Di negeri matahari tak ada yang tersembunyi, termasuk gigi
Wajah-wajah berseri dari puncak gunung sampai lubuk bahari
Laut yang hangat, lagit yang tinggi
Pepohonan rindang, berdaun lebar-lebar, menyerap energi
Kembang bersemi, tumbuhan bertunas, di pagi hari
Di negeri matahari kau tak akan sendiri
Karena mereka masyarakat yang suka berbagi, gampang simpati
Hidup terasa sangat dekat, seperti bukit dari lembah
seperti ombak dari teluk, tak ada yang terpisah
Di negeri matahari hidup tak pernah hanya satu dimensi
Dan yang paling indah dari kehidupan di negeri ini,
mereka tak menuntut lebih, hanya mengambil apa yang hidup beri
Karena ia yang mematangkan padi, menghadiahkan pelangi,
dan semua wana-warni saat musim berganti posisi
Minggu, 14 April 2013
Jumat, 29 Maret 2013
Mahasiswa NTT di Jogja Nyalakan 2000 Lilin
Tepat
pukul 18.00 WIB, Rabu, 27 Maret 2013, semua warga Nusa Tenggara Timur yang saat
ini menjalani masa studi di Yogyakarta berkumpul di titik nol kilometer, Tugu,
dalam rangka memperingati empat warga NTT yang tewas ditembak beberapa waktu
yang lalu. Sebagai tanda turut bekabung, mereka menyalakan lilin, yang disebut
aksi 2000 lilin. Sekitar dua ratus mahasiswa berdiri mengelilingi garis luar
tugu dan menyalakan lilin di atasnya. Aksi ini jelas saja menyebabkan kemacetan
dan untuk menjaga keamanan dan keselamatan, polisi lalu lintas datang sehingga
prosesi 2000 lilin tersebut bisa berjalan dengan lancar.
Orasi
singkat, pengheningan cipta, dan doa yang berlangsung dilengkapi dengan nyanyi bersama
lagu “Flobamora”, lagu tanah air NTT, dan lagu “Indonesia Raya”. Acara ditutup
dengan peneriakan yel-yel dengan sangat bersemangat dari muda-mudi tersebut.
Selasa, 19 Maret 2013
MUSIM HIDUP
Sejak kecil aku selalu akrab dengan alam. Dan betapa aku menyadari air adalah inti kehidupan yang menggantikan setiap dahaga menjadi telaga, melahirkan kesuburan, mengedarkan darah, dan membersihkan udara. Air bukan saja melengkapi atau menyempurnakan, namun melahirkan, menjadikan ada, dan menghidupkan.
Aku selalu menanti musim berganti, berhibernasi saat kemarau menjatuhkan semua daun ke tanah yang terbagi-bagi ke dalam bongkahan besar dan kecil; sampai musim air tiba. Di mana semua tunas keluar dari persembunyiannya di balik tumpukan daun kering yang kian menyatu dengan tanah beserta lapukan mayat-mayat makhluk hidup. Di saat musim ini datang, aku menyaksikan siklus hidup yang menggembirakan. Ini adalah musim di mana kehidupan dirayakan. Musimnya regenerasi, reinkarnasi, tak ada yang mati, semuanya kembali ke bawah matahari.
Setiap hari aku selalu dibawa ke tempat-tempat baru oleh pikiranku sendiri. Ke tempat-tempat yang belum pernah kudatangi sebelumnya, namun terasa tak asing dalam alam hayalanku. Di sana kudapati diriku utuh karena di sanalah belahan jiwaku memanggil-manggil dalam ketenangan yang mengundang. Bayangan diriku berjalan di alam tersebut terasa sangat nyata, sampai-sampai aku yakin di suatu tempat di dunia ini ada tempat yang seperti itu. Gambarannya mungkin seperti deskripsi Stephanie Meyer tentang alam Forks yang ada dalam novel Twilight.
