Senin, 19 Maret 2012

Mata Kuliah DSV Tuh Sesuatu Banget Deh


Semua ini berawal dari mata kuliah Deutsch für speziellle Verwendung (DSV). Namun jauh sebelumnya, memang ada benih-benih cinta budaya dalam diriku (kwkwkwkwkwkk) yang berasal dari kebiasaan merantau (merantau...kosakata angkatan berapa itu?).
Jadi ceritanya tuh, aku selalu terjebak dalam suatu lingkungan, di mana di sana aku menjadi asing, berbeda, baru, bahkan minor. Itulah yang memberiku jarak (Herr Uki, aku ingat banget konsep V-Effekt: distanziert werden um betrachten zu kӧnnen.) untuk bisa mengamati yang akhirnya membuatku menemukan adanya perbedaan. Dari perbedaaan itu aku belajar menghargai, mengapresiasi, dan membenahi diri (ehem ehem...bahasa mahasiswanya keluar deh). Dan sekaligus sadar : wah, kaya banget Indonesia tuh!!!
Setelah tugas demi tugas yang kami hadapi dalam mata kuliah DSV I dan DSV II (kami nggak capek kok, Pak...), mataku terbuka dan mulai menyadari betapa kayanya alam Indonesia sekaligus betapa rendahnya SDM nya (riskan). Dari dulu aku memang sudah mengetahui ini (ditambah lagi dengan ‘kampanye’ di buku sejarah dan PPKN di bangku sekolah) tapi tingkat kesadaranku baru benar-benar ada sekarang. Setelah aku bertemu teman-temanku dari berbagai asal peradaban, kami sering sharing tentang potensi-potensi dan aset apa saja yang ada di daerah masing-masing. Kami sampai sulit menginventariskannya saking banyak dan beragam jenis, misalnya potensi wisata alam, bahari, budaya, pendidikan, kuliner, dsb. Aku hanya sebut yang terkenal-terkenal saja ya, misalnya di Bali (ada sekitar satu juta artikel yang ditulis tentang Bali di mesin pencari, so alles klar.), di Lombok: pantai Senggingi, di Kalimantan ada kabupaten Berau yang mulai mengekspos wisata baharinya yang terdiri dari Pulau Derawan, Pulau Maratua, dan Pulau Kakaban , belum lagi Papua tak mau ketingalan dengan Rajaampat-nya. Catatan: laut di Berau dan Rajaampat adalah surganya diving kelas dunia!! Supaya tidak rasis, ini daerah asalku aku sebutkan paling belakangan : Pulau Komodo (saat ini hewan komodo telah diakui sebagai 7 keajaiban dunia) dan Danau Kelimutu (tiga danau bersampingan yang memilki warna yang berbeda-beda) di Flores.




Biar tulisanku ini ada konfliknya (biar kaya dalam mata kuliah Literatur : dalam Epik dan Drama harus ada konflik sebagai garam), aku mau menyorot bahwa sayang sekali aset-aset pariwisata di Indonesia itu banyak yang dikelola oleh orang asing. Aku tahu banget tuh siasat mereka (meskipun belum pernah mengalami) : mereka menikahi penduduk pribumi untuk mendapatkan hak-hak layaknya WNI. Abisnya, orang kita juga takut sih untuk berinvestasi (nah, kalo masuk kosakata ini, aku agak gelap, jadi kita batasi saja ya). Temanku pernah bilang (lagi-lagi saat kami sedang mengerjakan tugas DSV II) : Jangan takut mengeluarkan uang dalam jumlah besar hari ini untuk hasil yang akan kita terima 20 tahun yang akan datang.
Terus terang, aku belum pernah mengunjungi semua tempat yang kusebutkan di atas tadi. Ke Bali dan Lombok belum pernah, ke Kalimantan terlalu jauh, ke Papua apalagi!! Bahkan aku yang pernah tinggal di Flores selama 3 tahun saja belum pernah ke Pulau Komodo atau mengunjungi Danau Kelimutu (yang sampai sekarang masih kusesalkan, kok aku cinta kasur banget yah?). Doa-doakan saja kuliahku cepat selesai sehingga aku bisa ke semua tempat itu (selamat datang mimpi!!!) dan menghasilkan sesuatu yang berguna bagi pengetahuanku. 

