Senin, 12 November 2012

Masa muda


Sebagai orang muda, terus terang saya sangat bangga. Dan hanya satu titik jaraknya untuk bergeser ke sombong. Banyak hal bisa saya lakukan untuk mengukir kisah masa muda saya, yang mana setan pun tahu, hanya terjadi sekali.
Setiap hari bagi saya adalah adegan sejarah, seolah saya akan mengukirnya pada batu cadas yang akan bertahan sebagai artefak untuk berjuta-juta tahun yang akan datang. Tapi tidak juga, maksud saya tidak selalu seperti itu. Sering kali saya tidak menyadari terjadinya kehidupan itu, saking saya terlalu terlibat di dalamnya. Lalu akan datang hari-hari di mana saya berhenti sejenak untuk menoleh ke belakang, lalu saya akan berkata, “Wah, saya sudah banyak berbuat salah” atau “Oke, sepertinya saya sudah terlalu banyak membuang-buang waktu” atau begitu pula jika saya berbuat baik.
Dan saya dalam cerita kali ini, Dreamers sekalian, mau menyimpulkan apa yang saya alami sebagai orang muda. Yaitu bahwa jika kita hanya tahu MASA MUDA ADALAH MASA YANG BAHAGIA tanpa menyadari makna yang sebenarnya di balik kalimat itu, maka tidak akan banyak arti yang kita tabung untuk dikenang di hari kelak. Begitu pun, tidak banyak manfaat yang dapat kita jadikan garam untuk hari dewasa kita nanti. Maksud saya, ada baiknya kalau kita, sebagai orang muda, juga menyadari dan memaknai kemasamudaan kita itu sendiri agar menjadi lebih berarti.

1.      Masanya bermimpi.
Rugi besar kalau hidup tanpa mimpi. Kapan seseorang suka bermimpi? Ya, sejak kecil. Tapi pada masa mudalah mimpi seseorang menjadi matang. Setiap orang muda suka menghayal, melamun, berfantasi, dan hal-hal lain yang sejenis. Mereka mengimpikan apa pun yang mereka lihat dalam film, mereka baca di buku, mereka lihat di foto, atau yang mereka dengar dari cerita orang lain. Mereka percaya bahwa dunia ini luas, penuh harapan dan harapan-harapan itu bisa diwujudkan. Saat mereka tua, konsep mereka tentang mimpi akan sedikit berubah. Karena itu jangan tunggu tua untuk mewujudkan mimpi. Masa mudalah saatnya untuk itu! Sukses dan gagal itu biasa, tapi bukankah dari keduanya itulah muncul pengalaman? Dan bukankah masa muda adalah masanya mengumpulkan pengalaman? Makanya, dalam bermimpi jangan takut sukses atau gagal. Just keep on dreaming, DREAMERS!

2.      Masa di mana pencernaan kita masih lancar.
Percaya atau tidak, ini juga salah satu faktor yang membuat masa muda itu indah. Kalau memang kamu sekarang ini sedang mengalami gangguan pencernaan, itu tidak separah kalau sudah tua nanti. Jadi begini, masa muda tidak hanya tentang keadaan psikologis tapi juga keadaan biologis. Bebas keriput itu jelas, belum beruban juga pastinya, belum rabun tentu saja. Tapi ini hanya apa yang tampak di luar. Yang terjadi di dalam tak kalah pentingnya. Contohnya pencernaan yang saya sebut di atas tadi. Seorang remaja muda yang perokok dan peminum masih bisa buang air sehari sekali, tapi para orang tua belum tentu bisa. Itulah salah satu yang menjawab penimbunan lemak yang terjadi pada mereka. Selain itu orang muda masih kuat begadang atau nongkrong sampai jam 3 atau 4 pagi (bahkan lebih) tapi orang tua? Bukannya mereka tidak ingin, tapi fisik mereka tidak mengijinkan. Bicara tentang fisik, masa muda adalah tiket kita untuk melakukan aktivitas apa pun, dalam cuaca apa pun, dalam situasi apa pun. Tapi jangan pakai untuk aktivitas yang tidak mendatangkan produktivitas ya… Senang dan sehat membuat panjang umur bukan? Karena itu lakukanlah hal-hal positiv yang menyenangkan dan menyehatkan. Apalagi kalau bisa mendatangkan rejeki, nilai plus banget!

