik jari dan segala sesuatu dihantarkan begitu saja ke atas pangkuan saya. Sama sekali tidak, bahkan jauh lebih buruk dari yang orang bisa bayangkan. Ini juga bukan berarti hidup saya mulus-mulus saja! Banyak orang mengutuk tahun 2018. Bagaikan rollercoaster, itu juga yang saya rasakan. Setelah diguncang dan diuji kesabaran saya sepanjang tahun, mendekati tahun baru malah saya dapat puncaknya. Berikut anekdotnya.
Sementara saya sedang bekerja, Chefin saya memanggil saya ke ruang sosialisasi untuk „bicara“. Saya hampir membayangkan kalimat seperti, „Frau Ambon, kami puas dengan kerja Anda dan saya sudah menandatangani kontrak permanen untuk Anda.“ Saya ikut.
Sedikit penjelasan ya, saya ini sudah selesai Ausbildung dan saya bekerja di Praxis (Praxis= Praktek; sejenis klinik) ini sejak lima setengah bulan yang lalu. Aturan di Jerman, enam bulan itu masa Probation. Memasuki bulan keenam si calon karyawan tetap baru boleh tahu arah nasibnya berikutnya mau ke mana.
Di sana sudah duduk seorang dokter lainnya yang wajahnya sudah saya tebak, dalam hati saya, Well, I´m a strong woman!
Chefin saya mengutarakan sebaris alibi singkat yang intinya dalam waktu sangat dekat ini saya harus mencari Praxis lain. Sekuat apa pun seseorang, tetap saja saya manusia dengan perasaan dan emosi. Saya menangis. Terlebih karena saya sudah sangat bekerja keras sampai saya psikosomatis dan lebih sakit lagi karena saya tahu itu hanya alibi.
Saya berterimakasih kepada para dokter atas semua yang boleh saya dapatkan selama lima setengah bulan terakhir ini di sana. Lantas mereka berdua pergi dan datanglah rekan-rekan kerja saya, memeluk dan mengucapkan, „Es tut mir leid.“ Yang membuat saya semakin sadar betapa naasnya nasib saya saat itu karena mereka pun bilang bahwa mereka sama sekali tidak bisa mengerti kenapa saya diberhentikan. Mereka mengutarakan pengamatan pribadi mereka tentang saya dengan tulus bahkan mereka sendiri hampir menangis. Saya, tambah kencang. Meskipun baru lima setengah bulan bekerja, saya merasa sudah mengenal Praxis itu 3 tahun! Saya memang mengorbankan pikiran dan perasaan secara total di sana. Lokasi strategis, jam kerja yang per Shift, gaji yang bagus, kolega kerja yang super ramah plus anti hierarki ditambah suasana Praxis yang selalu damai dan tentram… Saya kehilangan semua itu! Kehilangan Sang Zona Nyaman. Baru juga beberapa bulan saya nikmati.
Pemberhentian saya itu hanya 2,5 minggu sebelum natal. Itu berarti bencana. Desember adalah bulan dengan jumlah tanggal merah terbanyak dan berturut-turut pula! Banyak Paxis yang mengambil libur panjang bahkan sebelum natal. Belum lagi, secara logika tidak pas dengan rekapitulasi pajak yang mana biasanya dilakukan pada akhir tahun. Dengan kata lain, tidak akan ada employer yang mau menerima seseorang baru bekerja pada bulan Desember. Artinya saya akan nganggur  sampai….. sampai saya tidak bisa tidur!
Di Jerman ini kamu boleh memiliki 5 anak di luar nikah, kawin cerai berkali-kali, keluarkan diri dari gereja, nikah hanya di kantor catatan sipil tanpa ritual pemberkatan sama sekali, menjadi lesbi atau gay, mengganti jenis kelamin dst… Tapi pengangguran itu tabu setabu-tabunya. Tidak hanya kamu akan dilirik sebelah mata oleh lingkungan sosial, kamu juga akan kehilangan banyak kesempatan. Pada kasus kronis, kamu malah kehilangan jati diri dan ambruk ke taraf Low Self-Esteem. Pasalnya hampir semua orang dewasa yang kamu kenal bekerja. Ditambah, pajak dan asuransi adalah „agama“ utama di sini. Jika seseorang tidak bekerja, dia akan mendapat subsidi dari pemerintah (Kedengarannya enak? Tidak!). Subsidi itu berisi 60 % total gaji brutto terakhir yang Anda dapatkan selama 12 bulan terahir ketika masih aktif bekerja. Nah, kenapa tadi saya bisik, Tidak enak! Karena dengan uang itu di sini kamu hanya bisa bertahan hidup, namun kamu tidak hidup. Kamu hanya bisa membayar kamar kos dan makan, sudah! Tidak ada lagi bioskop, nongkrong, ngafe dll… Itulah sebabnya orang-orang yang nganggur memiliki kontak sosial yang secara kontinuu mereduksi. Nah, kalau kelamaan nganggur di Jerman, kamu tidak bisa keep-up dengan progres pergaulan sosial, dan jika itu sudah menahun, kamu terancam mengalami kemunduran rasa percaya diri dan self-esteem yang bisa berakibat psikis. Yahh… kecuali kalo situ punya Sugar Daddy! Lain cerita.
Lalu apakah saya survive?
Berhari-hari setelah pemecatan itu saya tidak melakukan apa-apa. Hanya bernapas dan let go. Tapi move on belum sanggup. Saya tidak marah, saya tidak drop, hanya kekhawatiran yang menari-nari di permukaan alam bawah sadar. Saya tidak buta, saya tahu mereka ada di sana, menari!
