Jumat, 24 Mei 2013

MATI TERKUTUK

Kau jilati semua senyum, kemudian dengan rakus
Kau kunyah telan semua pujian, tapi tak pernah bersendawa
Pantatmu basah penuh liur karena sering dijilat
Kebodohanmu kau selubungi dengan jubah keegoisan
Sebenarnya keangkuhanmu yang tinggi adalah menara garam
Umurmu tidak akan lebih panjang dari kembang api

Kau adalah representasi sempurna dari masyarakat strukturalis dengan pemikiran abad pertengahan
Kau tidak diciptakan untuk bertahan dalam pluralitas
Matamu yang cacat tak bisa menggradasi warna
Kau melempem dengar kritikan
Sedangkan otakmu adalah el nino yang abadi

Pasar loak adalah bangku universitasmu
Tidak heran kau gampang dibeli, gampang rusak, segera dibuang
Kau bagian dari masyarakat dengan budaya polos
Hidup dalam keteriramaan  dengan memori linear masa lalu
Karena itu kau akan diseret kembali ke zaman rodi dan romusha
Karena di situlah kau seharusnya berada

Sangat memalukan bahwa kita lahir dari tanah yang sama
Tapi kau hanya akan tumbuh bagai benalu
Hingga kemarau datang dan kau mengering sampai ke akar
Bersama kotoran hewan dan rerumputan kering yang lain
Di sanalah kau terkapar untuk menyuburkan orang lain
Hanya dirimu diikat pakai dasi, diseret ke bawah tumit sepatu orang lain

Dan yang paling disayangkan adalah kau tidak pernah sadari semuanya itu
Sampai tiba waktunya di mana sudah terlalu terlambat untuk melakukan apa-apa
Saat itulah dengan malu kau bergumam pada bayanganmu sendiri,
“Sayalah yang dimaksud dalam puisi perempuan gila itu.”

Kamis, 23 Mei 2013

DIKATAIN "PELACUR" ITU BELUM SEBERAPA, 'MASIH LUMRAH KOK...'

Malam sekitar jam tujuh, seorang gadis—sebut saja Sani— sedang janjian dengan temannya—sebut saja Maria. Sani datang bersama pacarnya, mereka menunggu di depan gerbang kos Maria yang langsung bersampingan dengan sebuah lorong remang-remang menuju perkampungan. Lorong itu tak begitu ramai kendaraan bila hari sudah gelap. Sani menunggu di atas motornya sedangkan pacarnya berdiri agak jauh dari situ. Tiba-tiba seorang bapak dengan genitnya menggoda Sani (mungkin karena tak melihat keberadaan pacarnya yang berdiri terpisah agak jauh darinya). Bapak itu menyiulinya dan memanggil-manggil dengan cara yang tak sopan dan menggelikan. Awalnya Sani diam saja, namun karena berkali-kali tetap dicuekkin, bapak itu geram dan serta merta mengatainya perek (pelacur). Si bapak mendekati Sani dan mengatai-ngatainya seolah Sani sedang mangkal karena duduk-duduk sendiri tak jelas di jalanan temaram yang lumayan sepi itu.sani dan pacarnya yang langsung mendekat elas tak terima dikatai dan diperlakukan begitu. Singkat cerita, mereka pun berdebat mulut. Maria dan seorang temannya akhirnya keluar dari dalam kos dan mencoba melerai, namun si bapak dengan pongahnya tak mau mengalah. Malahan ia mengancam bahwa ia orang asli perkampungan situ, sekaligus juga kenal dengan banyak preman jadi harus hati-hati kalau berurusan dengannya. Sani yang merasa dilecehkan dan diancam melapor ke polisi, menuntut perbaikan nama baik, si bapak menghilang. Sesampai di kantor polisi, Sani menjelaskan detail jalan cerita.namun di ujung kalimatnya, Pak Polisi malah hanya bertanya, “Trus masalahnya apa?” Pak Polisi lalu menganjurkan penyelesaian secara kekeluargaan.
Cerita di atas adalah kejadian nyata dari teman saya. Yang saya prihatinkan dari kisah ini adalah ketidakpekaan kita sebagai manusia terhadap hak-hak asasi kita sendiri. Tadi-tadinya waktu mendengar cerita ini dari Maria, saya amat marah dengan si Bapak Tidak Bermoral yang menggoda, memaki, dan mengancam Sani tanpa sebab, namun setelahnya kemarahan saya berpindah pada aparat penegak hukum yang responnya menyepelekan.
Dalam budaya maskulin kita, ada banyak kasus seperti ini. Seorang wanita diperkosa, lalu komentar dari masyarakat :
“Pasti wanita itu berpakaian dan berdandan berlebihan (menor), makanya tidak heran kalau dia mendapat sial seperti itu.”
BAYANGKAN !!!!!!
Parahnya lagi, tidak jarang komentar sedemikian itu dilontarkan oleh kaum perempuan sendiri. Betapa butanya kita. Apakah berpakaian dan berdandan bukanlah hak asasi setiap orang? Dan apakah tidak ada yang menyadari bahwa kontrol seks laki-laki bersama moralnya yang sakit lah yang mendorong id-nya untuk memperkosa? Lalu kenapa kesalahan justru dilimpahkan pada si korban? Betul-betul dunia yang sudah terbalik! Pada kasus Sani tadi, menurut cerita Maria, pada waktu itu Sani hanya mengenakan sandal jepit, celana selutut, dan jaket longgar. Kalau begini kan bisa diambil kesimpulan, bukan penampilan seorang perempuanlah yang menjadi faktor pelecehan seksual (atau pemerkosaan) terjadi, namun tentu faktor moral, kesehatan psikologis, pendidikan, dan sejenisnyalah yang jadi penyebab utamanya bukan?
Kembali pada yang terjadi di  kantor polisi tadi. Seolah si Pak Polisi tersebut tidak paham duduk perkaranya. Ataukah, pertanyaan saya sebagai awam-hukum : belum adakah definisi pasti tentang pelecehan seksual? Belum ada undang-undangnyakah? Apakah suatu tindakan baru akan dinobatkan sebagai pelecehan seksual kalau sudah adanya pemerkosaan? Jadi kesimpulannya, kalau baru digodain dan dikatain pelacur sih, belumseberapa, nggak usah marah, jangan kayak orang susah deh….

