Selasa, 27 September 2016

following, liking, adding, subscribing, stalking


 Sadar tidak sadar, internet telah meningkatkan angka penderita HIV/AIDS di dunia. Konon maraknya jumlah website/aplikasi smartphone untuk online dating adalah sebabnya.

Sadar tidak sadar, hidup kita diambil alih oleh internet. Mulai dari arus informasi, tekanan industri, bahkan sampai jumlah penduduk. Bagaimana tidak? Tetangga saya mau tahu saya sedang ngapain saja, bukannya mengirim saya sms/pesan online menanyakan kabar, malah men-stalking di Facebook. Ibu-ibu rumah tangga bukannya buka lapak di pasar, bakul lapaknya dijejer di internet. Jika industri naik, angka kelahiran menurun. Itu hukum alam jaman sekarang, teman.

Internet menyita banyak waktu manusia. Manusia sendiri merasa waktunya disita internet? Kelihatannya tidak. Mereka dengan suka rela membuka akun di sana-sini, bahkan rela membayar untuk akses-akses tertentu.

Saya suka miris jika sedang di kereta atau di taman, melihat sepasang kekasih duduk bersebelahan tapi tertunduk menatap layar di ganggaman tangannya masing-masing. Tiada kata. Tanpa percakapan. Kontak mata? Jika si kekasih bilang, “Eh sayang, lihat deh ini postingannya lucu banget kan?” Pacarnya menoleh, tapi yang dilihat toh si layar smartphone juga…

Rasa-rasanya manusia seperti ini adalah makhluk setengah-setengah: setengah hidup di dunia nyata, setengahnya maya. Jadi kayak pintu Doraemon begitu: masuk dimensi lain, keluar lagi, masuk lagi…

Banyak memang manfaat internet. Contohnya saya bisa tinggal dan mengenyam pendidikan di Jerman berkat kekreatifan saya menggunakan internet. Saya tidak bilang berkat internet loh… Toh banyak orang menggunakan internet dengan jumlah giga bite yang bombastis tapi di mana mereka sekarang?

Di rumah, di atas kasur, men-stalking instagram Kendal Jenner.

***
Bicara tentang stalking, bicara tentang media sosial. Sebut saja Facebook, Twitter, Instagram, dkk. Aturan main di sana memang: tunjuk pamerreaksi publikrepeat. Teman Facebook saya makan es cendol saja difoto dan diupload di Facebook, dapat like dari pemirsa. Besoknya dia foto lagi menu makan serba murah dari KFC— yang dia beli dari uang jajan terakhirnya (barangkali). Siklus ini (tunjuk pamerreaksi publikrepeat), herannya, tidak membuat mereka jengah. Boro-boro sadar kalau mereka sedang pasif!

Kata kolega saya, “Orang-orang begitu memang tidak punya hobi.”

Saya akhirnya jadi membenarkan hipotesis dia. Jika “semua” bisa diakses dari smartphone mungil, siapa lagi yang mau repot-repot memiliki hobi. Siapa yang hari gini masih melukis atau menggambar dengan mengandalkan imajinasi dan keaslian karyanya? Ngapain mikirin inspirasi dari dunia nyata, jika bisa saya tiru dari gambar-gambar di Google?

Hidup di jaman following, liking, adding, subscribing, stalking, lama-kelamaan saya merasakan kekeringan jiwa orang-orang di seputaran bumi ini beredar. Internet memang gratis, tapi justru kegratisan ini seperti membeliputus jiwa-jiwa manusia.

Blackberry messenger adalah sebuah media sosial di mana usernya hampir selalu aktual meng-update status. Senang, update status, patah hati, update status, jadian, update status, putus, update status, sedih, update status, lapar update status, tukang sate lewat pun dia update! … don’t these people have any other thing to do?
“Mereka nggak punya hobi, Mona,” suara kolega saya berdengung lagi.

***
Saya ingin sedikit berkisah tentang alpanya hobi.

Pernah ketika kuliah, teman saya mengeluh tentang hubungan cintanya yang kandas. Dia sangat sedih dan sampai berkeinginan bunuh diri. Saya tentu saja membelalak. Dia jauh-jauh datang ke Jawa hanya untuk patah hati dan bunuh diri? You gotta be kidding me. Saat itu dia meminta saran saya, bagaimana caranya mengalihkan pikirannya, supaya rasa sakit hati itu berkurang. Saya, yang saat itu sangat niat membantu, mengopikan film-film seru dari laptop saya ke laptop dia. Selain itu saya pinjamkan novel-novel seru (yah, menurut saya, seru) saya untuk dia dibaca. Lantas dia datang lagi ke saya. Novel di tangan. Mata putus asa. Dia tidak bisa pakai “terapi” saya. Saya tidak hilang akal. Saya ajak jalan-jalan. Dia menikmati ketika kami di jalan, tapi ketika pulang, dia kembali membiru. Berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan. Lalu saya menyerah. Masuk semester 5 dia dropped out dan menikah (dengan pria lain, tentu saja). Sangat disayangkan. Dan terlebih lagi, saya benar-benar menyayangi dia sebagai sahabat.