Saya seorang diri di Jerman, saya tidak punya siapa-siapa untuk dijadikan sumber pinjaman dana kalau-kalau sesuatu yang mendadak menimpa saya. Saya harus membayar kamar, saya harus mengirimkan orang tua saya uang, saya harus membayar rekening telepon, potongan bank, dan saya harus makan man!  Perasaan takut itu berkecamuk dengan sakitnya hati menerima kenyataan bahwa saya tidak akan bekerja lagi di Praxis favorit saya. Sakit karena kerja keras saya tidak dihargai. Sakit karena saya kehilangan stabilitas itu. It only took one day to lose it all.
Rasa sakit itu ada, tapi tidak ada penderitaan. Karena saya menolak secara sadar untuk memainkan peran Sang Korban—saya hanya butuh waktu untuk menghirup  udara. Saya menerima kenyataan apa adanya, namun rasa kaget disepak itu pasti ada. Rasa kaget itu membuat saya „koma“ sebelas hari. Sebelas hari kemudian baru saya akhirnya menulis lamaran ke tempat baru. Saya tahu perubahan itu adalah hal paling nyata dan paling abadi yang pernah ada. Saya justru akan menderita jika saya paksakan realita terjadi menurut kehendak saya hanya karena saya sudah punya ekspektasi tentang bagaimana hidup saya harus terjadi. Tetapi itu tadi, bahwa saya bisa sampai ke titik pemahaman ini, bukanlah perjalanan yang singkat, sodara-sodara! Bahwa saya bisa menerima dengan ikhlas, saya berterimakasih atas limpahnya cobaan yang menimpa saya selama tahun 2018.
Hanya karena saya tinggal dan bekerja di Jerman, bukan berarti hidup saya menjadi lebih gampang daripada kalian di seberang sana, justru kebalikannnya. Di sini memang tersedia lebih banyak kesempatan tetapi justru itulah yang membuat tantangan hidup jadi lebih keras. Hanya karena kesempatan itu "tersedia" bukan berarti dia didapatkan dengan cuma-cuma ya. Contohnya hanya karena badanmu berada di Jerman bukan berarti kamu disambet Bahasa Jerman sampai lancar.
Kembali ke inti pertanyaan di atas tentang survival. Saya pernah dengar bahwa menuliskan hal-hal positif bisa membantu kita merasa bersyukur dan bersukacita. Secara tidak sengaja bulan November lalu saya terantuk oleh sebuah buku diary tebal yang designnya seperti jurnal. Nama buku itu Diary 6 Menit. Karena 3 menit diisi pagi, 3 menit malam. Satu hari satu halaman. Setiap pagi kamu harus tulis tiga hal yang membuat kamu bersyukur; dan seperti apakah kamu melihat dirimu, terutama di masa depan nanti. Kamu tidak usah tunggu dapat hadiah dari seseorang untuk bisa bersyukur, mulai saja dari hal sepele, „Saya bersyukur hari ini cuaca tidak begitu berangin.“ Atau, „Saya bersyukur bahwa saya tidak terlambat ke tempat kerja hari ini.“ Lantas tiga menit malamnya kamu diminta menulis hal baik apa yang telah kamu lakukan kepada orang lain pada hari itu dan 3 hal bagus yang kamu alami pada hari itu. Saya tanggapi diary itu secara serius dan sebulan kemudian saya rasakan efeknya. Ini bukan mi instan ya, saya cerna baik-baik apa yang saya tulis, dan saya dapati betapa beruntungnya saya jadi orang!!!
Saya terlahir dengan anggota tubuh yang lengkap, saya terlahir sehat dan cantik, saya memiliki rambut bergelombang yang hitam, tebal dan indah, saya diberkati talenta dan kemampuan berpikir yang baik, saya hampir tidak punya alergi (hanya terhadap  kacang tanah, itupun kadang), kulit saya memiliki resistensi yang luar biasa terhadap air, udara, cuaca, alergi, serangga (seumur hidup saya sudah digigit sekian banyak serangga dari desa saya sampai serangga Eropa, tapi kulit saya tahan banting), saya tidak membutuhkan behel, gigi saya terlahir rapi, putih dan bebas keropos, saya memiliki tulang yang luar biasa kuat, sepasang kaki yang perkasa, yang membawa saya ke tempat-tempat yang indah.
Kemanapun saya pergi, saya diperkenalkan dengan orang-orang yang baik hati, yang menawarkan kebaikan kepada saya, dan yang sudah menolong saya. Memang ada juga yang membodohi, membohongi, menghianati, mencaci, membenci, menjatuhkan saya, tapi here I am! What doesn´t kill you make you stronger. Saya mengunjungi sekolah terbaik dan berkenalan dengan orang-orang yang inspiratif, yang sampai hari ini menjaga kepercayaan saya. Itu semua gratis! Kalau sudah dikasi yang gratis-gratis lalu tidak tau bersyukur itu tidak tahu diri sekali!
Saya mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di Jerman, bekerja dan menghasilkan uang di sini. Saya bicara bahasa Jerman dan memiliki teman dari berbagai negara. Dan meskipun saya jatuh dan bangun berkali-kali dalam pengejaran mimpi ini, Hey, i´m living my dream! I couldn´t ask for more!
