Minggu, 29 April 2012

Si Cantik dalam Keterasingan


Ia berusaha menghiasi rumah itu
Apa daya, ia hanya tumbuhan liar
Tempatnya di luar pagar
Bersama kelompoknya yang terbuang
Dan ia terlalu kecil, pula terasing
Untuk dunia yang terlalu besar, pula ramai
Betapa cantiknya ia, pikirnya
Lalu datanglah ia
Dicengkeramnya kelopak-kelopaknya
Instingnya berkata, di dasar sanalah
Sumber keindahan, asal kepuasan
Diteguknya sari bunga liar
Warna-warni nektar
Dan harumnya yang tajam
Hanya penyamaran
Kini Ia benar-benar mabuk kepayang
Mungkin besok ia mati
Tapi cintanya abadi

Selasa, 24 April 2012

Sang Pemimpi

Part I

Pagi di mana aku terbangun pada tanggal 17 Maret 2012, aku dalam keadaan linglung dan belum menyadari sepenuhnya bahwa aku genap berusia 21 tahun hari ini. Semalam aku jatuh tertidur sebelum jam 12, sama sekali tak ada keinginan untuk melewati detik-detik pergantian umur seperti yang akan dilakukan oleh semua orang lainnya. Meskipun tidak begitu berniat, tapi aku tetap harus mengecek hape. Beberapa sms sudah masuk dari jam 12 malam tadi. Tugas berikutnya adalah membalas sms mereka, mengucapkan terima kasih.

Menjelang siang, seorang sahabat SMA menelponku dan mengucapkan selamat ulang tahun. Kami sempat ngobrol selama satu jam. Namun aku tak berkonsentrasi dengan apa yang kami obrolkan karena entah ke mana perginya pikiranku. Hari ini rasanya begitu biasa, sampai aku merasa tak punya alasan untuk bersemangat. Seolah tak ada yang kunantikan....

Hari ini rasanya tak berbeda dari hari-hari kemarin. Aku maklum, mungkin karena aku sudah beranjak tua, the fire was gone. Masih kuingat, hari-hari menjelang usiaku yang ke 17, aku bertanya-tanya dalam hati “Hei, Mona, usiamu sebentar lagi 17. Sudah siapkah dengan angka itu?” Sweetseventeen, julukan yang klasik. Dan ketika aku hampir menyentuh angka 18, aku benar-benar gelisah bahwa aku sudah hampir menanggalkan mahkota kesombongan masa remajaku. Tapi bedanya, saat itu ada sahabat-sahabatku di asrama yang memberiku surprise yang menakjubkan sehingga rasa takutku sirna sudah. Malam saat aku berusia 19, aku mendapat dukungan yang sama dan betapa bergejolaknya aku dengan angka 19 itu. Rasanya ingin kembali ke tahun-tahun sebelumnya sekaligus penasaran dengan apa yang akan kuhadapi di usia itu. Sedangkan malam menuju usiaku yang ke 20, aku tak bisa tidur, aku ingin sekali difoto banyak-banyak sebelum melepas angka 19 karena aku tidak rela melepas kata “belas” itu dari ejaan usiaku. Aku takut aku tak bisa ketawa ngakak lagi seperti Mona yang khas, aku takut aku tak bisa pelesir semauku lagi seperti Mona yang selalu penuh energi, aku bahkan takut kehilangan selera humor! Kini aku kepala dua!!! Tak bisa kupercaya itu! Paginya aku langsung menyerbu cermin besar di kamarku dan meneliti senti demi senti wajahku, adakah keriput menggerogotinya.

Tapi pagi ini?

Nothing.

Wow! Aku 21 tahun!!! Aku mencoba untuk berteriak begitu dalam hati tapi tak terasa apa-apa. Aku hanya akan membodohi diriku sendiri.

Tak ada keinginan sedikit pun untuk membuka Facebook. Tak ada rasa kepengen sekalipun untuk bertemu siapa-siapa ataupun dihubungi lewat hape. Aku hanya berkeliaran di kamar, mondar ke kanan, mandir ke kiri, lalu ketika capek, aku duduk dan mulai mengetik cerita di laptop. Aku tak punya mood untuk meniup lilin (tapi toh ujung-ujungnya kulakukan juga karena sahabatku ulang tahunnya juga berdekatan denganku jadi kami sepakat untuk merayakannya bersama-sama), aku tak kepingin memotong kue atau merasa siap untuk sebuah surprise konyol dari entah siapa salah satu temanku.