Saat berada di dunia kerja, seorang teman seperjuangan saya mengeluh hal yang sama: putus cinta,  putus asa. Teman saya ini unik: cerdas dan cantik. Di mata saya dia bisa jadi inspirasi untuk kerja keras dan perjuangannya meraih gelar master hingga mendapat beasiswa ke luar negeri. Tapi dia sendiri tersesat di sebuah arena tanpa petunjuk: what to do now???. Status dia di Facebook isinya jelas-jelas broken hearted. Penyesalan, cinta, ambisi, harga diri, kekecewaan, harapan, jengkel, putus asa, mau move on tapi malah jalan di tempat…ah, campur aduk. Dia beberapa kali minta saran ke saya: what should I do now.

Saya bukannya dokter cinta. Saya hanya teman biasa yang dimintai saran. Beberapa hari setelah dia putus cinta, ternyata saya pun mengalaminya. Lebih jelasnya, hubungan asmara saya berakhir dengan seorang pria Jerman. Saya menangis. Saya kan sudah bilang, saya bukan dokter cinta.

Hari ke dua. Masih di setiap pukulan jarum detik, saya memikirkan si yang baru saja jadi mantan—kecuali jika sibuk di tempat kerja atau tidur. Pagi-pagi mendayung sepeda di tengah dinginnya udara Jerman, saya pikirin dia. Sambil mengiris sayur di dapur mungil saya, muncul lagi ulah dia yang bikin geram. Sambil sedot debu kamar, teringat betapa lembutnya hati mantan yang kadang  malah saya tanggap angin lalu. Beberapa detik kemudian, saya mandi. Di tengah guyuran air hangat di atas bahu (saya seharusnya menikmati momen ini, tapi tidak. Kepala saya berasap) muncul penyesalan: kenapa saya begitu bodoh? Eh, besoknya ketika di dalam bis menuju sekolah, saya berhasil mengumpulkan 50 kesalahan si mantan terhadap saya. My mind was just like a roller coaster!
Dua hari kemudian, saya mencapai klimaks. Saya tidak akan keluar dari lubang jika saya tidak tegakkan lutut dan bangun, pikir saya. Selama dua hari ini saya hanya seperti bola yang ditendang sana sini oleh pikiran saya sendiri. Sempat gol? Ya, habis gol dioper-oper lagi ke depan, ke belakang, kanan kiri.

Layaknya manusia dan perasaan: mereka memang saling tergantung. Bahkan at some point kamu malah terbiasa dengan itu, dan justru menikmati keterpurukkan tersebut. Ujung-ujungnya kamu mendapati diri kamu berjalan di tempat. (Boro-boro move on) And I don’t want it!

Singkatnya, sebelum genap hari ke tiga, saya sudah semangat lagi dan berpikir positif. Hubungan cinta yang sempat berlangsung lebih dari setahun sekarang bukan lagi monster di kepala saya.
Pelajaran saya selama ini simpel saja: kenali apa yang kamu mau dan terlebih lagi apa yang kamu butuh. Prinsip ini yang mengantarkan saya ke sebuah movement. Adalah hobi dan interes. Saya menyukai fotografi, jalan-jalan, dan menulis. Dan ketika putus cinta, saya akhirnya menemukan lapangan luas di mana saya bisa mengekspresikan hobi dan interes. Now I have mooooreee quality time for most all of them J Janji-janji weekend saya dipenuhi nama-nama dari ujung-ujung bumi, sebut saja Armenia, Madagaskar, Meksiko, Equador, Iran, Afghanistan, China, dan Indonesia (can be more). Dan kami melakukan banyak aktivitas yang mungkin: memasak menu tradisional, jalan-jalan ke kota tua, shopping, sekedar piknik di danau, saling mendandani, belajar salsa dan bachatta, makan-makan di restoran (kalo ini sangat jarang J) Caffee and Cake, atau party dan bir… You decide. Smartphone? Silahkan tinggal di tas.




Jumat, 23 September 2016

Bawang Merah Bawang Putih: cantik, lamban, dependen dan bimbang?



Peran Sinetron

Ketika hampir beranjak remaja, saya punya sebuah sinetron favorit: Bawang Merah Bawang Putih. Jujur saja, saya sering menyukai peran antagonis (“si jahat”, bahasa emak-emaknya). Mereka biasanya diperankan lincah, gesit, banyak ide, agresif, berani katakan “iya” dan “tidak”, blak-blakan tentang pendapat, optimis (yang mana sering digambarkan ekstrim oleh sutradara: ambisius). Dalam sinetron ini, siapa lagi kalau bukan si Bawang Merah. Dari namanya saja, “Merah”, asosiasi di kepala kita pasti langsung menuju ke bara api atau bahkan lidah api yang tajam nan runcing pula menjilat-jilat ke awang-awang. Pokoknya warna merah tidak pernah menyimbolkan yang lemah gemulai lah… seperti stereotip para protagonis (“pemeran utama” alias “si baik”, menurut bahasa emak-emak keranjingan sinteron).