Mungkin membaca itu di atas kalian bisa iritasi dengan saya, atas alasan yang saya tidak bisa bulatkan ke kata-kata. Tapi bagi kalian yang mengerti arah pikir saya, selamat menuliskan diri kalian, tentang berkat dan rejeki yang kalian dapat cuma-cuma!!! Supaya kalian tahu betapa beruntungnya kalian! Di jalan hidup saya ada begitu banyak batu dan kerikil yang menghalang, saya harus jauh dan tersungkur berkali-kali untuk bisa ada di titik pemahaman ini. Sukses bukanlah kata favorit saya, saya lebih suka sebuah keadaan di mana saya sadari apa yang saya punya: sekecil apa pun itu. Pernah dengar kalimat, „Jangan buang mutiara ke mulut babi!“? Orang yang tidak tahu bersyukur itu, sekalipun dikasi sebongkah berlian ke tangannya, dia tidak akan menyadari bahwa itu berharga. Bahwa itu berlian.
Terapi berterima kasih dan merasa syukur yang saya jalani lewat buku diary enam menit tadi membawa dampak yang luar biasa. Saya lebih relax menanggapi masalah atau menanggapi seorang teman yang mentalnya susah diajak kerja sama, saya lebih lihai bergaul dengan/dalam stress dan tekanan, saya lebih bisa bahagia dan puas dalam berbagai hal, saya lebih berorientasi kepada orang dengan siapa saya bicara. Ini semua lebih daripada hadiah bagi saya!
Menurut pengalaman saya, bersyukur dan berterimakasih membantu kita dalam mengatasi rasa takut akan perubahan. Ini saya bicara atas nama sendiri. Karena rasa syukur, saya tidak lagi merengek tentang masalah sepele, atau sekalipun masalahnya besar, saya tidak bereaksi ekstrim. Hanya karena saya harus pindah rumah atau tempat kerja, saya tidak perlu bad mood sampai semua orang ikutan bad mood. Selain itu sejauh pengamatan saya, kita jadi nyeni dalam menjalani Live for the Moment. Contohnya jika kamu berada dalam sebuah acara kumpul-kumpul, kamu tidak perlu menularkan bad mood kamu hanya karena kamu sebal dengan sesuatu. Hey, leave it! Or just leave the crowd. Everybody is having fun and you are not, live for the moment, girl! Sayang kalau momen bahagia orang lain harus kamu rusakkan hanya karena saat ini hati dan kepalamu sedang berendam dalam masalahmu.
Beberapa hari menjelang natal saya mendapat wawancara di Praxis yang baru, jaraknya hanya 25 menit bis-kereta dari pintu rumah saya. Tempatnya sangat bersih, higienis, modern dan memiliki perlengkapan medis yang masih sangat baru. Dokternya hanya satu, ini berarti lebih sedikit stress dibandingkan tempat kerja saya yang lama (3 dokter). Ibu yang baik itu bersedia mempekerjakan saya dengan gaji yang lebih tinggi dari yang pernah saya dapatkan! Dan ini bukan satu-satunya Praxis yang bersedia menandatangani kontrak dengan saya! Yang bikin Jackpot adalah kami kerja tanpa istirahat dari jam 12.00-20.00 atau 8.00-16.00. Artinya saya masih punya waktu untuk hal lain selain gawe. Terimakasih semesta, betapa beruntungnya saya.
Pemecatan itu memang naas, sedih, pahit, sial, sakit, tapi saya menolak memainkan peran korban dalam hidup ini. Tapi cobalah pikir ke arah terbalik, kalau dia tidak memberhentikan saya, mana bisa saya naik tangga, mana bisa saya dapat kenaikan gaji, mana bisa saya hanya butuh 25 menit ke kerja? Karena ke Praxis yang lama saya butuh 40 menit! Tepat sekali, terkadang kita harus melepaskan beberapa hal akrab dalam diri kita yang sebenarnya proses pertumbuhan mental kita sudah tidak butuh itu lagi—dan memang rasanya ogah banget ya—untuk bisa menyambut hal baru. Sifat alamiah manusia adalah berpegang teguh atas sesuatu yang bagi dia sudah akrab, tetapi justru itulah yang membuat seorang manusia menderita. Karena penderitaan berasal dari ketidakterimaanmu atas sebuah perubahan, di mana kamu berusaha mengendalikan perubahan seturut kehendakmu. Padahal satu-satunya yang abadi di dunia ini adalah perubahan. Perubahan adalah inti peradaban. Inti dari eksistensinya waktu. Inti dari evolusi dan revolusi. Menurut Darwin, Bapak Evolusi, orang yang paling bisa bertahan bukanlah mereka yang paling kuat, melainkan mereka yang paling bisa mneyesuaikan diri. Kamu tidak bisa menentukan arah angin, juga tidak bisa mengendalikan ke mana lajunya. Kamu hanya bisa menyesuaikan layarmu.
Tanpa perubahan kita tidak bertumbuh dan berkembang. Saya berterimakasih dan bersyukur untuk itu.
Menerima, jangan menolak. Bersyukur, jangan mengeluh. Amati, jangan judge. Let go and move on!
Selamat berterimakasih dan beryukur.