Dalam hayalanku itu, aku berjalan di suatu tempat yang kuyakini luas, hanya saja saking lebat pepohonannya, terasa sempit. Aku berjalan tanpa alas kaki. Kakiku yang terasa ringan, seolah menemukan home sweet home, dengan lincahnya hampir seperti sambil loncat-loncat menyusuri rimbunan daun yang warnanya sangat hijau, bahkan hampir menyerupai warna lumut. Setiap daun yang kusentuh, menyambutku dengan tetesan embun di ujungnya : sesejuk surga dan sebening kristal. Telapak kakiku beradu lembut dengan rumput, tanah, dan lumut yang menyatu dalam suatu skala becek yang membuat suasana kulitku nyaman. Aku hampir yakin aku berada di sebuah surga. Aku lupa kalau aku memiliki raga yang sehari akan merasa lapar dua atau tiga kali. Lagian di tempat ini tak ada petunjuk hari. Aku juga lupa kalau aku membutuhkan manusia lain sebagai inti dari eksistensiku dalam istilah zoon politicon. Tapi aku di sini, merasa nyaman, aman, dan sempurna, aku sampai lupa kalau aku berasal dari dimensi yang sarat teknologi.
Aku terus berjalan, menikmati keberadaanku di antara alam hayalanku yang durasinya biasanya tak akan lama.
Mataku tak sendiri, ia bersama hatiku yang tak hentinya bernyanyi dan bersyair, dan kicauan burung yang hanya beberapa senti di belakang daun telingaku. Sejauh batas pendengaranku, kudengar langkah seekor dua ekor hewan berkejaran dan masuk ke dalam lubang dalam batang pohon tua raksasa yang akarnya menjalar dalam tanah ke arah delapan penjuru mata angin di tempat ini. Aku bahagia tiada tara. Aku tak ingin kembali, kemana pun arti kembali itu.
Ke sanalah hayalanku membawaku setiap kali hujan turun. Kadang aku bertanya, apakah mungkinkah karena aku lahir di dalam jeda waktu bintang pisces, sehingga aku menjadi manusia yang tak bisa terpisah dari segala yang berhubungan dengan air?
Aku berharap musim hujan ini jangan lekas berakhir…
Selasa, 05 Maret 2013
Opera Di Pagi Hari
Aku menemukan kehangatan dari gigilnya sinar matahari yang membeku
Seolah dalam ribuan percik air mata yang berhamburan tanpa rasa sakit
Aku rindu bilamana cahaya itu membiru terjebak turunnya hujan
Dan langit yang blur seakan menyatu dalam dramatisasi irama
Alam sedang menggubah tangga nada menjadi mahakarya
Kali ini angin memainkan peran sebagai anak gadis yang duduk manis
Tak bisa dikira berapa lama penjelmaannya memakan waktu sampai habis
Tanah bak laki-laki tua yang menenggak arak sampai sekarat
Semua yang bersayap bersabar di sangkar, sebagian di bandara
Kota ini terbiasa hidup di bawah matahari
Tapi pagi ini biarkan hujan menyanyi dan menari
Minggu, 03 Februari 2013
Don't Wake Me Up
Malam ini Bapa saya
menelepon. Suaranya terdengar lelah dan tua, mengingatkan saya waktu
cepat sekali berlalu. Saya turut merasa tua jadinya Beda dari
biasanya, tak ada humor dalam suaranya. Datar. Saya punya
kekhawatiran yang bakal diamini oleh waktu yang mana hanya berlaku
maju. Hati saya mati-matian merengek tidak, tapi begitulah nyatanya.
Bapa saya bertambah tua. Saya tambah dewasa, harusnya. Belasan tahun
yang lalu tidak terpikirkan oleh saya bahwa akan datang hari-hari
semacam ini.
Tinggal terpisah
enam tahun lebih dari Beliau membuat saya hanya bisa mengenalinya
dari suaranya (Terima kasih buat siapa saja yang telah menciptakan
handphone).