Tokoh protagonis di sinetron-sinetron Indonesia dari waktu ke waktu sama saja.
stereotipnya:

-        cantik (supaya enak dilihat dan penonton segera memberi simpati/perhatian lebih kepadanya)

-        lemah gemulai (karena wanita diidentikan dengan bunga, secara sosial tidak  “diijinkan” untuk aktif dan sportif)

-        rada lamban (karena agresivitas diidentikan dengan sesuatu yang negatif)

-        bimbang (apa-apa harus tanya teman; tidak bisa ambil keputusan sendiri)

-        rada bodoh (berpikir kritis adalah pantangan bagi tokoh ini. Coba lihat Putri Salju yang dengan cerobohnya memakan apel dari orang asing)

-        sangat tergantung (entah terhadap nasib atau “sang pangeran”)

-        menunggu diselamatkan (oleh ibu peri atau “sang pangeran”)

-        serba takut: takut berbuat/berucap/bertutur salah, takut berdosa, takut berubah, dsb    

-        cenderung mengasihani diri sendiri (clueless … tidak tahu harus berbuat apa selain menunggu sampai pangeran impian datang dengan kuda putihnya)

-        gampang meneteskan air mata (dilambangkan melankoli kesucian jiwa yang murni. Padahal saya lihatnya sebagai sebuah ketidakmatangan mental! Ketegaran hati hampir-hampir diartikan sebagai jahat)


source : http://www.mesra.net/forum/lofiversion/index.php/t54938-250.html

Saya selalu melihat fenomena ini sebagai pembodohan kaum perempuan (dan masyarakat pada umumnya!). Akhirnya kita sebagai perempuan selalu ingin mengidentikkan diri dengan si pemeran utama agar disukai oleh orang lain. Dan bagi lawan jenis, atau masyarakat pada umumnya, mereka juga mengharapkan supaya si perempuan berciri demikian! Ya seperti si pemeran protagonis tadi.  Akhirnya keorisinilan kita terpaksa harus kita lupakan. Contohnya, kita sebenarnya bisa mengangkat kardus-kardus kita sendiri ketika pindahan, namun karena terdoktrin idealismeseorang tuan potrin yang kita tonton di televisi, akhirnya kita harus meminta bantuan pacar untuk melaksanakannya. Padahal kita sebenarnya bisa. Siapa sih, yang kulitnya serta merta jadi keriput hanya karena angkat-angkat kardus? Atau yang harga dirinya langsung ambruk?! Takut amat

Berbahayanya, masyarakat kita banyak yang mengeyam “pendidikan” dari sinetron. (Coba saja bikin presensi seperti di kelas, mana ada hari yang bolong karena absensi di depan TV?!) Tidak heran jika bullying semakin mewabah di sekolah. Karena anak-anak yang menonton sinetron, mengerti secara harafiah saja. Mereka tahunya:

ü  gendut berarti jelek,

ü  berkulit hitam/berambut keriting berarti jadi bahan lelucuan,

ü  pria kemayu berarti banci, perlu di-bully

ü  cewek tomboy berarti disegani/di-bully juga

ü  adanya julukan anak rumahan/anak mami dsb (karena sebagai kaum adam harus berani, agresif, dst)



Dongeng-dongeng Grimm Bersaudara: Ketidakadilan Gender


source http://www.clipartkid.com/step-sister-cliparts/

Ada masih banyak lagi contoh-contoh bully yang basisnya sinetronis banget di dunia nyata ini. Tren stereotip peran dalam sinetron ini memiliki sejarah peradabannya yang panjang. Mulai dari perbedaan jenis kelamin yang ujung-ujungnya melahirkan standar-standar tertentu, sampai dongeng Grimm Bersaudara yang sampai hari ini masyarakat kita baca secara membabi buta tanpa berpikir kritis. Ambil contoh Cinderella: lemah gemulai, boro-boro memperjuangkan nasib untuk keluar dari cengkraman si ibu tiri, dia malah menunggu diselamatkan oleh pangeran! Sebagai pelopor dongeng sedunia, Grimm Bersaudara telah menginvestasikan banyak stereotip gender dan tokoh protagonis dalam karya-karyanya. Sayangnya, populernya berabad-abad! Kembali ke sinteron Bawang Merah Bawang Putih. Mirip sekali kan dengan pola yang dipopulerkan Grimm Bersaudara: gadis lemah yang dijajah si ibu dan saudara tiri.

(Inilah salah satu alasan kenapa saya justru tidak tertarik dengan para lakon utama. Saya memiliki banyak ciri dari karakter yang dijubahkan ke si tokoh antagonis. Saya gesit, lincah, tahu apa yang saya mau dan butuh, mandiri, optimis, dst—dan saya tidak menemukan ada yang salah dengan hal ini (justru sebaliknya!)).