3.      Masanya berdebar-debar.
Ini adalah keadaan psikokogis si muda. Apa-apa berdebar-debar. Ujian berdebar, membuat kesalahan pun gemetaran, jatuh cinta juga berdebar-debar (biasanya disertai malu-malu kucing). Berdebar ini adalah gelombang perasaan yang unik dan menegangkan yang akan menghilang seiring pertambahan usia dan kematangan psikologis seseorang. Apa manfaatnya? Bagaimana pun, debaran inilah yang membuat sesuatu lebih ‘bercerita’ dibandingkan kalau berjalan bisa saja tanpa ada yang men-dag-dig-dug kan. Iya kan? Ngaku aja…

4.      Masanya berbuat salah.
Sepertinya tiada hari tanpa berbuat salah. Entah disengaja atau tidak, entah itu di kelas, di rumah, atau di lingkungan pergaulan. Makanya Lenka bikin lagu ‘Trouble is A Friend’. Seandainya Lenka itu orang tua, patut dipertanyakan masa muda seperti apa yang ia jalani dulunya sehingga ia telat puber begitu.
Lanjut. Dan dari kesalahan-kesalahan inilah seorang muda belajar untuk masa depannya. Berbahagialah mereka yang pernah berbuat kesalahan karena merekalah yang memiliki ‘kisah’. Coba saja renungkan kembali, biasanya kita hanya mengenang momen-momen di mana kita berbuat kesalahan, yang ‘benar’ justru sering tidak terekam dalam ingatan. (Dalam poin ini, penulis salah satu frontwoman, hihihihi…)

5.      Masa mengukir kenangan.
Pada saat inilah kita mencari sahabat. Bukan berarti waktu tua kita berhenti mencari sahabat. Tapi seorang yang masih muda biasanya akan mencari sahabat yang benar-benar akan ia jadikan tempat berbagi, sebagai teman seperjuangan, menghadapi suka maupun duka. Sedangkan para orang tua biasanya lebih ke mencari relasi, rekan kerja, atau teman yang kebetulan tergabung dalam komunitas yang sama. Lalu apa keuntungan dari mencari sahabat? Dan apa hubungannya dengan mengukir kenangan?
Tentu saja kita akan beroleh sahabat jika kita mau membuka diri. (Dan dari membuka diri, kita belajar membina jiwa yang besar.) sahabat di sini, bukan dalam pengertian ‘Friends With Benefit’ lho, tapi sahabat yang benar-benar tulus menerima kita apa adanya. Dan dari persahabatan itu kita bisa mengalami banyak hal bersama, mengukir banyak cerita bersama yang mana pastinya lebih seru dibandingkan jika cerita itu hanya kita seorang diri yang alami.

6.      Masanya melakukan hal-hal konyol.
Yang disebut pencarian jati diri. Seorang siswa SMA bisa menakalkan dirinya di seantero sekolah hanya supaya diingat oleh para guru atau terkenal di setiap angkatan. Tidak apa-apa. Ini salah satu gejala psikologis dan sudah  senormalnya begitu. Lagi-lagi demi alasan mengukir kisah? Ya, itulah istimewanya masa muda. Ada banyak faktor luar dan dalam (psikologis, biologis, sosiologis) yang mewarnai hari-harinya dan menambah cerita. Asalkan cerita itu bukan sebuah tragedi, semua telinga pasti bakal asyik mendengarkan. Karena itu konyol boleh konyol, asalkan tidak sampai  mati konyol.