Dan suaranya malam ini membuat saya menjatuhkan air mata. Tidak, dia
tidak sedang sakit. Dia hanya lelah. Suaranya berat, seolah sedang
menarik ribuan mil jalan yang telah dia lewati puluhan tahun yang
lalu untuk mendekat. Dan dia telah melewatkan perjalanan selama enam
tahun belakangan ini tanpa saya. Secara fisik terpisah jarak yang
bisa diukur oleh satuan kilometer, jumlahnya ribuan. Padahal saya
punya impian untuk pergi jauh. Dari sini ke sana, jauh, ke
tempat-tempat di mana mimpi saya berada. Maka akan ada lebih banyak
waktu lagi ke depan yang saya habiskan tanpa Bapa saya. Begitulah
cita-cita, letaknya tak pernah hanya di samping rumah, atau satu blok
dari kompleks rumah Anda.
Dia tidak tahu
caranya mengeluh. Tapi dari suara inilah saya tahu. Air mata saya
menetes tanpa suara apalagi sesengguk. Mengalir tulus, sunyi. Tidak
juga saya usap, mengering sendiri tanpa saya sadari. Bapa, saya punya
kekhawatiran ini, karena siapa yang dapat melawan waktu? Tidak juga
air mata ini.
‘Pulang’ adalah
kosakata yang menyakitkan saya malam ini.
Sabtu, 26 Januari 2013
Tetangga Sebelah Meninggal, Musik Dimatikan
Kos saya terdiri dari empat lantai.
Lantai pertama tempat parkir, lantai kedua sampai ke empat itu kamar-kamar kos.
Saya di lantai teratas, berpikir atas berkat rahmat ketinggian, saya bisa ber-DJ
ria setiap hari tanpa mengganggu wilayah kekuasaan Pak RT terhormat. Saya DJ
nya, dan saya pula yang menikmati lantai dansa…ahahhaha… Dramatis? Tidak juga,
ini sejenis apresiasi dalam menghargai setiap hari di bumi ini dengan melodi
supaya hidup layaknya ivory dan ebony dalam indahnya harmoni…kwkwkwk. (sebenarnya
musik bagi saya adalah terapi menghapus lelah dari hari yang terpanggang
matahari dan terendam keringat!)
Sebenarnya segala sesuatu di dunia
ini menciptakan musik (coba nonton August
Rush !) : kicau burung, dedaunan yang
ditiup angin, suara kendaraan, pintu rongsok yang berderek setiap kali dibuka
atau ditutup, bunyi klik di mouse PC
Anda, sampai omelan mama Anda pun sebenarnya kalau diracik….bisa jadi musik (just
kidding). Baru jadi musik jika kita memperhatikan dengan seksama, maksudnya.
Dua hari yang lalu Mas Lili,
penjaga kos saya yang baik hati, menegur saya waktu saya memutar musik
keras-keras (kuping saya agak alergi magnet yang ada dalam headset), sebelumnya
tidak pernah—mereka selalu membiarkan saya sakaw bersama dentuman-dentuman dan
teriakan-teriakan stereo (lebay!).
Katanya ada tetangga samping kos kami meninggal. Aduh, kasian.
Selama dua hari saya puasa musik
karena jenazah masih belum dimakamkan. Sepulang kerja, butuh hiburan setidaknya
musik slow, tapi saya menahan diri. Lagian kuping saya juga butuh istirahat.
Dalam istirahat saya berpikir, lama-lama musik sudah bukan lagi kebutuhan seni,
melainkan meningkat menjadi ekstasi atau obat bius atau alkohol : kita
mengonsumsinya sebagai pelampiasan atau pelarian dari masalah. Setelah tak ada musik
lagi, kita ketagihan. Seakan bukan hanya jiwa kita lagi saja yang
membutuhkannya, tetapi daging pun iya. Seakan daging dan darah saya ikut
berteriak : “Woooiii, musik, musik, musik!!!!”
Musik sudah bukan kebutuhan rohani
lagi, tapi juga jasmani dan benar saja kalimat ini: yang namanya jasmani, ia
tak pernah puas.