Selasa, 13 September 2016

Saya Memang Wanita Berotot (Part I)

  
Terlahir di sebuah desa kecil yang isinya orang-orang berambut lurus memang sebuah tantangan psikologis bagi saya bertahun-tahun yang lalu. Bukan hanya rambut saya yang beda tekstur, otot saya juga! Orang-orang sering mencela saya, di manapun saya berada. Termasuk di sekolah. Kalimat-kalimat itu hadir dalam rupa yang beda-beda: kadang cuma berupa seruan, kadang cuma berupa pertanyaan. Kalo lagi sial, ya berupa sindiran.

Saya berambut sangat ikal (atau sedikit ikal, atau terlalu amat ikal, terserah… bagi orang Jawa saya selalu dibilang keriting—bagi mereka ikal sedikit saja itu sudah masuk golongan keriting), berkulit sangat coklat (atau sedikit coklat…terserah), dan berotot besar.
Pada masa kecil saya sering terdengar kalimat-kalimat seperti:
“Mona rambutnya keriting.”
“Pantat Mona besar amat.”
“Kaki Mona besar-besar.”

Saya tidak tahu kalimat-kalimat ini, sebenarnya komentar, pertanyaan, pernyataan, igauan, atau gumaman…atau apa?
Terucap begitu saja. Tiba-tiba saja.
Kalau sering-sering diucapkan, tidak heran kalau saya akhirnya jadi terganggu.
Maka mulailah saya mengartikan itu sebagai sesuatu yang non-pujian. Sebab mereka yang berciri fisik yang berlawanan dari saya pasti dapatnya pujian. Setidaknya sejauh ingatan saya, mereka itu adalah yang berkulit putih atau terang, berambut lurus dan berbadan kurus (kurus dalam pengertian benar-benar tanpa otot).

Image cantik ala Indonesia adalah ayu, lembut, kemayu. Itu sama sekali bukan saya. Saya terlahir beda. Sejak kecil saya suka memanjat pohon, meskipun tidak tahu cara turunnya. Saya suka ketinggian. Dan kecepatan.
 Di masa remaja saya suka tertawa keras dan terpingkal-pingkal, tapi sering dilarang atas nama “kamu itu perempuan, jaga sikap!”. Saya saat itu tidak bisa menerima dilarang dengan pasal tersebut. Janggal saja: banyak larangan yang harus saya hafal. Hanya karena saya perempuan. Supaya dipuji, disukai dan  dibilang anak manis dan sopan: taat, ikut, patuh, manut, mengangguk, pasrah. Jika saya melanggar, hukumannya bisa berat sekali. Hukuman sosial. Rupanya bisa dari gossip sampai fitnah. Bangun-bangun kau sudah tanpa teman: sendirian di dunia. Parah lagi, tanpa jodoh (meskipun nomor terakhir ini paling tidak menarik perhatian saya)


Jari jempol saya tidak diciptakan untuk Smartphone

Di film-film Jane Austen, ada adegan pria bangsawan dalam setelan lengkap yang mencerminkan kasta, mencium tangan mulus nan lembut si wanita yang ingin ia rebut hatinya. Setiap kali menonton adegan seperti itu, saya tiba-tiba jadi merasa bodoh. Saya merasa intelegensi saya terhina. Tayangan romantisme di kepala saya adalah: piknik di atas rumput, bercerita, saling mendengarkan, bertukar interest, tentang segala sesuatu, tentang apa pun, berjam-jam tanpa sentuhan.

source: http://janeaustenfilmclub.blogspot.de/2012/11/pride-and-prejudice-1940.html

Iri? Sama sekali tidak. Saya tidak menyesal terlahir begini. Saya justru merasa unik dan berharga.
Jika melihat adegan elus-elusan tangan dan mencium punggung tangan yang dilakukan oleh seorang pria, saya takutnya si perempuan jadi “terbina”  untuk berpikir, “Saya harus rawat habis-habisan kelembutan tangan saya, ini aset: tanpa kemulusan tangan saya, saya kehilangan rasa percaya diri jika disentuh lagi.”

Logis kan? Tentu saja si perempuan akan berpikir demikian. Saya tidak mau dong, adegan panjat pohon saya batal hanya karena saya harus polesi tangan saya berjam-jam sambil menanti disentuh lagi. Haduh, jadwal panjat pohon bisa terbengkelai!

Di masa kuliah saya, tenar-tenarnya smartphone beredar. Semua teman-teman saya beralih dari blackberry ke benda ini. Saya? Sampai lulus pun belum beli-beli. Selain kemahalan, saya tidak paham letak pentingnya memiliki smartphone! Lebih tepatnya, saya tidak mau paham. Apalagi melihat image smartphone yang dipresentasikan orang-orang sekitar: saya jadi makin skeptis adanya!
Suatu ketika saya diperbolehkan otak-atik ketik sms di layar smartphone teman saya yang lebarnya sedaun kelor. Perasaan, jempol saya saya letakkan di atas huruf d, yang muncul malah huruf f! Terjadi lagi dan lagi. Saya jengkel. Mau tulis satu kalimat saja hapus edit berkali-kali. Ini kan tidak perlu terjadi kalau saya pake hape senter (istilah untuk hape jadul yang ada senter manualnya) Teman saya tertawa. Menertawakan gaptek saya sambil berkata, “Makanya jempol tu jangan terlalu besar!” Dia benar sih…jari jempol saya memang besar. Saya tertawa juga, tapi balas sindir dong…heheh

Bukan hanya jari tangan, jari kaki saya pun semuanya seperti anak catur. Kakak saya suka meniru lelucon di tv untuk membuat saya jengkel: “Jari kaki kau semua jempol ya.”