Aku sedang berada di kamarku, mengetik tulisan yang berjudul “Mata Kuliah DSV Tuh Sesuatu Banget Deh”. Di saat aku sedang asyik-asyiknya terbawa alur cerita, tiba-tiba ada sms masuk. Nomor baru. Ucapannya begini:

Bayi mungil yang berbulu mata lentik itu kini telah menjadi gadis remaja yang cakep dan cukup pandai. Dua puluh satu tahun lalu kelahirannya diberitahu lewat mimpi bahwa ia adalah bayi perempuan dan lahir pada hari minggu. Selamat ultah anakku, kudoakan perlindungan dan kesuksesanmu setiap waktu. Makasih, mama Oesao.

Aku mengerutkan kening saat membaca kalimat pertama. Siapa ini yang membawa-bawa nama bulu mataku? Dan ia tahu aku lahir diberitahukan lewat mim... Astaga!! Tak kusangka-sangka, ternyata itu Mama. Aku langsung menyadarinya sebelum sampai ke kalimat terakhir. Aku pun langsung berjatuhan air mata, berikut backsound huhuhuhuhu. (ini tangisan haru, bukan air mata cengeng) Biasanya aku tidak menangis dengan suara, tetapi kali ini aku sudah tak tahan lagi (dan ternyata seperti inilah suaraku kalau menangis : sangat jelek!). Tiga tahun sudah aku terpisah laut ribuan kilometer jauhnya dari keluarga. Aku sampai tak tahu harus berkata apa, hanya menangis dan melontarkan apa pun yang muncul di kepalaku (benar-benar tak adanya gejala kedewasaan). Lalu sahabatku yang ulang tahunnya akan dirayakan bersama-sama denganku itu datang dan menenangkan aku. Terima kasih, sahabat. Aku tak tahu bagaimana jadinya kalau aku seorang diri di sini.

 

 

 

 Part II

Aku bisa melihat kebaikan di depan sana, menantiku. Aku bisa merasakan cahaya berjalan bukan dalam kecepatan cahaya yang 300 ribu km per sekon itu, tapi ia berjalan perlahan, tahap demi tahap, hari demi hari, ketika matahai terbit dan terbenam. Aku bisa merasakan ia ingin menyentuhku, dan aku mendengarkan ia selalu memanggilku. Aku bahkan bisa mencium aromanya menari-nari di kejauhan.

Call me a dreamer.

Seorang pemimpi memejamkan mata dan membayangkan. Tetapi sang pemimpi sejati, dalam keadaan mata terbuka pun bisa melihat kejadian-kejadian terjadi di depan matanya padahal orang lain tak melihat apa-apa di sana. Baginya sejarah bukan hanya diukir dari masa lalu, tapi juga dari masa depan. Sang pemimpi melihat harapan, bukan kepasrahan. Ia tak ingin menjadi baik, tapi ia berusaha menjadi yang terbaik. Ia tak hanya hidup untuk hari ini. Ia meletakkan kepercayaannya pada hari esok.

Tak ada orang yang mengharapkan bermimpi yang buruk dalam hidupnya. Bukannya ia ingin mengesampingkan bagian hidup yang kelabu dan pahit. Sang Pemimpi tak hidup dalam hitam atau dalam putih. Ia menikmati tangisannya dan merayakan air matanya.

Twenty one. Begitu kuucapkan, yang terpikirkan hanya satu. Freedom. Kurasa kata itu begitu menunjukkan sisi maskulinku dan dreamer adalah kembarannya yang berjenis kelamin feminin. Mungkin karena aku terlalu teringat filmnya Jim Sturgess tentang pengalaman besar yang ia alami saat memasuki usia 21. Entah apa yang akan kualami di usia ini. Aku khawatir 80% tanggung jawab dan 20% hiburan. Tapi ini aku. Dua puluh satu  tahun aku ditempa untuk ini. Dua puluh satu  tahun aku dididik untuk mandiri.

Someday. Adalah kata yang selalu dia ucapkan. Mimpi identik dengan percaya. Dan harapan. Ia percaya dan berharap suatu hari nanti semua mimpinya menjelma nyata....

Apa yang ia impikan? Kebebasan, kemenangan, kebahagiaan, ketenangan dalam setiap napas kehidupannya. Dia, Sang Pemimpi, di atas semua yang ia impikan itu, satu yang paling penting : kehidupan sebagai ruang terjadinya semua kebebasan dan kemenangan bahkan kekalahan, supaya ia bisa menikmati tangisannya dan merayakan air matanya.