Minggu, 14 April 2013

Negeri Matahari

Di negeri matahari tak ada yang tersembunyi, termasuk gigi
Wajah-wajah berseri dari puncak gunung sampai lubuk bahari
Laut yang hangat, lagit yang tinggi
Pepohonan rindang, berdaun lebar-lebar, menyerap energi
Kembang bersemi, tumbuhan bertunas, di pagi hari

Di negeri matahari kau tak akan sendiri
Karena mereka masyarakat yang suka berbagi, gampang simpati
Hidup terasa sangat dekat, seperti bukit dari lembah
seperti ombak dari teluk, tak ada yang terpisah

Di negeri matahari hidup tak pernah hanya satu dimensi
Dan yang paling indah dari kehidupan di negeri ini,
mereka tak menuntut lebih, hanya mengambil apa yang hidup beri
Karena ia yang mematangkan padi, menghadiahkan pelangi,
dan semua wana-warni saat musim berganti posisi

Jumat, 29 Maret 2013

Mahasiswa NTT di Jogja Nyalakan 2000 Lilin



Tepat pukul 18.00 WIB, Rabu, 27 Maret 2013, semua warga Nusa Tenggara Timur yang saat ini menjalani masa studi di Yogyakarta berkumpul di titik nol kilometer, Tugu, dalam rangka memperingati empat warga NTT yang tewas ditembak beberapa waktu yang lalu. Sebagai tanda turut bekabung, mereka menyalakan lilin, yang disebut aksi 2000 lilin. Sekitar dua ratus mahasiswa berdiri mengelilingi garis luar tugu dan menyalakan lilin di atasnya. Aksi ini jelas saja menyebabkan kemacetan dan untuk menjaga keamanan dan keselamatan, polisi lalu lintas datang sehingga prosesi 2000 lilin tersebut bisa berjalan dengan lancar.











Orasi singkat, pengheningan cipta, dan doa yang berlangsung dilengkapi dengan nyanyi bersama lagu “Flobamora”, lagu tanah air NTT, dan lagu “Indonesia Raya”. Acara ditutup dengan peneriakan yel-yel dengan sangat bersemangat dari muda-mudi tersebut.