Bukan hanya jari-jemari saya, kaki saya pun besar-besar. Lahir besar di tahun 90-an dengan image kuat Jeniffer Aniston, Christina Aguilera, Heidi Klum, dkk… saya melewati depan cermin dengan perasaan takut mengintip, takut lihat pantulan sendiri. Karena setiap kali melihat cermin, saya teringat komentar-komentar “mistis” dari orang-orang di sekitar saya yang tadi sudah saya sebutkan paling atas.

Di usia 15 saya meninggalkan pulau saya, demi sekolah dan kuliah. Akhirnya terlepas dari bully yang pragmatis? Tidak juga. Saya masih dihantui aturan estetika ini. Bayangkan, begitu kuatnya peranan media cetak dan elektronik. Pesan yang mereka sampaikan ke kepala seorang manusia bisa menyisakan jejak yang luar biasa dalam nan lebar: butuh keberanian dan kecerdasan untuk memandang itu sebagai sebuah ketidakadilan. Yang namanya ketidakadilan, jangan sekali-kali berlutut di depannya!!

Singkat cerita, di tempat-tempat baru yang saya kunjungi (yang mana saya habiskan 10 tahun terakhir ini di sana), saya belajar banyak tentang stereotip, perspektif manusia, opini, argument, ketidakadilan gender, logika, kesadaran, percaya diri, feminisme self-esteem/mencintai diri sendiri, mengahargai karunia, merayakan hidup dan kesehatan…

Saya akhirnya belajar memaknai kaki saya yang besar: they are so strong. Kami bersama telah melewati banyak jalan dan lika-liku, petualangan dengan tikung tanjaknya yang ekstrem. (Saya memang Dora: saya hampir tahu lebih banyak daripada google map :P) That’s why I find them—my legs—beautiful.

Baru-baru ini saya terperanjat dengan sebuah video motivasi tentang mencintai diri yang sangat positif dari seorang YouTuber. ( https://www.youtube.com/watch?v=Dzx7HDJ6jJw ) Terlahir di dekade yang sama, dia bercerita tentang bagaimana dia melewati masa kecil sampai remaja dengan tuntutan estetika: berkaki belalang, langsing nan panjang, kurus berambut lurus, dst… Kedengarannya sepele. Bagi beberapa di antara kalian mungkin terlalu memble, tapi bagi mereka yang mengalami dan menjalani tanpa klu, itu tidak semudah cerita di majalah remaja!

Ada yang putus asa dan tersesat ke diet yang doktrinnya: muntahkan kembali makanannya! Ada banyak yang mengalami trauma rasa percaya diri dan mulai memandang dirinya sebagai minus. Sayangnya, hanya karena berat badan, pipi tembem, tubuh berotot, rambut keriting, atau berkulit gelap. Semua kualitas intelegensi seseorang serta merta dilupakan hanya karena dia berambut ikal? Luar biasa menyesatkan aturan estetika ini.

SMA saya terdapat di Pulau Flores; sebuah pulau dengan populasi yang 90% nya berambut ikal sampai keriting. Ini berbanding terbalik dengan pulau sebelumnya yang saya tinggali 15 tahun lamanya.

Selama tiga tahun saya tinggal di asrama putri milik sekolah. Hampir semua teman-teman sekolah dan seasrama berambut demikian khas. Banyak yang mencatoknya (ioning) supaya kelihatan lurus. Saya juga pernah dicatok/mencatok tentu saja… tapi tidak ingin saya permanenkan, karena saya sebenarnya punya aturan estetika buat diri saya sendiri. Saya suka rambut hitam panjang dan ikal: that’s what I wanted! Sayang: tapi kenapa masyarakat dan segenap standar kecantikannya “tidak mengijinkan” saya berpenampilan begitu?