Meskipun ia seorang pemimpi, lebih dari semua itu, ia hanya ingin menjadi dirinya sendiri.

 

 

 

Part III

Hari ini aku bangun sekitar jam delapanan. Bukannya mandi atau membenahi kamarku yang tersiram ke mana-mana, aku malah membuka laptop dan menyetel lagu John Lennon Dreamer. Beberapa hari terakhir ini hanya lagu ini yang kudengarkan. Hanya lagu ini yang tahu caranya membuatku merasa masih ingin mendengarkan musik, terlebih ketika John menyanyikan “You may say i’m a dreamer...”. Untuk saat ini aku tak ingin mendengarkan We Found Love atau The Worst Hangover Ever atau Sweet Child O’mine, bahkan Kiss Me-nya Avril Lavigne. Karena hanya kosakata dreamer yang menempel di kepalaku.

Berbeda ‘soundtrack’. Ketika aku memasuki usia 20, tahun lalu, yang kudengarkan hanya Michelle Branch, Goodbye to You. Bukan liriknya yang kuperhatikan, tetapi video klipnya yang mengesankan : si Michelle Branch mengemudi menyusuri jalanan yang diapit hutan, sendiri, dengan mobilnya dan ia tampak begitu menikmati pemandangan hijau itu dan cahaya matahari yang menerobosinya. Apa yang dilakukan Michelle dalam video klip itu sangat identik dengan diriku. Ke mana-mana ia membawa ikan dalam botol kecil (tahun 2010, saat Jogja hujan debu, aku menghindar ke Malang dan membawa serta Princess Lorette dalam botol Cointreau dalam perjalanan bis 10 jam). Ada juga adegan ia menjadikan cincin sebagai liontin kalungnya (aku sangat tertarik dan sempat menirunya, bahkan aku memakai kalung itu saat meniup lilin ke 21-ku malam ini). Juga ada adegan di mana temannya menuliskan kata dreamer ke jari telunjuk Michelle. Itu yang tak bisa kulupakan. (aku selalu melakukan hal yang sama di tanganku dengan tinta pulpen setiap kali dosen mengajar di depan kelas.)

Umur baru terjadi setahun sekali, tapi umur seorang manusia juga ada babaknya, seperti drama. Babak itu berganti dalam rentang beberapa tahun. Misalnya babak anak-anak, babak puber atau pra-remaja, babak remaja, pra-dewasa, dewasa, dst (Namun menurut Raditya Dika, ada terselip satu gejala babak di antara remaja dan Pra dewasa, yaitu alay.) Seperti itulah mungkin kalau dibandingkan denganku. Aku selalu punya soundtrack saat memasuki babak baru. Waktu hampir memasuki 18, yang kudengarkan hanya Britney Spears I’m Not A Girl Not Yet A Woman. Terlebih di saat Britney mengucapkan “I’m not a girl, don’t tell me what to believe. Not yet a woman: I’m just tryin’ to find the woman in me. All i need is time, a moment that is mine, while i’m in between.” Itu benar-benar mewakili diriku saat itu. Mendengarkan lagu itu tak terlepas dengan membayangkan vodeo klipnya. Berhubung lagunya itu adalah soundtrack film Crossroads, maka ada sisipan adegan di mana Britney dan kedua sahabatnya mengendarai mobil yang sama cepernya seperti mobil Michelle, menyusuri jalanan panjang. Hanya bedanya, mobil Britney tanpa top-roof dan bukan di hutan, melainkan di padang pasir. Aslinya video itu hanya berisi Britney di atas Grand Canyon yang membuatku waktu SMP selalu melarikan diri ke Gunung Golkar saat aku ingin sendiri.

Bagaimana pun juga adegan dalam video klip Britney dan Michelle menginspirasiku mengadakan perjalanan solo menyusuri jalan negara yang panjang, lebar, dan sepi dengan mobil ceper yang sama.

Hanya aku. Dan mungkin seekor ikan mungil.

Senin, 26 Maret 2012

Dream, Believe, Make It Happen By Agnes Monica

AGNES MONICA TAMPIL MEMPESONA DI EMPAT MATA


 Si cantik yang cerdas dan multitalented diundang ke acara Empat Mata di Trans7, Kamis (1/3/2012), bersama Indra Bekti (partnernya di acara musik anak-anak tahun 90-an, Tralala Trilili), dan Okan Kornelius (lawan mainnya di Kawin Muda).