Senin, 07 Januari 2019

You are Not What You Think: Mindfulness



Belakangan ini tema Mindfulness sangat kerap dibahas di media. Janjinya banyak. Orang bisa menjadi bahagia dan stabil secara emosional, bebas cemas, damai batin dan pikir, dsb. Sama seperti yoga dan meditasi, semua orang tiba-tiba bisa yoga untuk bisa diposting di feed dan story Instagram mereka. Sama halnya dengan Mindfulness: Itu hanya trend! Ciprat mereka. Banyak orang menanggapi ini dengan skepsis: Masakan hanya dengan menjadi sadar saya bisa mendapatkan kualitas-kualitas rohani itu.
https://es.dreamstime.com/stock-de-ilustración-el-optimismo-del-mindfulness-relaja-harmony-concept-image78549000
Jangan kabur dulu, kamu tidak perlu harus jadi biksu atau guru atau memiliki level spiritual yang tinggi untuk bisa mempraktekkan Mindfulness. Kita pakai Bahasa Indonesia saja ya, KESADARAN, supaya tidak terasa ideologi ini barat. Sama sekali tidak, kenyataannya adalah manusia asal manapun telah mempraktekkan satu dua butir dari konsep kesadaran berpikir ini tanpa mereka sadari suatu hari nanti akan dikaji sebuah bidang psikologi bernama kesadaran. Saya juga menulis ini karena saya mau berbagi pengalaman dan bahwa betapa esensialnya kesadaran itu dalam kehidupan kita sehari-hari!

Ini memang tema yang besar sementara saya hanya ingin menulis sebanyak sebuah mangkok. Dan saya tidak tahu bagaimana memadatkan air sesamudera ke dalam sebuah mangkok. Intinya, konsep Kesadaran itu memiliki cakupan yang luas. Di sini saya hanya ingin membahas satu topik kecil rantingnya: kamu bukanlah apa yang kamu pikirkan. Kenapa saya terdampar ke tema ini? Saya sering memikirkan sesuatu yang berefek membuat saya gelisah dan tidak bahagia. Bukan itu saja, saya jadi sedih dan berujung menarik diri karena pengkritik internal saya memvonis hal-hal yang padahal bukan fakta dijadikan fakta. Lantas dua tahun yang lalu saya berkenalan dengan konsep ini dan sejak saat itu saya merasa sangat sangat terbantu. Jadi ini memang bukan trend ya, kalo kata itu sempat terhinggap di benak kalian.

Pernahkah kamu melempar pertanyaan secara sadar ke pikiranmu seolah-olah dalam dirimu dihuni oleh dua orang yang berbeda? Pernahkah kamu mengamati pikiranmu sepeti mengamati lalu lintas di jalan: ada mobil si pejabat melaju ke selatan, ada Kawasaki yang ugal-ugalan, angkot ngebut ke utara, ada truk yang sopirnya ngantuk, ada macet di lampu merah, klakson di sana-sini, dan kamu berdiri di atas awan sambil mengamati setiap detail. Dan hanya mengamati. Bayangkan keadaan tadi adalah analogi situasi di pikiranmu. Dan kamu hanya mengamati. Rasanya aneh bukan? Tentu saja, karena kita tidak terbiasa mengamati pikiran kita. Kita cenderung mengalir bersama apa yang sedang kita pikirkan. Kita cenderung meluncur, menanjak, menurun dan menikung seirama dengan alirannya, sehingga kita kerap menyangka kita dan pikiran kita adalah satu. Adalah identik. Lama-kelamaan kamu berpikir pikiranmu mendefinisikan siapa kamu. Padahal tidak. Kenyataannya, you are not what you think. Secara kita manusia memiliki kemampun berpikir, tentu kita telah dan selalu memikirkan banyak hal yang baik maupun yang buruk, tetapi hal-hal ini tadi tidak membatasi siapa kita. Kenapa begitu? Karena yang selama ini kita kira siapa kita ternyata hanyalah sebatas sugesti tentang „siapa kita“. Siapa yang mensugesti? Otak kita. Pikiran kita. Jika sugesti itu bagus, tilik dan ambil, masalahnya tidak jarang sugesti itu justru jelek. Saya bicara dari pengalaman sendiri. Bahkan orang baik pun bisa memikirkan hal-hal yang tidak baik. Setuju? Saya rasa saya bukan satu-satunya di dunia ini. Saya memiliki rasa takut, cemas yang berlebihan, cemburu, iri, merasa tidak layak mendapatkan sesuatu, merasa tidak dicintai, merasa diri tidak cukup dan tidak diperhatikan oleh orang terdekat. Suatu ketika saya baca sebuah artikel yang menyarankan saya, „Bayangkan pikiranmu adalah lawan bicara internalmu, perhatikan apa yang sedang dia pikirkan dan tanyalah dia seperti seorang lawan bicara. Tanya, apa yang sedang dia pikirkan sekarang, meskipun kamu sudah tahu dia sedang pikir apa. Lantas tanya kenapa dia memikirkan itu. Tapi jangan terjerat dengan argumennya, tarik diri dan bersikap netral. Perlakukan pikiranmu seperti sesosok orang, arahkan itu ke dalam dialog.“ Ini memang terdengar gampang, tapi tricky! Mencoba itu bagi saya awalnya sangat sangat susah untuk menarik diri dari pikiran saya. Saya terus-menerus mengidentikkan diri dengan pikiran saya. Pikiran saya seperti sebuah lubang hitam, menyedot menuju ketidakterbatasan! Saya hampir selalu ditarik dan dibuat percaya dengan hipotesis-hipotesisnya.
Contoh dialog kami yang gagal:
Pikiran saya: „Bos kamu tidak menyukai kamu“                                                                   Saya: „Ok, kenapa?“
Pikiran saya: „Dia tidak balas menyapa kamu kemarin pagi, padahal kamu sudah sangat ramah.“
Saya: „Ya, benar, tapi mungkin dia kurang tidur.“
Pikiran saya: „Tapi minggu lalu juga begitu.“
Saya: „Mungkin dia kurang sex.“
Pikiran saya: „Tapi uang natal kamu juga tidak dia bayar.“                                        Saya: „Iya, padahal si Andrea yang suka alpa saja dikasih.“