7.      Masanya tersesat.
Berpetualang di mana saja. Entah di saat ada uang atau lagi bokek, kalau ada yang mengajak langsung mengiyakan. Sering mencari tempat-tempat baru, entah itu tempat yang hanya sekedar dijadikan tempat nongkrong, atau pun tempat tujuan wisata. Yang penting ada kendaraan, ada bensin, langsung cabut. Kalau tak ada dua-duanya, sepedaan atau jalan kaki pun mereka mau melakukannya. Ck ck ck, dasar anak muda….
Masa ini adalah masanya menantang adrenalin. Banyak aktivitas yang ‘berbahaya’ dilakukan. Itulah kenapa disebut juga masa muda adalah masa ‘serba ingin tahu’ atau masa ‘serba penasaran’. Tidak ada kata khawatir, malah cenderung nekat. Inilah yang sering mendatangkan kekhawatiran para ibu. Tapi jika hal yang menantang itu diolah menjadi sesuatu yang bermanfaat bagi umum, kenapa tidak? Misalkan olah raga, dance, travelling, dan sebagainya.

8.      Masanya berproduksi (dan reproduksi, xixixi)
Di saat kita masih muda, ingatan kita masih sangat kuat dan segar. Itulah sebabnya kita bisa memikirkan  ide-ide yang kreatif dan inovatif. Kita bisa memikirkan apa yang orang tua tidak terpikirkan. Kita pun mendapat hak istimewa untuk memasuki suatu komunitas tertentu, misalnya para pesepakbola atau olahragawan yang biasanya dikenai batas umur tertentu. Jangankan olahragawan, orang yang melamar di tempat-tempat perniagaan pun dibatasi bagi yang muda saja, biasanya 23-27!
Karena itu, sayang sekali kalau masa muda kita hanya kita habiskan untuk kesiangan di atas kasur. Jika kita belum menyadari motivasi diri, cobalah melihat ke teman yang sukses, siapa tahu kita terinspirasi olehnya. Kita lalu memiliki motivasi dan semangat yang serupa. Di sinilah salah satu gunanya teman. Seorang teman tak harus selalu memotivasi secara langsung, bisa juga dengan cara yang tak terlihat atau tak terdengar.

9.      Masanya membangkang.
Jangan tanya lagi. Sadar tidak sadar, kita semua pernah membangkang. Kata orang kalau belum membangkang belom afdol. Baik terhadap orang tua, kepada guru atau masyarakat sebagai pencipta nilai dan norma—mana kenal mereka. Sepertinya aturan mengekang ruang gerak mereka yang mereka harapkan bisa seluas angan-angan liar mereka. Maka terciptalah ungkapan itu, aturan ada untuk dilanggar.
Dan sepertinya sudah menjadi ‘hak istimewa’ seorang muda untuk hal yang satu ini. Kalau anak muda membangkang, orang tua maklum (meskipun makan hati), tapi kalau sesama orang tua membangkang, itu baru ‘angkat alis tinggi-tinggi’. Yah, dan dengan hal yang kian lama kian terasa sebagai hak ini, anak muda angkuh karenanya. Bahkan jika tak dikendalikan, ia akan mencamkan itu sebagai nilai dan norma yang berlaku dalam otaknya. Karena itulah, sebebas-bebasnya sebuah kebebasan, tetap butuh juga yang namanya aturan. Serius…

10.  Dan yang paling penting adalah masa muda adalah masanya jatuh cinta
Saat yang paling membahagiakan adalah ketika hati si muda sedang ditumbuhi benih-benih cinta. Daya hayalnya bisa 3 x lebih aktiv dari sebelumnya. Semangatnya berkobar-kobar dan terkadang tersenyum-senyum sendiri. Jatuh cinta bisa membuat mereka berubah, menjadi lebih dewasa atau bisa juga jadi lebih kekanak-kanakan. Mereka bisa melakukan hal terkonyol atau bahkan tergila saat mereka sedang jatuh cinta. Dan inilah alasan mengapa seorang menjadi muda. Orang tua sekali pun, jika ia sedang jatuh cinta, akan berkata pada dirinya sendiri, “Serasa muda kembali!”
Ah, alangkah indahnya menjadi anak muda….