Masih bicara tentang potensi wisata daerah asal. Sayangnya lagi, ada satu konflik (baca : masalah) lagi. Kalau kalian tanya kenapa anak muda kurang terpikirkan untuk menghargai dan  mengembangkan potensi wisata daerah asalnya, aku tahu banget jawabannya (ijinkan aku berteori.,..hehehe). Kalau seseorang tak pernah keluar dari daerahnya (baca : tempurung), ia akan merasa dunianya hanya di sini. Dia akan berkata, “Ah, Parangtritis doang, tiap hari juga aku ke sana.” atau “Males banget denger lagu tradisional, tiap hari juga mbahku nyanyinya itu.” Atau “Memang tarian caci itu hanya ada di Flores, trus kenapa? Mau diapain kalo faktanya begitu?”
Nah, inilah gejala kurang apresiatif itu tadi. Sampai suatu hari nanti ketika ia keluar dari daerahnya, bertemu dengan hal-hal positif di tempat baru yang bisa menstimulusnya, ia baru akan memiliki perasaan posesif terhadap daerah asalnya itu dan akhirnya menyadari kurangnya apresiasi dan kontribusi dia selama ini terhadap potensi pariwisatanya.
Selesai teori, sekarang praktekin yuk!
Merantau untuk belajar banyak hal dari perbedaan itu memang bagus, tapi juga tak perlu repot-repot keluar daerah dulu baru sadar kalo daerah sendiri juga punya potensi yang butuh perhatian kita untuk diapresiasi, dijaga, dan dikembangkan.
Sippp? Start from here, now!
Oya, aku punya mimpi. Impianku itu adalah memberikan kontribusi yang nyata untuk pariwisata di daerah asalku. Juga, mengadakan perjalanan wisata antarpulau, bahkan antarbenua!!! (Diaminin dong... Danke..)

Rabu, 04 Januari 2012

TARIAN CACI


Caci adalah suatu tarian tradisional dalam suku Manggarai, Flores, NTT. Tarian ini tidak diperuntukkan bagi para wanita, apalagi anak kecil karena sangat melibatkan fisik, ketangkasan, dan kejantanan. Selain itu, medan dan kondisinya yang sangat “laki-laki”. Misalnya medannya yang harus di tempat terbuka dengan bertelanjang dada, saling mencambuk dan tangkas menangkis.



 
Sejarah
Secara etimologi, caci berasal dari kata ca yang berarti satu dan ci yang berarti memaksa. Secara harafiah, caci dapat diartikan pertandingan satu lawan satu, memukul dan menangkis secara berbalasan. Menurut cerita para orang tua, caci berawal dari perang tanding antarsuku yang sering dilakukan oleh nenek moyang zaman dulu. Itulah sebabnya gerakan-gerakan dalam tarian caci hampir sama dengan gerakan-gerakan dalam perang tanding tersebut. Namun ada pula sejarah yang mengatakan bahwa tarian caci berasal dari musyawarah para leluhur antarsuku untuk melaksanakan upacara lingko atau lodok (pembagian tanah baru untuk dijadikan kebun). Proses pembagian ini harus diiringi tari-tarian, musik gong dan gendang. Karena itu, jika ada penarfi caci yang terluka dan berdarah dalam pertandingan, maka darah itu dianggap sebagai lambang kesuburan.