Gagal total. Ujung-ujungnya saya sepakat dengan apa yang tadi pikiran saya pikirkan. Oh, iya yah, berarti dia tidak suka saya…

Menurut artikel yang saya baca itu, sekalipun si bos ini menunjukkan ciri-ciri seolah-olah tidak menyukai saya, saya tidak boleh menganggap itu sebagai fakta. Karena saya hanya menduga, mengira, merasa, menganalisis, menghipotesis dan itu semua masih jauh dari FAKTA. Kecuali si bos ini buka mulut dan bilang, „Saya tidak suka Anda, Fr. Ambon.“ Milikilah kemampuan untuk membedakan fakta dari pendapat.

Hal yang sama saya coba untuk implementasikan jika pikiran saya sedang memikirkan apakah pacar saya benar-benar mencintai saya. Nah, secara di dalam otak, lokasi di mana pikiran beroperasi, terdapat juga gudang memori, pikiran saya suka iseng mencari di antara tumpukkan yang berserakkan itu apakah ada keping-keping puzzel yang bisa dia jadikan barang bukti. Dari dialog di atas, bisa kita lihat keping-keping puzzel yang dia berhasil kumpulkan (dan dia selalu nemu!) adalah: „Tapi minggu lalu juga begitu.“ Dan „Tapi uang natal kamu juga tidak dia bayar.“ Zak! Puzzel terlengkapi dan kita pun percaya dengan apa yang tadinya sebenarnya hanya praduga, sekarang jadi fakta. Fakta pribadi.

Besok-besok kalau pikiranmu memikirkan sesuatu yang seperti itu tadi di atas, jawab saja, „Oh, begitu yah? Aha?“.

Ini bukan berarti mulai sekarang apa yang kamu pikirkan itu hanyalah sugesti dan tidak nyata dan tidak boleh dipercayai ya, tetapi agar kamu lebih saksama dan hati-hati dalam bergaul dengan pikiranmu. Kuncinya letakkan jarak di antara dirimu dan pikiranmu, jadikan pikiranmu sebuah bidang amatan, dan tempatkan dirimu sebagai pengamat. Ya benar, tarik diri secara sadar! Amati saja, cukup, no judgement.

Tarik diri bukan dalam pengertian acuh dan mengabaikan! Makanya saya tambahkan „secara sadar“ di belakangnya. Bukan berarti mulai sekarang kamu tutup mata dan telinga dengan apa yang kamu lihat. Justru sebaliknya, semakin jeli melihat, selami secara sadar, dan secara sadar pula menarik diri dari penarikkan kesimpulan. Inilah inti dari Mindfulness. Suatu keadaan di mana kamu dengan segenap indramu melihat, mengamati, mendengar, merasakan, menghirup, meresapi segala yang aktual di sekitarmu tanpa berusaha menilai. No judgment. Hanya karena si bos tidak menyapa, bukan berarti dia menganggap anda tidak simpatis.

Kamis, 18 Oktober 2018

SOLO TRIP


Kamu yakin, kamu mengenal dirimu dengan cukup baik?