Tulisan ini berlanjut ke Part II J




Senin, 05 September 2016

Kalau bisa hari ini, kenapa mesti besok: disiplin waktu dan tamparannya (Part I)

Waktu adalah tema basi, tapi bergaullah dengan waktu secara bijaksana, and you will see the real potential in you.
Setahun yang lalu saya dimarahi habis-habisan oleh bos saya karena keterlambatan saya yang “hanya” 30 menit. Kala itu saya baru 5 bulan tinggal di Jerman. Komentar saya dalam hati waktu itu, “Kan salah naik bus, masa tega comelin saya? Saya ini baru di Jerman, mana paham sistem bus di sini.” Alasan demi alasan…
Sebagai orang yang lahir besar di Indonesia, saya tahu betul how to play dengan keterlambatan. Saya tahu apa yang harus saya katakan, mimik wajah apa yang harus saya tampilkan dan bahkan jawaban yang akan keluar dari mulut bos saya (atau siapa pun itu, yang terpaksa harus menunggu kemunculan saya).
Keterlambatan di Indonesia adalah sejenis kelalaian yang meluncur begitu saja ke sumur toleransi. Dan sayangnya, toleransi berbanding lurus dengan pembolehan, permisif, keenakan, keterusan, keterbiasaan lantas jadi kebiasaan.
Waktu saya belajar makan roti dan merindukan nasi, proses itu tidak berjalan begitu lama dan tidak ada tabrak benturnya yang nyata. Saya makan nasi sebagai menu utama selama 24 tahun berturut-turut, dan beberapa bulan kemudian saya sudah terbiasa makan roti (dan merindukan nasi). Tidak semua kisah mengganti kebiasaan bertransformasi secepat itu. Kisah saya mengganti kebiasaan telat ala Indonesia saya dengan kebiasaan tepat waktu ternyata mengalami tabrak tubruk jatuh bangun jungkir balik sana-sini. Tidak segampang menggeser sepiring nasi dengan sekeranjang roti.

Tepat waktu itu disiplin
Bulan-bulan awal saya di Jerman, saya terperangkap iklan di email saya yang berisi langganan majalah dwi-mingguan. Majalahnya tiba di kotak pos rumah saya selalu disertai dengan rekening berisi sejumlah uang yang harus saya transfer. Karena masalah teknis X dan Y yang mana sampai hari ini saya sendiri tidak ingat dengan jelas lagi apa, saya pun menunda pengiriman uang. Penundaan di Jerman ternyata dosa besar, sodara-sodara. Malangnya saya tidak tahu itu. Saya tidak tahu sebelumnya kalau di negara ini sebuah kurun waktu memiliki konsekuensi yang tidak ampun-ampun. Beberapa hari kemudian saya menerima sebuah surat dari tim marketing majalah tersebut: denda karena keterlambatan pembayaran. Di tengah-tengah masalah transfer ini, terjadilah sebuah ketimpangsiuran: saya kehilangan pekerjaan dan harus pindah rumah. Saya punya uang di tangan, tapi tidak dalam jumlah yang diminta pihak marketing majalah itu. Saya tunda lagi pembayarannya. Saat itu saya berada dalam situasi di mana saya tidak bisa pinjam ke siapa-siapa. Meminjam/meminjamkan uang di Jerman bukanlah sesuatu yang biasa dilakukan oleh orang Jerman. Boro-boro pinjam, teman/kenalan aja nggak punya!
Cukup lama kemudian, alaram kembali berbunyi. Sebuah surat terlayangkan ke alamat baru saya. Setelah saya buka, pengirimnya pihak marketing itu lagi. Saya lihat tanggalnya: surat ini sudah “basi”, karena si tukang pos tentu saja mengantarkannya ke alamat lama saya (mana saya tahu saat itu kalau di Jerman, setiap kali pindahan alamat harus infokan ke seluruh kerabat terkait, termasuk mengedit alamat di akun ebay!). Si penghuni rumah di alamat lama saya cukup baik hati melanjutkan surat tersebut ke alamat baru saya. Sayangnya karena alasan teknis ini dan itu, surat tersebut baru mendarat di tangan saya seminggu kemudian—yang artinya lewat jatuh tempo. Waduh. Saya buka amplopnya, tertera di pojok kanan atas tanggal pengiriman yang sudah basi sekali. Denda dilipatduakan lagi. Alhasil penulis membayar 80 Euro untuk majalah yang satu eksemplarnya hanya seharga 2 Euro.
Akhirnya saya kasi tanda cek di lessons of life saya: time is the real money!

Tepat waktu itu komitmen
Skripsi jenjang sarjana saya memakan waktu berbulan-bulan, selama setahun. Padahal ketika itu saya punya kesempatan untuk menulisnya dalam kurun waktu yang lebih singkat. Bagi yang akrab dengan kisah skripsi pasti paham ini, kecuali bagi mereka yang benar-benar berkomitmen dengan waktu. Oke, cerita skripsi barangkali skalanya terlalu kampus banget: kecil dan klise. Mari kita lihat skala yang besar: dunia kerja. Tuntutannya lebih nyata karena kamu digaji dan memiliki posisi. Kehilangan gaji dan posisi? Siapa yang mau. Posisi-posisi penting dalam sebuah pekerjaan erat kaitannya dengan bagaimana seorang personil berkomitmen dengan waktu. Jika dari hal kecil saja tidak bisa bertanggung jawab, bagaimana bisa dipercayakan tanggung jawab yang lebih besar? Maka dari itu, bergaullah dengan waktu secara bijaksana, make it as your friend and all your plans will be under your control. Pandanglah waktu sebagai sesuatu yang serius, karena jika tidak agenda kita bisa dibuat pontang panting. Jangan biarkan kalimat “Nanti saya selesaikan besok saja, kan masih ada waktu.” menjadi akrab di kepala.