Pelaksanaan
Tarian ini biasanya dilaksanakan pada upacara-upacara adat tertentu, namun bisa juga untuk sekedar menyambut pejabat atau hiburan turis belaka. Caci tidak pernah dilaksanakan pada malam hari.
Tarian caci dibuka dengan tarian danding yang ditarikan baik oleh perempuan maupun laki-laki, yang berfungsi untuk meramaikan pertarungan nanti. Biasanya yang menarikannya melantunkan lirik yang memompa semangat para pemain caci dalam pertandingan. Musik yang mengiringinya berupa gendang dan gong dengan irama ndundundake.
Untuk tarian caci yang asli (sebagai ritual adat), terdapat ritual khusus yang perlu diikuti sebelum bertarung, yaitu tudak (doa) di depan compang (semacam mesbah sebagai tempat untuk menyimpan sesajian. Letaknya di depan rumah adat) dengan maksud untuk menghormati arwah nenek moyang masyarakat setempat.
Sebelum beradu dalam tarian, setiap pemain caci akan melakukan gerakan  pemanasan otot dengan tarian. Sambil menari, pemain caci menyanyikan lagu daerah untuk menantang lawannya. Serangan bisa dimulai sebagai pemukul (orang ini disebut paki), dan di kesempatan berikutnya ia menjadi ta’ang (yang menangkis). Seorang paki menyerang menggunakan pecut (kayu panjang melengkung yang di ujungnya terdapat cambuk terbuat dari kulit kerbau) di tangannya. Ia melakukan kuda-kudanya untuk melihat di mana dan kapan kemungkinan ia mengayunkan cambuknya ke arah seorang ta’ang. Ta’ang harus lihai menangkis dengan menggunakan nggiling (tameng yang terbuat dari kulit kerbau) di tangan kirinya dan tereng (kayu sebagai alat penangkis) di tangan kanan. Semua ini dilakukan dalam tarian : kepala, tangan, dan kaki harus bergoyang seirama dengan gendang dan gong yang sedang dimainkan. Itulah sebabnya, paki dan ta’ang bisa disebut penari, bisa disebut petarung.
Bagian badan yang boleh dipukuli meliputi bagian pusar ke atas hingga wajah. Jika pukulan larik mengenai bagian wajah hingga luka atau berdarah, maka yang bersangkutan harus diberhentikan. Dalam caci, ini disebut beke (aib) yang biasanya membawa malu bagi kelompok dari mana pemain atau penari caci itu berasal. Itulah sebabnya seorang penari caci harus serba tangkas dan hati-hati.
Setelah seorang pemain caci berhasil menangkis cambukan dari lawannya, ia akan membawakan dere nenggo (sebuah lagu tunggal). Suaranya itu harus baik (tidak sumbang) dan syair yang dibawakannya tidak boleh menyinggung perasaan orang lain, tetapi membuat penonton kagum atau simpati. Isi lagu juga harus sesuai dengan topik saat itu.



Unik
Tarian ini mengkolaborasikan antara seni tari, musik, seni bersyair, dan seni bela diri. Karena juga termasuk bela diri, maka tarian caci dapat disebut juga sebagai olah raga tradisional suku Manggarai.
Keunikan lain tarian ini adalah bahwa seorang penari caci harus pandai bertatakrama dengan syair-syair yang menghibur penonton. Biasanya ia menggunakan kata-kata yang mengandung kiasan dan puitis, dan tidak menyinggung perasaan sehingga mengundang sorak-sorai penonton. Raut muka yang ramah pada saat dan sesudah tarian berlangsung juga merupakan bagian penting dari keramahtamahan ini yang disebut lomes.
Meskipun nampaknya penari caci berkelahi hebat, saling cambuk, namun tarian ini adalah sebuah momen budaya yang dimainkan dengan penuh suka cita. Dalam menampilkan kehebatan cambuk-tangkis, tidak mengutamakan kalah atau menang, tetapi lebih mementingkan semangat kekeluargaan dan sportivitas karena buktinya dari dulu sampai sekarang tidak ada permusushan antarsuku dalam masyarakat manggarai karena caci.