Minggu, 04 November 2012

Tarian Saman



Hari itu saya sedang menghadiri sebuah acara di auditorium sebuah universitas yang cukup ternama. Saya salah satu mahasiswa yang duduk di antara ribuan mahasiswa lainnya yang datang untuk menyaksikan sebuah roadshow pendidikan. Saat tiba acara pentas seni, di panggung muncul dua orang, laki-laki dan perempuan. Dari tampilan mereka, jelas mereka akan membawakan tarian Saman yang legendaris itu. Mereka duduk bersimpu agak ke pinggir panggung, dengan posisi tubuh mengesampingi penonton. Betapa tak tahan hati saya ingin tahu apa yang akan terjadi selanjutnya—ini kali pertama saya menonton tari Saman secara live.
Dua orang tadi menyanyikan syair dalam bahasa Aceh dan lagunya agak bernuansa islami. Seni betul. Budaya dan agama memang bisa bersatu untuk menghasilkan karya seni. Hampir merinding saya. Belum semua bulu kuduk saya berdiri, sejurus kemudian keluarlah sembilan perempuan, dalam pakaian tradisional yang berwarna mencolok, mengambil tempat bersimpuh di tengah-tengah panggung, menghadap kami. Mereka pun mulai menari diiringi deburan tamborin dan syair lagu yang dibawa oleh si ‘sinden’ perempuan. Gerakan mereka sesuai dengan lagu dan musik, makin lama makin cepat, dan jika ada isyarat melambat dari pemusik, mereka pun ikut melambat. Sangat harmonis dan makin lama tak puasnya saya menikmati. Apalagi kalau mereka menepuk tangan mereka dengan sangat cepat, seolah tangan-tangan itu berkejar-kejaran dari lantai, ke paha, ke dada, ke udara… alamak, indahnyo!
Ternyata doa saya terjawab. Tak sampai di sini saja pertunjukkan mereka karena berapa lama kemudian muncul lima orang laki-laki dari belakang panggung dan mengambil tempat duduk di tengah sembilan perempuan tadi yang telah membagi kelompoknya menjadi dua sel, satu di kiri, lainnya di kanan. Lima laki-laki ini, dari tampangnya saja, jelas mereka bukan orang asli sini. Wajah dan rambut mereka lebih tegas, tetapi dengan senyum lebar di masing-masing wajah, seolah ingin menyatu dengan penonton. Tepuk tangan meriah kembali menyambut. Di saat mereka menunjukkan kebolehan mereka sebagai anak muda kreatif dan cinta budaya, bulu kuduk saya sudah tak mau tidur lagi. Mereka tak hanya jago menepuk tangan dengan tempo yang cepat, tapi juga melambai-lambaikan leher mereka sehingga kepala mereka menggelantung di atas lantai dengan rambut yang ikut berayun, menambah seninya pertunjukkan itu. Tak ada satu tepukan pun yang cacat atau keluar dari garis ritme (emangnya tepuk pramuka?). Sumpah sempurna. Di saat rasa bangga saya akan hasanah budaya Indoesia memuncak, tepat di saat itulah sebuah suara dari balik punggung saya meruntuhkan semua kekaguman saya tadi. Begini katanya, hanya dua kata, “Iiiiihhh….Lucuuuu…” Jelas suara ini milik seorang makhluk berjenis kelamin perempuan.
HAAAAHHH??? “Iiiiihhh….Lucuuuu…”??????????? Anda sedang menonton sebuah masterpiece budaya dan kometar Anda adalah “Iiiiihhh….Lucuuuu…”?????????? Ingin rasanya saya berbalik dan memberikan suatu tatapan seperti ‘Halooooo, Mahasiswa!!!’ padanya, tapi saya memilih untuk diam saja. Saya begitu marah sampai konsentrasi saya sempat buyar menonton Tarian Saman yang masih berlangsung. Perempuan ini, perempuan mahasiswa ini, dia pikir dia sedang menonton salah satu konser murahan Cherrybelle apa??? Atau K-POP atau apalah itu namanya… Saya tidak mengerti, dan masih menjadi tanda tanya besar bagi saya, BAGIAN MANANYA DARI TARIAN SAMAN INI YANG IA SEBUT SEBAGAI ‘LUCU’?
Well, yang ingin saya katakan adalah, tidakkah kalian bangga dengan budaya kita? Kalau bukan kita yang mengapresiasi lalu siapa lagi? Apakah tunggu budaya kita dicuri orang dulu, baru kita merasa memiliki budaya tersebut? Bagaimana kita bisa memperkenalkan budaya kita pada orang di luar Indonesia kalau kita saja tidak mengenal budaya kita sendiri? Lebih parah lagi kalau kita mengenalinya, tapi tidak mengindahkannya?? Salah satu contohnya dengan berkomentar “Iiiiihhh….Lucuuuu…” Tidak ada nilai apresiatif apalagi edukatif dari kalimat ini!!! Apa coba maksudnya? Haloooo, sadarkah Anda, Anda sedang menonton salah satu warisan budaya yang diakui dunia dan dilindungi UNESCO? Tidakkah seharusnya Anda mengungkapkan sesuatu yang menyatakan kebanggaan, daripada sekedar berkomentar “Iiiiihhh….Lucuuuu…” ????