Tepat waktu tidak sama dengan buru-buru



Bus di Jerman hanya berhenti di halte-halte yang telah ditentukan. Di halte-halte tersebut telah tercantum jadwal-jadwal yang berisi nomor bis, rutenya, menit kedatangan/keberangkatannya, bahkan berapa menit yang dibutuhkan si bus untuk sampai ke halte berikutnya. Semuanya sudah jelas, tepat dan pasti. Beberapa bulan yang lalu penulis berjuang mengikuti aturan main “jam menit detik” yang serba dihitung ini. Di Jerman bus atau kereta tidak pernah terlambat semenit pun, jika tidak dikarenakan alasan serius. Bagaimana kalau kita yang terlambat? Silahkan saja tunggu bus berikutnya. Bagus kalau bus lewat tiap 15 atau 30 menit… kalau setiap sejam? Bagus kalau menunggu ketika musim panas…kalau musim salju?
Satu dua kali pernah lah penulis ketelatan, akhirnya harus mengayuh sepeda sampai ke tempat tujuan. Penulis bahkan pernah bersepeda 30 menit di tengah salju gara-gara ketinggalan bus.
Di kasus lain, gara-gara buru-buru penulis kelupaan karcis… balik lagi deh ke kos, padahal sudah di halte. Selalu saja ada yang lupa kalau kita buru-buru: dompet, ATM, payung, lip balm, botol air, dst.
Tepat waktu adalah disiplin. Jangan dikacaukan dengan buru-buru. Karena maknanya beda jauh. Buru-buru terjadi karena kurangnya persiapan sedangkan deadline di depan mata. Sedangkan disiplin waktu selalu diawali dengan persiapan sejak dini dan ketuntasan yang lunas. Buru-buru belum tentu tepat waktu. Sekalipun tepat waktu, segala sesuatu yang dikerjakan dengan buru-buru hasilnya kurang matang dan mentah sebelah.


Tulisan tentang waktu ini berlanjut ke Part II :)

Kamis, 01 September 2016

Coba-coba: Ide kreatif memajang anting-anting

 Suka mengenakan anting-anting?
Tapi saking kebanyakan, kalau disimpan berantakan?


 Menyimpan anting-anting itu abad kemarin. Hari ini kita memajangnya sebagai dekorasi plus plus.

Membeli gantungan seperti ini mahal, ciptakan saja punya sendiri.


Ide berikut ini orisinil hasil imajinasi penulis yang saat itu terpikat dengan sebuah papan iris roti yang seharga satu euro (harga termurah sebuah barang di Jerman haha). Saat berdiri di supermarket itu, sambil memandang si papan iris yang sedatar harganya, saya hanya bergumam, "this could be something." :D
Sepulang rumah, kos maksudnya, saya endapkan saja si papan di dalam laci perkakas, ide belum mantap di kepala. Barulah dua bulan kemudian... ting! Lampu ide menyala :D


Yang kamu butuhkan?


sang papan kayu yang kering malang butuh warna sebelum dijadikan pajangan. Warna-warna cat air adalah pilihan terbaik, cepat menyerap dan sesuai dengan bahan kayu sebagai "kanvas" nya.



Lukislah apa pun yang kamu mau di atas papan iris tadi. Pastikan itu mempercantik dan memperhidup penampilan kreasimu. Jangan pernah takut bermain warna. Colors are there to be played.





So simple, right?

Selasa, 30 Agustus 2016

You can be moslem, vegan, jews, gay… I can be single.

Selagi kita menikmatinya, tidak ada detik yang sia-sia.

Saat istirahat kerja siang tadi, saya membaca sebuah artikel online dari seorang jurnalis Jerman yang tampaknya… single. Artikel ini memang sudah saya tongkrongi berhari-hari. Tulisannya polos. Penulis sama sekali tidak ada maksud men-single kan umat manusia lainnya, namun pemikirannya benar-benar autentis.  Saya tertarik dengan kepolosannya dalam bercerita. Dia tidak malu jadi dirinya sendiri. Malah membalikkan “aib” single nya untuk jadi berita di blog nya yang “vintage”.
Saya tidak sendiri. Di seberang meja di mana kedua tangan saya membingkai smartphone saya, duduk seorang kolega kerja yang manis dan mungil nan ramah. Hanya kami berdua di dapur Praxis  itu. Sambil memoles keju di atas roti yang telah terbagi dua, dia mendengarkan saya yang membacakan blog ini tadi, dengan tujuan menjadi bahan bahasan. Siang yang panas di musim panas Jerman yang kadang panas kadang dingin. Meskipun lebih sering dinginnya… Daripada tidak ada bahan celotehan, saya berinisiatif membahas artikel di blog si jurnalis single.
Swantje nama kolega saya itu. Di usianya yang menginjak kepala tiga 3, ingin betul dia menikah, tuturnya beberapa waktu yang lalu. Saya tahu, dia bukan ingin menikah karena usianya, namun karena ia telah menemukan pasangan yang tepat. Summer tahun depan dia akan menikah dengan sang pria beruntung itu. Menurut pengakuan Swantje, hubungan mereka belum berlangsung lama. Baru dua tahun:  bagi orang Jerman, dua kali 365 hari terlalu cepat untuk terjerumus ke pelaminan. But after all, I’m happy for her…
Masuklah kami ke artikel ini. Bertemakan single. Seperti biasa, saya memang suka membuka tema dengan lawan bicara yang saya rasa cukup open minded untuk diajak berbuka pendapat. Semakin banyak kata yang terurai di antara kami, semakin terang di mata saya bahwa umur memainkan peran.