Kamis, 15 Desember 2011

Bapa

          Ayahku sering kupanggil Bapa. Ia adalah sesosok ayah yang tampak biasa dari luar. Ia bukan tipe pria metropolitan atau metroseks seperti David Beckham atau siapa. Pakaian-pakaian untuk acara resminya biasanya Batik Solo. Satu-satunya dokumentasi yang menangkap basah Bapa memakai jas dan berdasi adalah foto-foto pernikahannya dengan Mama. Bapa benar-benar pribadi yang sederhana tapi hanya aku dan keluarga kecilku yang tahu betapa sebenarnya ia sangat luar biasa. 


Bapa lahir 58 tahun yang lalu, dari keluarga petani yang serba kekurangan. Akan tetapi justru dengan kekurangan itu Bapa belajar untuk menghargai dan juga sebagai motivasinya untuk tetap bertahan sampai menyelesaikan studinya di perguruan tinggi. Menurut Mama, Bapa bukan siswa yang cerdas, tetapi ia adalah yang paling tekun di antara teman-temannya. Dan aku sendiri bisa melihat itu.
Meskipun Bapa sangat menjengkelkan karena ia sering ngomel, tetapi ia bukan tipe yang PERNAH mengeluh. Ia sangat cerewet, terutama jika itu berbicara padaku.  Dan ia terus saja menasihatiku dengan nasihat-nasihatnya yang saaaaangat membosankan (jika dikumpulkan dalam bentuk tulisan, tebalnya kira-kira setara dengan Alkitab), tetapi akhirnya ketika aku berada jauh darinya, nasihat-nasihat itulah yang menjadi pedomanku.
Bapa tidak merokok, atau minum alkohol, atau bahkan kopi atau teh. Ia pecinta air putih sejati. Ia menyukai olahraga sehingga posturnya sangat atletis, tetapi ia juga sangat suka membaca — dua hal yang sulit dihubungkan dalam satu kepribadian. Selain fisik, secara rohani ia adalah orang yang sangat taat beragama. Seumur hidupku, aku belum pernah mendapati kebohongannya atau pun sekali melihat ia absen ke gereja, meskipun dalam keadaan sakit. Ia juga sangat tabah dalam menghadapi berbagai cobaan yang datang silih berganti dalam keluarga kami.
Semasa kanak-kanak, aku sering didongengi Bapa. Ia mendongengiku di mana saja, termasuk di atas motor atau di meja makan, supaya aku menyelesaikan makananku. Bapa adalah pendongeng terbaik sedunia. Ketika ada adegan nyanyi dalam sebuah bagian cerita, ia akan menyanyikannya, dan ketika harus menirukan suara para tokohnya, ia akan menirukannya lengkap dengan dua tangannya yang juga ikut mengilustrasikan. Ketika kecil, Bapa memanggilku dengan sebutan “Cahaya Biru”. Cahaya Biru adalah tokoh dalam salah satu dongeng kesukaanku. Ia adalah peri yang menyelamatkan sang putri yang dibuang ke dalam sumur gelap oleh seorang nenek sihir. Bapa juga adalah orang yang tetap menggendongku ketika aku sudah bisa berjalan sendiri, ketika aku sudah berseragam putih-abu, bahkan! Dan kalian tahu itu di mana? Di pelabuhan dan bandara. 


Bapa sangat ulet dalam setiap usahanya. Ia sangat suka bertani, bertani apa saja. Bahkan di usianya yang hampir kepala 6, ia masih sangat proaktif mengurusi sawah-sawah dan kebunnya. Dari sana Bapa mengajariku banyak hal yang tidak akan kuperoleh dari orang lain, yaitu kemandirian dan ketekunan. Karena Bapa adalah sosok yang enerjik yang tidak takut kalah dan pantang menyerah.
Sekalipun begitu, Bapa pernah menjadi orang pertama yang bersikeras melarangku kuliah di luar provinsi. Awalnya kukira karena ia menyayangi uangnya, tapi setelah aku terpisah ribuan kilometer darinya dan menyaksikan sendiri betapa ia sangat berkorban demi aku, akhirnya aku sadar bahwa ia lebih menyayangiku. Karena itulah ia tak ingin aku berada jauh darinya.  Bapa sangat suka membangga-banggakan aku, meskipun itu hal remeh sekalipun sehingga aku sadar, ia menaruh harapan yang begitu besar padaku. akhir kata bukan akhir cerita. Begitulah para orang tua tidak pernah sekali pun mengatakan, "Nak, kami sayang padamu." Tapi apa yang mereka lakukan selalu adalah pengorbanan yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Aku sangat bahagia karena ia telah memilih menjadi ayahku, dulu, kini, dan selamanya.