Selasa, 23 Oktober 2012

Dalam Gelap Ada Rahasia Kehidupan




Kubiarkan lampu pelitanya mati

Dingin akan membawanya mencari pelukanku

Dan kubisikan rahasia kehidupan

Bukan bahwa habis gelap terbitlah terang

Akan kubisikan bahwa dunia ini begitu kejam

Sampai ia takut membuka matanya

Sampai ia begitu waspada

Mencoba sangat peka terhadap suara jangkrik

Dan detak detik jarum yang lentik

Setiap detik yang menambah umurmu

Akan memberikan pelajaran bahwa melihat tak begitu penting

Dalam gelap, kau hanya bisa merasa

Meraba dengan sangat hati-hati, sangat peka terhadap yang kasar dan yang lembut

Dalam gelap kau hanya bisa mendengar

Menjadi sangat peka dan sabar

Sampai kau mendengar suara yang hanya bisa didengar oleh hati


Purworejo, 17 September 2012

Minggu, 21 Oktober 2012

THE BITCH IS A MOTHER NOW!


Semua nasihat teman-teman saya di kampus tidak ada yang memuaskan saya, lalu datanglah teman saya yang sedang hamil 8 bulan ini.
 
Akhirnya terjawab lengkap sudah kegundahan saya itu. Di artikel saya yang sebelumnya, saya pernah sebutkan bahwa saya tidak ingin memiliki anak. Saya sudah memikirkan itu sejak SMA dan saya baru berani mengatakan di depan umum ketika kuliah, semester 1. Saya butuh sesuatu untuk mengingatkan saya apa hakikat dari melahirkan anak bagi seorang perempuan. Segera teman-teman cewek menyerbu saya dengan berbagai nasihat. Tapi tak ada yang benar-benar menyentuh hati saya. Pendapat dan pendirian saya lebih kuat dari pendapat teman-teman saya. Dari semua nasihat itu ada yang paling membuat saya jengkel. Teman saya, X menasihati saya begini,

“Mona, kalau kau tidak mau punya anak, suamimu nanti akan meninggalkan kamu.”

Kenapa saya jengkel dengan kalimat di atas? Sebenarnya saya heran dan kasihan bahwa seorang perempuan yang  mengenyam pendidikan di bangku universitas masih punya pola pikir seperti ini. Jika saya jabarkan, pemikiran dia ini ke arah berikut ini:

→laki-laki menikahi perempuan hanya untuk memiliki anak.
→laki-laki memakai perempuan hanya untuk menjelmakan spermanya menjadi anak.
Ilustrasi : “Eh, Mona, sini kukawini biar spermaku berubah jadi anak!”
Kesimpulan : laki-laki memanfaatkan perempuan !