Kamu adalah dirimu yang selama dua puluh tahun belakangan ini selalu berada dalam bundaran akrab yang kamu kenal, dan bundaran akrab ini mengenalmu dengan sama baiknya.
Pernah nggak, kepikiran, seperti apa versi dirimu ketika ia berada seorang diri di tempat asing yang sama sekali tidak kamu kenal. Dan seasing apa pun mereka di matamu, kamu sama asingnya di mata mereka.
ditemukan di "Aleph" oleh Paulo Coelho

Melarikan diri untuk menemukan diri sendiri. Bagaimana kalau kamu meninggalkan semua yang sudah kamu kenali bertahun-tahun untuk berada di tengah keterasingan seorang diri? Travelling sendiri tidak hanya membawa kita mengenali dunia di luar sana, tetapi juga mengenali siapa sebenarnya penduduk yang bernaung di dalam diri kita. Dan percaya deh, kesempatan ini emas, tidak akan ada lagi chance seumur hidupmu yang akan menawarkan kebebasan dan ketidakbergantungan ultimativ yang menyenangkan seperti ini.

Bulan Mei yang lalu untuk pertama kalinya saya melakukan solo Trip, mimpi yang sudah saya tabung bertahun-tahun. Saya memiliki daftar negara favorit untuk dikunjungi dan Ceko adalah negara yang paling membuat saya tidak bisa menunggu. Praha adalah ibu kota tua, indah dan romantis, kata orang, dan saya tidak tahan ingin segera membuktikannya. Kebetulan letaknya hanya 600 KM lebih dari Hamburg (kayak dari Jogja ke Banten lah) dan tidak butuh visa untuk ke sana karena saya memiliki residence permit Jerman.

Apa kata Dunia?
Kollega-kollega kerja melototi saya selebar-lebarnya, tidak percaya, terlebih karena pada saat itu saya sedang berada dalam sebuah hubungan yang serius dengan mantan pacar saya. Mereka tidak habis pikir kenapa saya harus bepergian seorang diri! Ada yang segera menggunjingkan retaknya hubungan kami, ada yang memfitnah diam-diam bahwa saya punya kekasih gelap di Praha!!!! Menyedihkan bahwa manusia bisa senaif itu. Jenis naif yang tidak mereka sadari melukai hati orang lain. Terserah, tekad saya sudah bulat dan saya berangkat!

Dengan pundi-pundi yang setengah penuh saya menyeberang negara dengan bis termurah yang hotspot terjanjinya harus saya ikhlaskan untuk 50 penumpang lainnya.  Saya sengaja menumpang bis malam supaya saya bisa beristirahat, hemat hostel dan hemat waktu. Delapan jam kemudian saya terbangun di sebuah terminal bis, jam di hape saya mengatakan bahwa saya telah tiba.  Pertama-tama saya harus mencari Money Changer, saya termasuk klub manusia vintage yang menyukai uang kes dan menukar mata uang supaya saya merasakan rasanya memegang valuta asing, lagipula Kartu giro saya menunjukkan saldo yang stabil di angka nol. Seketika Euro di tangan saya berubah menjadi Koruny. Nolnya banyak, memberi perasaan seolah-olah kaya selama beberapa mili detik lalu saya tersenyum karena di Indonesia saya „lebih kaya“ lagi.

                                                                      ∞ ∞ ∞

Saya memang suka melamun! Dan saya sering tenggelam dalam pikiran saya sehingga saya lupa mengajak teman seperjalanan saya untuk mengobrol. Ini pernah saya alami sebelumnya, beberapa kali, sehingga saya tobat. Dunia luar memiliki sudut-sudut unik dan tersembunyi yang memancing rasa penasaran saya, dan saya tidak bisa membagi pikiran ke dua arah yang berbeda, saya hanya ingin di antara saya dan dunia itu hanya ada keheningan untuk direnungkan—bukan seorang teman seperjalanan yang tersinggung jika tidak diajak bicara.

…Saya juka suka tersesat. Solo Trip is all about discover!

Saya sudah terbiasa berjalan di jalanan Hamburg menurut orientasi yang ditunjuk oleh Google Map, serta embel-embel di jalan mana terdapat kafe dan bar apa, plus referensi para pelanggan yang pernah icip-icip di sana, apakah Saos Tsatsikinya lezat atau tidak, apakah birnya enak atau tidak, apakah meja kicker-nya berfungsi dengan bagus atau tidak, musiknya, pelayanannya, dst…. Itu mah bukan Discover namanya! Kalau kamu sudah dikasih tahu terlebih dahulu apa yang akan kamu hadapi. Saya suka membiarkan kaki saya membawa saya ke mana pun mereka mau. Ketika di Praha, saya sama sekali tidak punya internet, and that‘s where the story begins! I did get lost many times, but i had plenty of time for that and that was what that trip all about, to discover!

Wisata pernah?
Secara pribadi, saya anti wisata pernah. Menapaki bekas injak orang lain itu seperti jenis recycling yang mengurangi dosis kenikmatan dan kebahagiaan, contoh: teh celup yang dipaksa dicelup ke cangkir ke dua dan ke tiga.  Hanya karena orang-orang pergi ke Praha dan melakukan ABCD, bukan berarti saya pun harus melakukan itu, untuk mendatangi hal yang sama, menelusuri jalan yang sama hanya untuk mengunjungi tumpukan batu yang sama. Inilah keistimewaan Solo Trip, kamu memiliki kebebasan mutlak untuk tersesat sesuka hati, atau sesuka perut, atau sesuka dengkul. Solo Trip lebih asik tanpa semeter daftar kunjungan yang harus dicentang. Wisata pernah? Tidak, terimakasih!