Selasa, 22 November 2011

Kebiasaan Minum Kopi Ala Orang Manggarai

Inung kopi atau minum kopi sudah menjadi sebuah budaya dalam masyarakat Manggarai, Flores, NTT. Kopi tidak diminum dalam rangka menahan kantuk atau saat santai, tetapi kopi sudah merupakan minuman tradisional yang sangat melekat dalam kehidupan sehari-hari masyarakat ini. Pagi, sore, siang, malam, kopi dolo….
Dalam budaya mastarakat Manggarai, jika seseorang bertamu, tuan rumah tidak akan menanyakan “Mau minum apa?” tapi hanya menawarkan, “Minum?” dan tawaran itu berarti kopi. Mau tidak mau, suka tidak suka, untuk menghormati tuan rumah, kita harus meminum yang tuan rumah sudah sediakan tadi.
Bagi orang Manggarai asli, komposisi kopi dalam satu takaran saji sudah ada aturannya. Gula tidak begitu memainkan peran. Kopi ya kopi, gula ya gula. Kalau kopi yang terlalu banyak gula, itu bukan kopi bagi mereka. Karena itu, biasanya komposisinya dalam 200 ml air, perbandingan kopi dan gula 3 : 1 sdm.
Satu lagi, yang dimaksudkan kopi di sini bukan kopi Kapal Api atau sebangsanya yang bisa ditemui di kios-kios atau swalayan, tetapi kopi asli yang diolah langsung dari sejak masih di pohon, dijemur, digoreng, dan digiling. Jika kopi yang disajikan encer atau berwarna coklat muda bisa diartikan ketidakramahan tuan rumah. Jadi bayangkan saja sendiri, bagaimana rasanya, bagaimana tebal ampasnya, pekat warnanya, dan yang paling mengesankan adalah bagaimana aromanya!
Bukan sesuatu yang mengherankan jika di Mannggarai ditemukan anak balita diberi minum kopi yang kental. Tidak tua, tidak muda, tidak laki, tidak perempuan, yang namanya orang Manggarai pasti kesukaan dan kebiasaannya adalah inung kopi. Sekalipun sudah merantau jauh, tradisi ini rupanya sulit hilang. Makanya orang Manggarai terkenal dengan minum kopinya ini. Intensitas mereka minum kopi sama dengan intensitas orang lain minum air putih. Bagi mereka, tidak makan nasi lebih baik daripada tidak minum kopi sama sekali dalam satu hari.

Jumat, 28 Oktober 2011

PATUNG INA BO’I , TERCANTIK DI KUPANG


Ini dia b pu patung kesayangan sejak b masih kecil. 
Setiap kali b deng bapa naik motor lewat jalan menurun itu, b selalu menatap itu patung dengan penuh rasa kagum. 
B rasa dia patung yang melambangkan kecantikan kota kupang dari segi budaya.

Memang su son banyak orang lai 
yang bisa main sasando di NTT ,
bahkan konon, katanya tinggal 6 orang!... 



wiii ju karmana su kalo tu 6 orang su “punah”? 
Berarti kotong pung sasando iko punah ooww…
Makanya teman2, basodara, susi, bu, kaka, ade dong… mari ko kotong sama2 lestarikan kotong pu budaya. 



Supaya kalo orang tanya 
apa yang bisa dibanggakan dari Kupang, 
na kotong bisa pertanggungjawabkan. 
Kotong kan sama2 love Kupang to….