Yang mana tidak benar seperti itu. Tapi kalau memang laki-laki seperti itu, lebih baik saya menikahi sesama perempuan. Dia sebagai suami dan saya sebagai istri, dan kami berdua sama-sama mengikuti program bayi tabung. Lalu dia hamil, saya pun hamil. Dan saya akan memasukkan berita menghebohkan ini ke Kompas : Suami Istri Sama-Sama Hamil!
Waktu itu saya tidak akan marah dan dongkol seandainya si X memberi nasihat seperti ini :

“Mona, anak adalah dasar keharmonisan rumah tangga.”

Maka saya akan sangat menerima nasihatnya, bahkan tersentuh. Teman saya yang satunya lagi, Y, menasehati saya begini,

“Mona, suatu saat nanti jika kau bekerja, semua uangmu mau dikemanakan? Untuk siapa?”
(….kalau bukan untuk anak-anakmu.)

Saya mulai berpikir bahwa ada benarnya juga. Dan kalau otak saya tambahkan, katanya, “Kalau kau mati, siapa yang kubur?” tapi jawaban ini masih kurang memuaskan saya. Saya butuh lebih.
Saya sadar, saya sangat menyukai anak kecil. Saya terpesona oleh kepolosan mereka. Saya suka melihat mereka apa adanya, tanpa maskara, tanpa pensil alis, tanpa lotion jerawat, tanpa masker dua kali seminggu seperti halnya saya. Saya benar-benar menyukai mereka. Mereka bukan sekedar boneka hidup. Mereka boneka hidup yang berotak dan berhati. Saya harus benar-benar mampu mendidik hati dan mengajari otak mereka. Nah, bagaimana kalau tidak bisa? Bagaimana kalau bukan hanya saya yang tidak bisa, tapi saya dan si suami-masa-depan (entah siapa, only God knows) tidak bisa??? Ini titipan Tuhan! Bukan mainan! Itulah sepenggal alasan yang membuat saya takut untuk memiliki anak. Lebih detail tentang finansial dan alasan biologis yang remeh-remeh ada di artikel saya yang sebelumnya. Bukannya tidak tahu resikonya. Saya sudah memikirkan semuanya bahkan sampai ke alasan tetek bengek, yaitu suatu hari nanti kalau ke arisan, semua ibu-ibu sibuk membangga-banggakan anaknya, yang satu bilang kalau anaknya rangking satu umum, yang satu bilang anaknya menang lomba nyanyi, yang satu bilang anaknya sudah bisa berjalan, satu lagi katanya anaknya sudah masuk UGM tanpa tes atau apalah itu, sedangkan saya hanya duduk terdiam di pojok karena saya tidak miliki apa yang mereka miliki.
Tapi.
Orang Indonesia sering melakukan sesuatu tanpa terlebih dahulu bertanya ‘MENGAPA?’ orang Indonesia sangat hobi menikah dan beranak tapi mereka tak pernah terpikirkan benar-benar apa alasan untuk menikah dan alasan memiliki anak. Yang mereka jawab adalah kalau bukan ‘cinta’, ‘sudah semestinya seperti itu’. Nah, inilah salah satu hal yang menjelaskan betapa konsumtifnya orang Indonesia. Mereka konsumtif terhadap menikah dan memiliki anak. Tidak heran jumlah penduduknya mencapai 200 JUTA JIWA.
Sewaktu kecil, saya membaca sebuah perdebatan antara seorang ibu rumah tangga dan seorang pastor. Si ibu berpendapat bahwa dasar pernikahan adalah seks. Si pastor, namanya juga pastor, berpendapat bahwa dasar sebuah pernikahan adalah cinta ilahi, sejenis cinta yang bisa menyatukan dua insan, cinta yang tak bisa diberikan oleh makhluk lain selain Tuhan sendiri, cinta yang tak bisa diuraikan lagi.