Setiap kali saya bepergian seorang diri, seolah-olah saya memiliki kompas di suatu tempat di dalam diri. Atau yang saya sebut mata kaki. Karena basis saya adalah „mata kaki“, saya bersyukur bahwa pada momen-momen tertentu, di mana saya sedang asyik-asyiknya mendalami yang saya lihat, tidak ada suara di samping saya yang berkata, „Cari makan yuk“ atau „Balik ke hostel yuk, sudah capek keliling-keliling!“
kalau bukan minta orang asing memfotokan, Foto di depan kaca ;)

Traveling antarnegara seorang diri, apalagi perempuan, pasti membuat ragu di hati. Tapi ngapain takut?  Solo Trip memperkuat kepribadian kita, memperkaya tak-tik dan membuat kita semakin tangguh. Kenapa harus malu? Solo Trip menunjukkan kepada dunia bahwa kamu petualang yang berani dan cerdas (karena sendiri di tanah yang asing itu butuh independensi, nyali dan kecerdasan untuk survive), You are the Wander Woman, Girl!!!

Tips dan Trik

1.      Mulai dari cara pandang diri sendiri
     Sebelum mengangkat wajah dan menatap dunia, tunduklah dan tataplah dirimu.  Siapa yang kamu lihat di sana? Semoga bukan Disney Princess, tetapi bintang DC, Wonder Woman!  Because you are the Wander Woman!

2.      Latihan dulu.
    Berada sendiri di tempat yang asing apalagi negara asing yang tidak berbicara bahasa yang sama maupun Internasional memang bisa bikin kewalahan, oleh karena itu awali solo trip mu dari step paling kecil dengan jarak, luas dan jangka waktu yang logis, misalkan mulai dari negara atau kota dengan luas 200-450 KM², dan jangan langsung dua minggu sendirian ke pedalaman yang tidak ada sinyal selularnya, atau malah ke benua lain!! Awalilah dengan weekend escape di sekitaran kota/negara tetanggamu.

3.      Berhenti mengasihani diri sendiri
    Jika kamu kesusahan menemukan hostelmu, atau tersesat bertubi-tubi, muter-muter di kompleks yang sama berpuluh-puluh menit, dalam udara dingin, atau harus naik turun bukit untuk bisa sampai ke sebuah tujuan, atau kelaparan tengah malam dan tidak punya apa pun untuk mengenyangkan, Plis deh jangan lebay, tidak pakai termehek-mehek. Pelajari tak-tik supaya kesalahan sepele tidak terjadi, antisipasi meraungnya lambung dengan cara singgah ke supermarket saat jalan-jalan di kota, tidak peduli semalas apa pun kamu saat itu untuk menggotong pulang sebatang pisang (misalnnya).

4.      Jika sesuatu berjalan tidak sesuai rencana malah mendatangkan kejutan yang tidak diperhitungkan sebelumnya, jangan keburu putus asa, lompatlah sejauh-jauhnya ke setidak-tidaknya lima tahun yang akan datang: kamu akan melihat kembali ke hari itu dan menertawakannnya bersama teman-temanmu.

5.       Analoginya seperti lensa kamera! Zoom in saat momen-momen indah terjadi, rekam dekat-dekat, sebaik-baiknya, resapi, dan zoom out saat everything seems to be going wrong.

6.      Bawalah Internet di handphone mu, tapi hanya gunakan kalau memang benar-benar perlu, misalnya kamu tersesat padahal kamu harus buru-buru ke stasiun kereta.

7.      Solo Tripping tidak hanya untuk mereka yang single. Kalau pacar kamu mau ke ke selatan, padahal kamu mau ke utara, jangan dipaksakan, karena hanya akan jadi kenangan yang berat sebelah. Cobalah berpisah arah untuk sejenak, dan kembali untuk bertukar cerita yang menarik dari hasil petualangan solo kalian, itu akan memperkaya hubungan kalian dalam hal musyawarah dan kesalingpercayaan.

8.       Tinggalkan yang berat-berat di rumah, keluarkan yang tidak perlu dari dalam ransel, sebagai gantinya Packing rasa penasaran yang besar ke dalam backpack kamu dan bawa ke mana pun kamu melangkah!  Dan kamu sedang melangkah melewati sesuatu yang tadinya kamu lihat sebagai tirai pembatas antara dirimu dan dunia luar, ternyata hanyalah batasan-batasan abstrak yang tadinya membatasi dirimu dari dirimu sendiri.

9.       Bantal leher! Saya tidak tahu apa Bahasa Indonesia yang lebih tepat untuk ini, tapi kamu pasti tahu maksud saya. Iya, tepat, bantal berbentuk huruf U yang diselipkan di belakang tengkuk saat kita melakukan perjalanan darat dengan mobil, bus atau kereta. Itu selalu saya bawa-bawa, mungkin kelihatannya ribet dan menuh-menuhin, tapi hey, jangan sepelekan tulang dan sendimu! Bantal jelek itu bisa menyelamatkan mood, serius!