Kali ini temanya adalah "One Night With Agnes Monica".

Si Host, dengan gaya kocaknya mulai menanyakan hal-hal yang berkaitan dengan perjalanan karir Agnes mulai dari masa kecilnya (bukan Tukul namanya kalo ga bawa-bawa nama Susi juga).

Cekidot...!

Agnes dilahirkan dari orang tua yang sama-sama atlet. Papanya atlet basket dan Mamanya atlet tenis meja karena itu ia sempat ingin jadi atlet tenis ketika masih kecil. Namun sekitar ketika ia berumur tiga atau empat tahun, oleh sang Mama ia dimasukkan ke sanggar karena sering menirukan orang nyanyi di TV.

Bicara tentang kesuksesannya adalah sesuatu yang membanggakan, tetapi menelaah perjuanganya itulah yang paling suka kudengarkan. Tahu sendirilah, dulu Agnes dicerca habis-habisan, dikatai suka omong tinggilah, plagiat gayanya Britney dan Christinalah dan apalah embel-embel dari media serta haters. Namun Agnes cuek saja dan mengambil langkah yang tepat dengan terus maju tanpa merusak prestasinya dengan hal-hal buruk seperti yang dilakukan artis-artis lain : baru tenar sebentar saja langsung pake narkoba dsb.

Sambil mengkampanyekan Dream Believe Make It Happen, dia bercerita kalo dulu pernah membuat sebuah list, isinya semua nama artis internasional yang ingin dia ajak kerjasama bareng dan mengeprint list itu. Ia sendiri mengaku entah kenapa nama Timbaland ada di urutan pertama. Dan dari daftar nama-nama yang ada di list itu, beberapanya sudah terwujud. Salah satunya duet dengan Michael Bolton yang dia lakukan beberapa waktu lalu. Sedangkan saat ini ia sedang terlibat proyek yang masih ia rahasiakan bersama si Timbaland. Itulah gambaran bermimpi dan mewujudkan bagi Agnes. Agnes is amazing as always...  

 

 

 

 

“Don’t be good, be the best,” katanya dengan penuh keyakinan.

 

Beberapa kutipan kalimat Indra, Agnes, dan Okan.

 

Indra : “Dulu gue paling sebel denger Agnes nyanyi karena suaranya melengking banget. Dalam hati gue, anak siapa sih ini?? Walaupun begitu, Agnes yang ajari gue jadi presenter yang baik.”

Komentator : kwwkwkwk... Indra aja menyadari Agnes multi bakat, bukan saja berniat serius menjadi penyanyi, tapi juga membawa acara, berakting, bahkan dancing .... ckckckc...

Okan : “Kalo ketemu sama Agnes topik kita cuma ngomongin protein. Apapun yg mengandung protein Agnes pasti bakal makan. Kalau yang paling nyebelin dari Agnes pas syuting itu, dia sering membuat bunyi tulang leher sama punggungnya di setiap ganti scene.”

Komentator : Agnes bukan cuma ngurusin tampilan luar, tapi juga sadar kesehatan dan gizi, ga perlu anoreksia biar seksi kan...

Agnes : “Miskin itu bukan kalo kita punya duit apa ga, tapi kalo jiwanya sudah miskin ya kita bakal tetap miskin.”

Komentator : berpikir kritis emang cirinya. ga manja, berjiwa besar, cerdas. Nez I LOVE YOU!!!

 

Sejak pertama kemunculannya di TV aku sudah sangat mengaguminya. Gaya berpakaiannya yang rebel, rambut pinknya yang sempat dikatai norak (sejak kapan Agnes peduli kata orang!), gaya bicaranya yang cerdas dan tegas, serta yang nomor satu adalah lagu-lagu dan sinetronnya. Strong, sexy, and cool. Sebuah majalah pernah menyebutnya begitu, aku baca pas SMA, lupa juga majalah apa. Semangat kerja keras, gaya berpikir, prestasi yang kontinu dari Agnes itu yang selalu memotivasi aku. Salah satu kalimatnya yang paling kusuka adalah, “Kalau kita ingin hasil 100%, berusahalah 200%. Kalau mau hasil 200%, berusahalah 400%”.