Saya bingung, yang mana yang benar. Berhubung saya belum pernah merasakan menjadi ibu rumah tangga, apalagi menjadi seorang pastor, maka saya pun diamkan saja pertanyaan itu. Anehnya, pertanyaan itu terus membenam dalam benak saya sampai saya besar. Lalu akhirnya saya pun menemukan jawabannya. Keluarga itu kuncinya ada pada anak-anak. Dan entah si ibu dan si pastor itu sadar atau tidak, yang bisa menghasilkan anak dalam suatu keluarga atau rumah tangga adalah cinta + seks. Jadi sebenarnya jawaban ibu itu dulu setengah benar. Begitu pula dengan jawaban si pastor. Dan jika jawaban mereka disatukan, maka terjadilah kebenaran. Yang membuat otak saya terbuka dan menemukan jawaban di atas adalah kejadian di bawah ini:
Ada teman saya, namanya Dolce. Dia adalah teman akrab saya sejak kelas empat SD. Lama kami tak bertemu dalam enam tahun terakhir ini. Terakhir ketemu, Juli 2009, saat itu dia menjenguk saya yang terkapar lemah di rumah sakit. Juli 2012 kemarin, kami sms-an panjang. Dia mengabari bahwa dia sudah hamil 8 bulan. Betapa kagetnya saya. Selama ini komunikasi kami lancar, sering sms dan telpon tapi tak pernah ia jujur bahwa dia sudah mengandung. Dengan hati-hati, saya bertanya, “Bagaimana perasaan kamu?” karena saya tahu kehamilan itu pasti kecelakaan. Dia menjawab. “Saya tidak sedih, saya tidak menyesal. Saya memang takut, tapi setelah tahu ada anak di perut saya, saya senang. Intinya hati saya bahagia.” Membaca jawaban teman saya ini, saya tertegun. Hati saya benar-benar total tersentuh. Teman saya ini tipikal orang yang suka mengurusi penampilan luar, dandan, berat badan, pakaian, pacaran, dsb. Tetapi hari ini, dia peduli dengan manusia lain dalam perutnya. Wow, the bitch is a mother now! Saya terdiam di antara terpesona dan tak percaya. Tiba-tiba, saya merasa bahwa saya juga ingin mengalami perasaan yang sama suatu hari nanti. Perasaan bahagia yang dia katakan itu.
Ibu dan ayah saya sudah mendidik saya dengan sangat baik. Tetapi, tetap saja saya pun, sebagaimana manusia sebagai makhluk individu, punya karakter saya sendiri. Saya sangat suka travelling dan saya sudah berencana, selesai kuliah nanti, setiap tahunnya minimal saya memiliki satu Reiseziel. Ini yang bikin saya takut. Kalau punya anak nanti, saya tidak akan jadi ibu full-time, tapi ibu part-time! Karena saya selalu on the way. Entahlah, naluri kebebasan itu selalu ingin terlepas dari tekanannya jauh di dasar diri saya. Di sinilah muncul pertanyaan, kenapa sih ibu-ibu atau bapak-bapak itu selalu berkorban mati-matian demi anak mereka. Padahal mereka kan juga punya kepentingan masing-masing? Tukang becak langganan saya di Pasar Demangan memiliki tiga orang anak yang sudah lulus S1. Salah satu dari mereka bahkan kuliah di UGM. Pencarian utama dari si bapak adalah menarik becak! Coba bayangkan, dengan semua uang yang dia hasilkan itu, tidakkah dia terpikirkan untuk membeli rumah atau mobil saja? Tapi tidak. Dia memilih banting tulangnya itu untuk pendidikan anaknya. Inilah saatnya saya memahami makna dari kata ‘darah daging’.
Saya masih terus bertanya, bisakah saya meninggalkan semua impian saya demi anak saya? Mungkin itulah yang namanya naluri seorang ibu. Seperti kata Dolce, ketika janin itu tinggal di perut kita, kita menjadi berbeda. Selama sembilan bulan dalam satu badan, satu nyawa, pelan-pelan menumbuhkan naluri itu dalam diri kita. Naluri yang hanya dimiliki oleh wanita yang pernah mengeluarkan anak lewat rahimnya. Naluri yang bisa mengalahkan semua egoisme. Naluri yang menaklukan dunia. Naluri ibu.