10.  Kamu suka Instagram? Kamu suka memposting rupamu dalam outfit terbaikmu? Kamu suka difoto di tempat-tempat wisata? Jangan bawa kaos atau rok atau topi atau beha atau apa pun itu yang belum kamu testdrive! Lebih baik bawa sesuatu yang sudah tubuh kamu kenal baik dan nyaman dipakai sehingga tidak sia-sia dibawa namun tak dipakai.

Saya tidak perlu menunggu bukti kesuksesan Solo Trip saya di Praha, untuk membuat saya merencanakan The Next Solo Trip. Karena kenyataannya itu sudah selalu ada di kepala saya. Setelah mencatat beberapa pelajaran berharga di kepala, empat bulan kemudian saya terbang ke Budapest. Apa yang sebenarnya menimpa saya di Praha dan seperti apa Episode Solo Trip #2 di Budapest akan saya cerita di Solo Trip #2. Apakah yang saya sebut sebagai kesuksesan di Praha adalah kesuksesan yang kalian bayangkan di kepala kalian? Apakah saya tidur di tempat yang wajar di Praha? Apakah saya melakukan hal-hal yang pantas di Budapest? Apakah saya kelaparan atau tidur di jalan? Dan yang paling penting, pelajaran apa sih, yang saya dapat dari Solo Trip ini selain  independensi yang sudah saya tera di atas? Tunggu saja.

Jumat, 07 September 2018

10 Alasan Kenapa Saya Suka Musim Panas


Musim panas di Jerman dimulai secara resmi pada 1 Juni-31 Agustus. Hamburg, tempat saya tinggal, adalah kota abu-abu yang senantiasa diselimuti hawa dingin, butuh 3 kali winter untuk membuat saya tidak lagi harus menggerutui dinginnya Hamburg karena belum terbiasa. Tahun ini musim panas tiba sedikit lebih awal dan benar-benar hangat, tidak seperti yang saya kenal di Hamburg 3 tahun belakangan ini.  Sekarang musim gugur menjelang, weil ich in diesem Sommer schon so viel Spass hatte!

1.      Kuteks!
Oh yaaaa!!!! Sudah jelas, bahwa karena hangat, kita terbebas dari sweater wol yang berat-berat. Rok mini? Bikini? Martini? :D Tapi favorit saya adalah kutek, obviously. Karena it doesnt make sense pake kuteks di saat Winter, karena pertanyaannya cantik atau menggigil?

2.      Go outside and grill
Musim panas memang musim sosialisasi. Orang Jerman paling suka grill pada musim panas, bisa dilakukan di balkon rumah, halaman belakang, atau di taman kota. Paling seru kalau dengan keluarga atau teman-teman. Ini memang ajang berkenalan orang baru yang dibawa teman kita atau memperdalam keakraban di antara sesama teman.

3.      Bebas depresi gelap
Mungkin terdengar asing, tapi depresi gelap memang benar-benar eksis, kalau kita bicara tentang sinar matahari, vitamin-vitaminya, terutama Vitamin D, seperti yang pernah saya ceritakan di postingan yang lalu di sini!, kalian bisa cukup dapat bayangan di mana letak hubungannya. Matahari pada musim semi memang sedikit lebih panjang daripada musim winter, tapi pada musim panas akan lebih lama lagi bersinar, sekita jam 4 pagi itu sudah terang dan baru akan terbenam malam banget. Singkat kata, terlalu terang untuk murung :)

4.      Festival/Karnaval dan open airs!
Ada bioskop outdoor, teater, konser, dsb…. Paling sering diadakan di saat musim panas dan asyiknya yaitu kita bisa pakai pakaian setipis apa saja, minum apa saja yang dingin ataupun yang hangat tanpa harus menderita. Favorit saya adalah open air theater atau yang bahasa Jermannya Freilufttheater. Kapan-kapan saya tulis lah, open air theater yang pernah saya tonton di Hamburg dan sekitarnya :D

5.      Piknik

Selembar kain tikar dan sekantong Chips di bawah pohon cukup untuk sore hari yang menenangkan pada suatu hari musim panas. Sendiri, berdua atau berkelompok sama-sama menyenangkan.

6.      Semua olahraga air


No question! Mulai dari berendam, renang, selam, snorkeling, sailing, surfing, Canoeing, stand up paddling, boating, wake boarding, dan seterusnya.

7.      Makan es krim terasa logis
Mau kapan lagi?

8.      Bintang kecil di langit yang hitam.
Pada musim panas langit malam lumayan cerah untuk memamerkan berlian kerlap-kerlipnya di angkasa. Saya suka melihat bintang-bintang itu dan mengenali banyak di antaranya, yang sudah sering saya amati sejak kecil, dan setiap kali saya harus mengalami gelombang nostalgia yang bisa bikin setengah termehek-mehek. They are so beautiful.

9.      Late night outside
Begadang? Minum bir? Udud? Party? Sekedar ngobrol? Bisa dilakukan sampai tengah malam di luar tanpa takut dingin 😊 Dan berhubung matahari baru terbenam sekita jam 9.30, energi kita selalu terjaga seolah-olah masih jam 4 sore.

10.  Fenster auf!
Berkendara mobil? Tidak takut buka jendela untuk membiarkan angin segar masuk. Di musim dingin atau semi angin masih dingin sehingga praktis menjadi musuh modus pewe.