Efek nonton Agnes Monica tadi: derajat mood langsung naik drastis dan termotivasi untuk bangkit kembali. (padahal sebelumnya aku bad bad bad mood sekali). Melihat semangatnya yang berapi-api, jadi lupa kalo saya lagi pilek berat...thanks Agnes...

 

 

 

AGNES MONICA TAMPIL MENAKJUBKAN DI KICK ANDY

 

Tanggal 9 Maret 2012 yang lalu tokoh paling favoritku, Agnes Monica tampil di acara telivisi, Kick Andy Show. Jauh-jauh hari sebelumnya aku telah diberitahukan oleh temanku yang kuliah komunikasi di Atmajaya karena ia menontonnya secara live di studio metro TV. Tanggal 9 itu hari yang paling kutunggu-tunggu. Aku sampai melarang keras diriku untuk lupa menonton TV pada hari itu.

Sejak kecil aku memang sudah suka dengan artis yang satu itu. Aku dan tetanggaku yang jauh lebih dewasa dariku sering menirukan gaya Agnes dan Kak Ferry (yang nantinya digantikan oleh Kak Indra Bekti) melakukan opening acara dengan menyilangkan pergelangan tangan dengan gerakan jari seperti “jari bersemangat” (yang pernah nonton Bring It On pasti tau).... 

 

 

“Hai teman-teman semua, ketemu lagi dengan saya, Agnes Monica,”

“...Dan saya Kak Ferry...”

“Di acara... Tralala...Trilili!!!!”

 

Hari yang saya tunggu-tunggu itu akhirnya tiba juga. Agnes tampil di acara Kick Andy dengan pakaian yang simpel namun namanya juga Agnes Monica, kain lap sobek dipakai pun akan seperti perpaduan Kate Middleton dan Avril Lavigne.

Langsung saja ke bagian wawancaranya. Santai tapi menakjubkan. Agnes tahu semua jawaban dengan sangat tepat dan hanya Agnes yang tahu caranya memberi kesan cerdas, ambisius namun tetap terdengar menarik dan cantik. Aku yang sebenarnya sedang dirundung pilek keras, mendengarkan dengan saksama. Ia berbicara dengan penuh percaya diri, berbanding lurus dengan apa yang ia kerjakan selama ini.

Di akhir acara Andy sempat meminta Agnes untuk membawakan lagu “Rindu”. Lagi-lagi aku tak berkedip, suara Agnes mengguncang dunia!!!

 


 

 

 

Angsana di Kampusku



Angsana di kampusku
Tinggi menjulang
Mendongak ke awan
Angkuh rupawan

Di bumi kampus unguku
Hujan menghindar
Hijau memudar
Daun dan angin berkejar
Kini tinggal matahari berpendar