Sabtu, 11 Juni 2011

Perbedaan Budaya Lokal dan Budaya Asing

Perbedaan budaya memang unik buntuk dipelajari. Bangsa Indonesia memiliki beragam budaya yamng berasal dari berbagai daerah di Nusantara. Betapa kayanya budaya Indonesia, dan orang Indonesia cenderung membangga-banggakan hal tersebut. Tapi eits, tunggu dulu! Sebegitu bagusnyakah Indonesia sampai-sampai merasa bangsa lain di bawahnya?
Memahami budaya itu tidak gampang. Ada proses mental di sana. Akulturasi, adaptasi, sampai shock-culture. Sebagai negeri persimpangan budaya, Indonesia selalu bersinggungan dengan hal-hal yang terkait dengan budaya. Orang Yogyakarta misalnya, masih harus memahami budaya orang Jawa Timur, meskipun mereka masih sama-sama suku Jawa yang mendiami pulau yang sama. Apalagi dengan orang dari wilayah Timur, misalnya, tentu perbedaannya makin kontras, meskipun  kenyataannya mereka masih sama-sama bagian dari Nusantara. Nah, bagaiman kalau pemahaman budaya itu terjadi di antara dua negara yang berbeda? Padahal kenyataannya, sesama Nusantara saja, kita masih sering salah paham. Apalagi yang dari luar negeri?

  • budaya basa basi
Budaya basa-basi di Indonesia, dianggap sopan dan halus. Sementara di barat? Misalkan saja kita berkunjung ke rumah seorang teman. Begitu kita masuk, dia berkata, ”Anggap saja rumah sendiri.” Dan kemudian ia juga berkata, ”Kalau lapar atau haus, silahkan ambil saja sendiri dari kulkas.” Tetapi dalam budaya Indonesia, melayani diri sendiri ketika kita masuk rumah orang itu sesuatu yang tidak sopan.  Tapi di barat memang demikian. Tak ada pelayanan. Sebenarnya anda sendiri yang harus sadar bahwa anda tidak ingin merepotkan tuan rumah bukan? Jadi layanilah dirimu sendiri, tetapi tentu saja masih dalam batas-batas tertentu. Mereka juga ingin agar kita mengatakan secara langsung apa yang kita rasakan atau pikirkan tanpa menutup-nutupinya. Misalnya ketika lapar, katakqan saja anda lapar dan butuh makan. Di Indonesia, sebaliknya, mengatakan sesuatu secara gamblang seperti ini dianggap tidak dewasa dan kurang sopan. Salah satu contoh kasus lagi, dalam sebuah undangan makan-makan di rumah kolega orang barat, sang tuan rumah mengatakan, “Apakah makanannya enak?” Lalu dengan alasan sopan santun, dan ingin menyenangkan hati tuan rumah, kita pun mengatakan,  “Ya, ya, sangat enak.” Padahal mungkin lidah dan perut Indonesia kita mengatakan sebaliknya. Dan karena senang, tuan rumah pun mengatakan, “Kalau begitu, silahkan tambah makanannya.kita pun menambah, dan alhasil perut kita jadi sakit dan mengeluh. Salah sendiri bukan?
  • Dikit-dikit minta maaf