Selasa, 22 Januari 2013
MUSIM HUJAN KE 21 DALAM HIDUP SAYA
Entah kenapa hati ini tak
ingin ditinggalkan mata. Ia tak mau terpejam. Mungkin di dalam sana terlalu
banyak ketakutan dan kekhawatiran. Sehingga sejak tadi malam samapai saat ini,
5.42, saya belum juga tidur. Yang saya lakukan adalah menonton ulang film Eat
Pray and Love. Setelah selama ini menonton film ini beberapa kali baru saya
pahami artinya baik-baik sekarang, setidaknya menurut saya begitu. Banyak hal
yang ia ajarkan, tidak hanya sekedar memiliki 49 cap di paspor anda untuk
meneguk hidup, namun : berani keluar dari segala sesuatu yang tadinya selalu
akrab seperti rumah dan mencari kebenaran dengan melalui sebuah jalan di mana
setiap hal atau orang yang kita temui dapat kita anggap sebagai guru; maka
kebenaran tidak akan menjauh dari kita. Itu kata-kata yang diucapkan Julia
Roberts.
Tepat seperti yang saya rasakan. Saya sedang bergerak keluar dari
zona aman. Hanya saja kata saya bukan ‘kebenaran’, entah apa. Menjadi seseorang
yang benar tak pernah jadi impian saya. Saya hanya ingin menjadi orang yang
‘hidup’ dalam kehidupan. Tapi sekarang saya merasa mati dalam kehidupan.
It’s Your Love menjadi soundtrack saya pagi ini. Saya sedang menatap jendela kamar
saya yang kian melapuk oleh hujan. Tirai setengah terbuka. Pagi ini hujan
memeluk Jogja. Tidak keras, tapi juga bukan gerimis: tipe hujan favorit saya.
Dari atas tempat tidur saya, memangku laptop dan mencium aroma hujan
mengitari cahaya khas pagi di bulan Januari yang mana tak akan pernah saya
lupakan walau 40 tahun berikut ini saya habiskan di Skandinavia. Sambil
berpikir di mana lagi di belahan bumi ini bisa saya temukan hujan sehangat dan
secinta ini. Entahlah, kata cinta mungkin aneh. Namun setiap kali hujan turun,
ia menyembuhkan saya. Semua rasa sakit dan lelah ia ganti dengan cinta. Karena
itu saya ingin memori saya memotret keadaan dan situasi pagi ini. Bahkan
mungkin ini adalah permohonan terakhir saya di bumi. Mengingat semua memori
awal dalam kehidupan saya mulai menghilang satu-satu, saya hanya ingin meneguk
setiap embun baru setiap pagi.
Wow, lucu. Tadinya banyak yang ingin saya katakan tentang keluhan
dan kesedihan saya, namun ternyata yang diketik oleh jemari saya hanyalah
hujan. Hujan… mantra yang membekukan lukaku dan mencairkan cintaku. Hujan…
tinggalkan basah di hatiku, bukan di mataku. Hujan…memainkan gentar di hatiku
menjadi getaran gairah.
Dan ini hujan ke 21 selama saya hidup. Dua puluh satu saat-saat
paling diingat dan terekam dalam memori antara saya dan ayah saya; antara saya dan
kakak saya; dan antara saya dan diri sendiri. Saya sangat terlibat sepenuhnya
saat musim hujan tiba: merayakannya dengan tanam-tanaman di sawah, dengan
memancing bersama ayah saya dan kakak-kakak saya, bermain payung, berenang di
sungai, kejar-kejaran di dalam hujan, memijak lumpur, sampai hanya terjebak di
balik jendela dan mencoba menulis ejaan M-O-N-A di jendela rumah saya yang berembun
bersama kakak saya, juga ditemani seekor lalat yang kebetulan terperangkap di
sana kebingungan mencari jalan keluar.
Tapi itu 15 tahun yang lalu. Dan saya tetap saja tidak bisa menjawab
pertanyaan : kenapa semua memori yang masih terekam dalam ingatan saya biasanya
hanya yang ada latar hujannya?
Siang nanti kaki dan kepala ini akan membawa saya ke tempat-tempat
yang tidak dikehendaki oleh keempat indra saya. Semuanya hanya ingin menempel
di selimut ini, mendengarkan hujan, mencium aromanya, sambil melihat keluar
jendela, dalam diam.
Hanya hujan yang bisa menyembuhkanku.
Langganan:
Postingan (Atom)