Jiwa sang angsana melayang, menari di udara
Lalu pasrah ke tanah

Ah, hujan, tinggalah sebentar
Biarlah nyanyianmu kudengar




Selasa, 20 Maret 2012

Sepucuk Surat Dari Hatiku Untuk Alam

Langit Desember yang kelabu ini seharusnya menjatuhkan titik-titik air yang disebut hujan. Itu lebih baik dibandingkan harus menahannya menjadi mendung dengan awan gelap yang beronggok-onggok. Hal itu hanya akan menambah hawa panas di bumi saja. Padahal aku sangat menunggu hujan, bahkan lebih dari sekedar menanti, aku mengharapkannya dan mendambakannya supaya aku bisa menulis di jendela kaca kamarku. Dan ketika suaranya yang deras memisahkan aku dari keramaian dunia, aku akan membangun duniaku sendiri di bawah selimut dan di atas bantal. Dan tak akan ada seorang pun yang menemukanku. Seperti Ariel yang terdiam di balik hujan dan Billie Joe yang percaya bahwa hujan turun dari bintang.
Dan seperti setiap kali hujan turun, aku akan mendengarkan musiknya—musik yang dimainkan oleh tetes-tetesannya di atas tanah dan di atas atap. Aku pun akan merasa tentram karena semua itu mengantarkanku ke masa-masa dari kisah hidupku yang berisikan hal-hal yang indah-indah saja. Aku akan teringat masa kecilku, ketika aku berjalan setengah melompat di atas aspal dengan kaki telanjang dan aspal itu sangat hangat terasa di kulit telapak kakiku. Aku juga tak akan pernah melupakan itu, bahwa bagaimana hujan membawa kembali kehidupan lewat benih apa pun yang jatuh ke tanah dan menjadikannya tunas yang hijaunya membuat aku merasa disambut hangat. Pohon-pohon menjenjangkan rantingnya ke mana-mana, seolah ingin leluasa menari bersama hujan, serta rerumputan yang menjalari tanah dan menjulangkan daun-daunnya, seakan ingin berpesta dengan hujan.
Ah, hujan, begitu banyak yang bisa kuceritakan tentang kehadiranmu. Dan ketika aku berjalan di dalam hujan, perasaanku terbebas dari kepenatan, berubah menjadi lapang dan senang. Itulah salah satu ciri Desember dalam sepanjang ingatanku. Dan itulah mengapa aku begitu mencintai natal—aku tak bisa membayangkan natal jatuh pada musim-musim kemarau. Aku sangat berterima kasih pada Julius Caesar atau siapa saja yang telah menetapkan penanggalan Masehi dan natal.
Tetapi apa gerangan yang terjadi dengan Desemberku kali ini? Apa alam sedang bicara dalam bahasanya sendiri? Payungku masih rapi di sudut kamar, berdebu.
Ah, hujan, turunlah. Aku harus melepaskan semua beban, kekecewaan, putus asa, kegelisahan, kerinduan, kemarahan, kelemahan, patah hati dan kesepian di akhir tahun ini. Aku membutuhkanmu untuk membasahi ladang hatiku yang gersang dan kosong, agar setidaknya ada bunga dan rerumputan liar yang tumbuh di sana. Aku tak akan pernah siap menyambut tahun yang baru sebelum kehadiranmu karena aku percaya air mata bisa membersihkan jiwa. Dan engkau matahari, tahanlah dulu sinarmu sampai pagi pertama di tahun yang akan datang.

Senin, 19 Maret 2012

Mata Kuliah DSV Tuh Sesuatu Banget Deh


Semua ini berawal dari mata kuliah Deutsch für speziellle Verwendung (DSV). Namun jauh sebelumnya, memang ada benih-benih cinta budaya dalam diriku (kwkwkwkwkwkk) yang berasal dari kebiasaan merantau (merantau...kosakata angkatan berapa itu?).
Jadi ceritanya tuh, aku selalu terjebak dalam suatu lingkungan, di mana di sana aku menjadi asing, berbeda, baru, bahkan minor. Itulah yang memberiku jarak (Herr Uki, aku ingat banget konsep V-Effekt: distanziert werden um betrachten zu kӧnnen.) untuk bisa mengamati yang akhirnya membuatku menemukan adanya perbedaan. Dari perbedaaan itu aku belajar menghargai, mengapresiasi, dan membenahi diri (ehem ehem...bahasa mahasiswanya keluar deh). Dan sekaligus sadar : wah, kaya banget Indonesia tuh!!!
Setelah tugas demi tugas yang kami hadapi dalam mata kuliah DSV I dan DSV II (kami nggak capek kok, Pak...), mataku terbuka dan mulai menyadari betapa kayanya alam Indonesia sekaligus betapa rendahnya SDM nya (riskan). Dari dulu aku memang sudah mengetahui ini (ditambah lagi dengan ‘kampanye’ di buku sejarah dan PPKN di bangku sekolah) tapi tingkat kesadaranku baru benar-benar ada sekarang. Setelah aku bertemu teman-temanku dari berbagai asal peradaban, kami sering sharing tentang potensi-potensi dan aset apa saja yang ada di daerah masing-masing. Kami sampai sulit menginventariskannya saking banyak dan beragam jenis, misalnya potensi wisata alam, bahari, budaya, pendidikan, kuliner, dsb. Aku hanya sebut yang terkenal-terkenal saja ya, misalnya di Bali (ada sekitar satu juta artikel yang ditulis tentang Bali di mesin pencari, so alles klar.), di Lombok: pantai Senggingi, di Kalimantan ada kabupaten Berau yang mulai mengekspos wisata baharinya yang terdiri dari Pulau Derawan, Pulau Maratua, dan Pulau Kakaban , belum lagi Papua tak mau ketingalan dengan Rajaampat-nya. Catatan: laut di Berau dan Rajaampat adalah surganya diving kelas dunia!! Supaya tidak rasis, ini daerah asalku aku sebutkan paling belakangan : Pulau Komodo (saat ini hewan komodo telah diakui sebagai 7 keajaiban dunia) dan Danau Kelimutu (tiga danau bersampingan yang memilki warna yang berbeda-beda) di Flores.