Mengenai budaya minta maaf. Orang barat berpendapat bahwa orang Indonesia terlalu sering mengucapkan maaf. Misalnya pada saat berpamitan, ketika ia harus meninggalkan teman-teman lainnya karena ada keperluan lain, dsb, kita akan mengucapkan maaf, bukan? Ketika makan permen sendirian, tak bisqa membaginya ke teman sebelah karena permennya hanya tinggal satu, lagi-lagi kita meminta maaf. Ketika memotong pembicaraan lawan bicaranya, kita mengucapkan kata maaf lagi. Di barat hal ini tidak berlaku. Mereka justru beranggapan bahwa orang yang terlalu sering meminta maaf adalah orang yang selalu merasa dirinya bersalah dan bahkan dianggap memiliki kepercayaan diri yang buruk. Meminta maaflah pada saat anda merasa berada di pihak salah, agar tidak salah tempat.
Selain itu, orang Indonesia juga sangat penasaran dengan orang lain. Pada umumnya mereka ingin tahu berbagai hal tentang orang yang baru mereka kenal. Misalnya berasal dari mana, sudah menikah atau belum, agamanya apa, umurnya berapa, dsb. Di barat hal-hal tersebut sifatnya sangat privasi. Untuk yang terakhir, menanyakan umur, di antara pria msih lazim, tetapi tidak untuk wanita. Ada kecendrungan bahwa wanita suka menipu umur mereka. Mereka selalu ingin muda dan tidak ingin orang lain tahu bahwa mereka sudah tua. Wanita barat berumur 30 akan mengaku bahwa dia baru 25, yang 40 mengakunya 34,dst. Menanyakan umur seorang wanita di barat dirasakan kurang menghargai estetika wanita, dan mengurangi rasa kepercayaan diri mereka.
  • Memberi tahu sebelum mengadakan kunjungan
Sebelum kita mengadakan kunjungan ke rumah kolega atau siapapun, sebaiknya memberi tahu si tuan rumah terlebih dahulu (misalnya via telepon), lalu membuat janji, baru kita datangi. Sehingga kita datang ke rumahnya pada waktu dan situasi yang tepat karena ia sudah siap. Ketika kita melakukan kunjungan spontan (tanpa pemberitahuan sebelumnya), tentu saja dia akan kaget dan mungkin keberatan. Mungkin saja dia akan mengatakan, “Maaf tapi saya belum bisa menerima kunjunganmu saat ini kerena saya sedang ada janji dengan orang lain.” Budaya ini tidak ada di Tanah Air, karena slogan "Time is Money" di sini hanya berlaku bagi sebagian kecil orang kelas atas.
  • Tertawa tidak pada tempatnya
Di Indonesia humor adalah sesuatu yang sangat penting. Orang Indonesia cenderung lebih menyukai tokoh-tokoh yang humoris dan suka melawak, contohnya Sule, dll. Kita rata-rata terbiasa dengan tawa yang keras dan berkepanjangan. Terkadang kita menertawakan sesuatu yang bahkan tidak lucu.  Selera humor orang barat memang tinggi, tetapi teratawa sepantasnya saja, dan juga jangan lupa tempat dan sikon.