Selasa, 19 Maret 2013

MUSIM HIDUP



          Sejak kecil aku selalu akrab dengan alam. Dan betapa aku menyadari air adalah inti kehidupan yang menggantikan setiap dahaga menjadi telaga, melahirkan kesuburan, mengedarkan darah, dan membersihkan udara. Air bukan saja melengkapi atau menyempurnakan, namun melahirkan, menjadikan ada, dan menghidupkan.
         Aku selalu menanti musim berganti, berhibernasi saat kemarau menjatuhkan semua daun ke tanah yang terbagi-bagi ke dalam bongkahan besar dan kecil; sampai musim air tiba. Di mana semua tunas keluar dari persembunyiannya di balik tumpukan daun kering yang kian menyatu dengan tanah beserta lapukan mayat-mayat makhluk hidup. Di saat musim ini datang, aku menyaksikan siklus hidup yang menggembirakan. Ini adalah musim di mana kehidupan dirayakan. Musimnya regenerasi, reinkarnasi, tak ada yang mati, semuanya kembali ke bawah matahari.
         Setiap hari aku selalu dibawa ke tempat-tempat baru oleh pikiranku sendiri. Ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya, namun terasa tak asing dalam alam hayalanku. Di sana kudapati diriku utuh karena di sanalah belahan jiwaku memanggil-manggil dalam ketenangan yang mengundang. Bayangan diriku berjalan di alam tersebut terasa sangat nyata, sampai-sampai aku yakin di suatu tempat di dunia ini ada tempat yang seperti itu. Gambarannya mungkin seperti deskripsi Stephanie Meyer tentang alam Forks yang ada dalam novel Twilight.
         Dalam hayalanku itu, aku berjalan di suatu tempat yang kuyakini luas, hanya saja saking lebat pepohonannya, terasa sempit. Aku berjalan tanpa alas kaki. Kakiku yang terasa ringan, seolah menemukan home sweet home, dengan lincahnya hampir seperti sambil loncat-loncat menyusuri rimbunan daun yang warnanya sangat hijau, bahkan hampir menyerupai warna lumut. Setiap daun yang kusentuh, menyambutku dengan tetesan embun di ujungnya : sesejuk surga dan sebening kristal. Telapak kakiku beradu lembut dengan rumput, tanah, dan lumut yang menyatu dalam suatu skala becek yang membuat suasana kulitku nyaman. Aku hampir yakin aku berada di sebuah surga. Aku lupa kalau aku memiliki raga yang sehari akan merasa lapar dua atau tiga kali. Lagian di tempat ini tak ada petunjuk hari. Aku juga lupa kalau aku membutuhkan manusia lain sebagai inti dari eksistensiku dalam istilah zoon politicon. Tapi aku di sini, merasa nyaman, aman, dan sempurna, aku sampai lupa kalau aku berasal dari dimensi yang sarat teknologi.
        Aku terus berjalan, menikmati keberadaanku di antara alam hayalanku yang durasinya biasanya tak akan lama.
        Mataku tak sendiri, ia bersama hatiku yang tak hentinya bernyanyi dan bersyair, dan kicauan burung yang hanya beberapa senti di belakang daun telingaku. Sejauh batas pendengaranku, kudengar langkah seekor dua ekor hewan berkejaran dan masuk ke dalam lubang dalam batang pohon tua raksasa yang akarnya menjalar dalam tanah ke arah delapan penjuru mata angin di tempat ini. Aku bahagia tiada tara. Aku tak ingin kembali, kemana pun arti kembali itu.
        Ke sanalah hayalanku membawaku setiap kali hujan turun. Kadang aku bertanya, apakah mungkinkah karena aku lahir di dalam jeda waktu bintang pisces, sehingga aku menjadi manusia yang tak bisa terpisah dari segala yang berhubungan dengan air?
       Aku berharap musim hujan ini jangan lekas berakhir…


Selasa, 05 Maret 2013

Opera Di Pagi Hari



Aku menemukan kehangatan dari gigilnya sinar matahari yang membeku

Seolah dalam ribuan percik air mata yang berhamburan tanpa rasa sakit

Aku rindu bilamana cahaya itu membiru terjebak turunnya hujan

Dan langit yang blur seakan menyatu dalam dramatisasi irama

Alam sedang menggubah tangga nada menjadi mahakarya

Kali ini angin memainkan peran sebagai anak gadis yang duduk manis

Tak bisa dikira berapa lama penjelmaannya memakan waktu sampai habis

Tanah bak laki-laki tua yang menenggak arak sampai sekarat

Semua yang bersayap bersabar di sangkar, sebagian di bandara

Kota ini terbiasa hidup di bawah matahari

Tapi pagi ini biarkan hujan menyanyi dan menari