Biar tulisanku ini ada konfliknya (biar kaya dalam mata kuliah Literatur : dalam Epik dan Drama harus ada konflik sebagai garam), aku mau menyorot bahwa sayang sekali aset-aset pariwisata di Indonesia itu banyak yang dikelola oleh orang asing. Aku tahu banget tuh siasat mereka (meskipun belum pernah mengalami) : mereka menikahi penduduk pribumi untuk mendapatkan hak-hak layaknya WNI. Abisnya, orang kita juga takut sih untuk berinvestasi (nah, kalo masuk kosakata ini, aku agak gelap, jadi kita batasi saja ya). Temanku pernah bilang (lagi-lagi saat kami sedang mengerjakan tugas DSV II) : Jangan takut mengeluarkan uang dalam jumlah besar hari ini untuk hasil yang akan kita terima 20 tahun yang akan datang.
Terus terang, aku belum pernah mengunjungi semua tempat yang kusebutkan di atas tadi. Ke Bali dan Lombok belum pernah, ke Kalimantan terlalu jauh, ke Papua apalagi!! Bahkan aku yang pernah tinggal di Flores selama 3 tahun saja belum pernah ke Pulau Komodo atau mengunjungi Danau Kelimutu (yang sampai sekarang masih kusesalkan, kok aku cinta kasur banget yah?). Doa-doakan saja kuliahku cepat selesai sehingga aku bisa ke semua tempat itu (selamat datang mimpi!!!) dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pengetahuanku. 

Masih bicara tentang potensi wisata daerah asal. Sayangnya lagi, ada satu konflik (baca : masalah) lagi. Kalau kalian tanya kenapa anak muda kurang terpikirkan untuk menghargai dan  mengembangkan potensi wisata daerah asalnya, aku tahu banget jawabannya (ijinkan aku berteori.,..hehehe). Kalau seseorang tak pernah keluar dari daerahnya (baca : tempurung), ia akan merasa dunianya hanya di sini. Dia akan berkata, “Ah, Parangtritis doang, tiap hari juga aku ke sana.” atau “Males banget denger lagu tradisional, tiap hari juga mbahku nyanyinya itu.” Atau “Memang tarian caci itu hanya ada di Flores, trus kenapa? Mau diapain kalo faktanya begitu?”
Nah, inilah gejala kurang apresiatif itu tadi. Sampai suatu hari nanti ketika ia keluar dari daerahnya, bertemu dengan hal-hal positif di tempat baru yang bisa menstimulusnya, ia baru akan memiliki perasaan posesif terhadap daerah asalnya itu dan akhirnya menyadari kurangnya apresiasi dan kontribusi dia selama ini terhadap potensi pariwisatanya.
Selesai teori, sekarang praktekin yuk!
Merantau untuk belajar banyak hal dari perbedaan itu memang bagus, tapi juga tak perlu repot-repot keluar daerah dulu baru sadar kalo daerah sendiri juga punya potensi yang butuh perhatian kita untuk diapresiasi, dijaga, dan dikembangkan.
Sippp? Start from here, now!
Oya, aku punya mimpi. Impianku itu adalah memberikan kontribusi yang nyata untuk pariwisata di daerah asalku. Juga, mengadakan perjalanan wisata antarpulau, bahkan antarbenua!!! (Diaminin dong... Danke..)

Rabu, 04 Januari 2012

TARIAN CACI


Caci adalah suatu tarian tradisional dalam suku Manggarai, Flores, NTT. Tarian ini tidak diperuntukkan bagi para wanita, apalagi anak kecil karena sangat melibatkan fisik, ketangkasan, dan kejantanan. Selain itu, medan dan kondisinya yang sangat “laki-laki”. Misalnya medannya yang harus di tempat terbuka dengan bertelanjang dada, saling mencambuk dan tangkas menangkis.



 
Sejarah
Secara etimologi, caci berasal dari kata ca yang berarti satu dan ci yang berarti memaksa. Secara harafiah, caci dapat diartikan pertandingan satu lawan satu, memukul dan menangkis secara berbalasan. Menurut cerita para orang tua, caci berawal dari perang tanding antarsuku yang sering dilakukan oleh nenek moyang zaman dulu. Itulah sebabnya gerakan-gerakan dalam tarian caci hampir sama dengan gerakan-gerakan dalam perang tanding tersebut. Namun ada pula sejarah yang mengatakan bahwa tarian caci berasal dari musyawarah para leluhur antarsuku untuk melaksanakan upacara lingko atau lodok (pembagian tanah baru untuk dijadikan kebun). Proses pembagian ini harus diiringi tari-tarian, musik gong dan gendang. Karena itu, jika ada penarfi caci yang terluka dan berdarah dalam pertandingan, maka darah itu dianggap sebagai lambang kesuburan.