Minggu, 05 Juni 2011




BAHASA KUPANG DI ANTARA PULUHAN BAHASA DAERAH
DI NTT

Nusa tenggara timur adalah propisnis yang kaya akan etnik atau suku. Dengan 550 pulau, 21 kabupaten, puluhan  suku, dan bahasa daerah. Bayangkan saja apa jadinya kalau anda tinggal di sana! Setidaknya anda harus menguasai salah satu bahasa daerah atau salah satu dialek di sana – jika ingin “membumi” dengan masyarakat setempat. Untuk Pulau Flores (terdiri dari kabupaten Flores Timur, Maumere, Sikka, Ende, Manggarai Timur, Manggarai, dan Manggarai Barat), Pulau Alor, Kabupaten Belu, Sumba Barat, dan Sumba Timur, rata-rata penduduknya berbicara dengan bahasa Indonesia meskipun mereka juga berbicara dalam bahasa-bahasa daerah mereka sendiri. Hanya Kupang yang memiliki dialek tersendiri yang digunakan dalam percakapan sehari-hari, meskipun di sana juga ada bahasa daerah (bahasa daerah Timor dan Rote). Mereka tidak berbicara menggunakan “saya” atau “kamu”, tetapi “beta” dan “lu”.
Meskipun Kupang terletak di Pulau Timor, bukan berarti orang Kupang mayoritasnya suku Timor. Kabupaten Kupang, sejak zaman baheula, dihuni oleh 2 suku yang sampai sekarang masih mendominasi yaitu suku Timor dan suku Rote. Sejak dulu suku Timor dan suku Rote memperdebatkan hal ini. Suku Timor mengatakan bahwa merekalah Tuan Tanah di situ, karena namanya saja sudah Pulau Timor, bukankah Pulau Rote sendiri juga sudah ada di selatan NTT sana? Tetapi suku Rote yang keras kepala tak mau kalah. Mereka membantahnya dengan mengatakan, “ TIMOR: Tanah Ini Milik Orang Rote!”
Sebenarnya Kupang itu sendiri, terlepas dari suku Timor dan Rote, tidak benar-benar memiliki  bahasa sendiri, seperti halnya bahasa daerah. Yang Kupang miliki adalah dialek, seperti dialek orang Jakarta, dsb. Dialek Kupang mudah dipelajari karena banyak kesamaan dengan Bahasa Indonesia. Yang menjadi masalah adalah cara penerapannya yang tidak mudah. Bahkan, sesame orang NTT sendiri (yang berasal dari luar Kupang) masih susah menirukan dialek dan logat Kupang.
Satu hal utama yang perlu diketahui sebelum mempelajari dialek Kupang adalah pelafalan vocal e pada setiap kosa kata. Sembilan puluh sembilan persen (99 %) orang Kupang (dan orang NTT pada umumnya) tidak bisa mengucapkan e pepet seperti pada kata “besar”. Rata-rata mereka menggunakan e seperti pada katarekayasa”. Itulah sebabnya, hampir semua vokal e pada setiap kosa kata diubah menjadi a (atau o).
Contoh :
belum →balom atau bolom
Besar → basar
Betul → batul
Bengkak → bangka
Pelan → palan
Perut → parut (sedangkan parut yang di dapur itu juga disebut parut, hanya saja pengucapannya yang beda)
Peluk → palok
Sebentar → sabantar
Terlalu → talalu
Kosa kata inti :
Saya : beta / be
Engkau : lu
Dia : di / dia
Kami : kotong
Kalian : bosong
Mereka : dong
Kakek : ba’i
Cucu : upu /cucu
Bapak : bapa / pak (bapa untu ayah, sedangkan pak misalnya untuk pak guru)
Kekasih perempuan : maitua
Kekasih pria : paitua
Iya / ya : iya / ho (“ho” hanya digunakan untuk sesama umur atau bagi yang lebih muda)
Tidak : sonde / son
Pakaian : pakian
Panggil : pange
Sampai : sampe
Ramai : rame
Tanganku : beta pung tangan / be pu tangan
Pacarku : beta pung pacar / be pu pacar
Memakan sampai habis : makan buang
Memandikan : kasi mandi
Membersihkan : kasi bersih
Merapihkan : kasi rapi
Ani memasakkanku air : Ani masak kasi beta air
Yang sama dengan bahasa Indonesia :
Panas, dingin,  mati, jual, beli, baru, gila, sinting, sesak, jalan, lari, makan, mandi, cium, cuci, datang, kamar, bantal, kain, sepupu, om, tanta, ayam, anjing, daging, sayurnasi,
Uang : uang atau / doi
Suami : suami / laki
Istri : istri / bini
Anggota tubuh (kecuali kepala : kapala—hidung : idung -- perut : parut – pantat : panta)
U biasanya diubah menjadi o
            Jagung : jagong
Kangkung : kangkong
Lumpur : lompor
Tidur : tidor
H biasanya dihilangkan :
Hujan : ujan
Hidung : idung / idong
Habis : abis
Berhenti : brenti
Bodoh : bodo
Bersih : bersi (sering juga diucapkan barisi)
Lumpuh : lumpu
Rumah : ruma
Rapih : rapi
Suruh : suru
Sumpah : sumpa
Huruf k seringkali tidak diucapkan :
            Nenek : nene
Anak : ana
Kakak : kaka
Adik : adi / ade
Hobi menyingkat –nyingkat kata :
Ambil : ame
Saja : sa
Punya : pung / pu
Pergi : pi

SELAMAT BELAJAR BAHASA KUPANG.............PASTI  MENYENANGKAN.... !!