Pelaksanaan
Tarian ini biasanya dilaksanakan pada upacara-upacara adat tertentu, namun bisa juga untuk sekedar menyambut pejabat atau hiburan turis belaka. Caci tidak pernah dilaksanakan pada malam hari.
Tarian caci dibuka dengan tarian danding yang ditarikan baik oleh perempuan maupun laki-laki, yang berfungsi untuk meramaikan pertarungan nanti. Biasanya yang menarikannya melantunkan lirik yang memompa semangat para pemain caci dalam pertandingan. Musik yang mengiringinya berupa gendang dan gong dengan irama ndundundake.
Untuk tarian caci yang asli (sebagai ritual adat), terdapat ritual khusus yang perlu diikuti sebelum bertarung, yaitu tudak (doa) di depan compang (semacam mesbah sebagai tempat untuk menyimpan sesajian. Letaknya di depan rumah adat) dengan maksud untuk menghormati arwah nenek moyang masyarakat setempat.
Sebelum beradu dalam tarian, setiap pemain caci akan melakukan gerakan  pemanasan otot dengan tarian. Sambil menari, pemain caci menyanyikan lagu daerah untuk menantang lawannya. Serangan bisa dimulai sebagai pemukul (orang ini disebut paki), dan di kesempatan berikutnya ia menjadi ta’ang (yang menangkis). Seorang paki menyerang menggunakan pecut (kayu panjang melengkung yang di ujungnya terdapat cambuk terbuat dari kulit kerbau) di tangannya. Ia melakukan kuda-kudanya untuk melihat di mana dan kapan kemungkinan ia mengayunkan cambuknya ke arah seorang ta’ang. Ta’ang harus lihai menangkis dengan menggunakan nggiling (tameng yang terbuat dari kulit kerbau) di tangan kirinya dan tereng (kayu sebagai alat penangkis) di tangan kanan. Semua ini dilakukan dalam tarian : kepala, tangan, dan kaki harus bergoyang seirama dengan gendang dan gong yang sedang dimainkan. Itulah sebabnya, paki dan ta’ang bisa disebut penari, bisa disebut petarung.
Bagian badan yang boleh dipukuli meliputi bagian pusar ke atas hingga wajah. Jika pukulan larik mengenai bagian wajah hingga luka atau berdarah, maka yang bersangkutan harus diberhentikan. Dalam caci, ini disebut beke (aib) yang biasanya membawa malu bagi kelompok dari mana pemain atau penari caci itu berasal. Itulah sebabnya seorang penari caci harus serba tangkas dan hati-hati.
Setelah seorang pemain caci berhasil menangkis cambukan dari lawannya, ia akan membawakan dere nenggo (sebuah lagu tunggal). Suaranya itu harus baik (tidak sumbang) dan syair yang dibawakannya tidak boleh menyinggung perasaan orang lain, tetapi membuat penonton kagum atau simpati. Isi lagu juga harus sesuai dengan topik saat itu.



Unik
Tarian ini mengkolaborasikan antara seni tari, musik, seni bersyair, dan seni bela diri. Karena juga termasuk bela diri, maka tarian caci dapat disebut juga sebagai olah raga tradisional suku Manggarai.
Keunikan lain tarian ini adalah bahwa seorang penari caci harus pandai bertatakrama dengan syair-syair yang menghibur penonton. Biasanya ia menggunakan kata-kata yang mengandung kiasan dan puitis, dan tidak menyinggung perasaan sehingga mengundang sorak-sorai penonton. Raut muka yang ramah pada saat dan sesudah tarian berlangsung juga merupakan bagian penting dari keramahtamahan ini yang disebut lomes.
Meskipun nampaknya penari caci berkelahi hebat, saling cambuk, namun tarian ini adalah sebuah momen budaya yang dimainkan dengan penuh suka cita. Dalam menampilkan kehebatan cambuk-tangkis, tidak mengutamakan kalah atau menang, tetapi lebih mementingkan semangat kekeluargaan dan sportivitas karena buktinya dari dulu sampai sekarang tidak ada permusushan antarsuku dalam masyarakat manggarai karena caci.