“Saya juga pernah ada di masa-masa di mana saya berkata pada diri sendiri : no marriage, no kids, meskipun saat itu saya sedang berpacaran dengan seseorang, hubungan kami sempat bertahan selama enam tahun.”

Saya juga pernah ada di masa-masa… Kalimat ini terdengar seolah-olah “Suatu saat juga pasti kamu ingin menikah dan mempunyai anak.” Saya memang tidak mengelak. Saya belum pernah berusia 31, sementara 6 tahun yang lalu Swantje berusia seperti saya.
Baiklah. Seperti saya bilang, tidak berniat membangkangi kalimat Swantje barusan. Dia tahu arah bicara saya. Saya menjalani gaya hidup single, pemikiran dan prinsip single. Swantje paham itu dan setuju bahwa itu tidak salah. Meskipun, ‘salah atau benar’ sebenarnya hanyalah interest orang jaman adam dan hawa…

“Lalu saat saya berkenalan dengan tunangan saya, saat itulah semuanya berubah. Semua rencana banting stir, dan mendadak saya menginginkan pernikahan dan anak. Saya bahkan tidak bisa lagi sabar,” Lanjutnya lagi dengan tatapan seperti seorang ibu ke anaknya: Nduk, ikut nasihat ibu, nak…

Saya hanya menjawab, “Akan datang waktunya.”

Itulah letak permasalahannya. Orang mengukur seberapa jauh jarak ke-single-an dari masa di mana kita in relationship. Kalimat gampangnya: ketika kita single, bukannya malah menikmati masa-masa berkenalan dengan diri sendiri, kita malah menanti-nanti, “Kapan yah aku dipacari?” Akhirnya kita kelewatan memaknai arti single. Padahal momen pemaknaan itu begitu indah dan jujur.
Bicara single memang rawan. Yang pertama, status ini dipandang sebagai aib. Tuntutan sosial seolah-olah memaksa kita untuk berpikir,

“Si X yang jelek aja nggak jomblo… Berarti.. saya lebih jelek dari X? Oh tidaaak… Apa kata dunia!”

atau karena desakan usia,
“Jangan-jangan saya jadi perawan tua besok-besok!!”

Yang ke dua, ada rasanya kesepian dan kurang percaya diri.

“Kalo ada pacar kan yang bantu pindahan, anterin ke kampus, ngajak nonton di bioskop…”

dan seterusnya.

Artikel yang saya maksud di paragraf teratas bisa kamu temukan di sini http://dieschreibmaschine.net/2016/08/11/kurioses-single/ (Bagi yang bisa berbahasa Jerman, silahkan baca.)

Secara ringkas, artikel ini bercerita tentang seperti apa kamu memandang single itu? Banyak orang menganggap single itu aneh, tapi si penulis menganggapnya sebuah fase yang tidak ada bedanya dengan berpacaran. Salah satu contoh: penulis menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri secara “mewah”. Bahkan penulis menambahkan, menjadi single adalah juga sebuah pandangan. Artinya, sekalipun kita mempunyai pacar, kita tetap bisa menerapkan gaya hidup single.

 http://weheartit.com/entry/83348880

Single bukan berarti memperlakukan diri sendiri secara “kurang berharga”. Setiap momen adalah berharga! Setiap momen single itu berharga. Sebagai seorang perempuan, kamu pasti bosan mendengar tuduhan klasik ini kan: wanita berdandan untuk menarik perhatian laki-laki. Kalian sendiri tahu, itu tidak benar. Ketika berdandan, kamu sebenarnya sedang menyenangkan diri sendiri. Dalam hal makan pun demikian. Bukan hanya karena sang kekasih duduk di seberang meja makan, jadi segalanya pun harus dibuat rapi, segelas anggur merah di antara tepi piring dan nyala lilin… Saat single pun kamu bisa mengalami semua kemewahan itu. Ciptakanlah kemewahanmu sendiri dalam ke-single-anmu. Kembali ke artikel tadi: tergantung dari sudut mana kamu memandang single itu.
Menjadi single= mencintai diri sendiri.


Artikel ini berlanjut J

Kamis, 25 Agustus 2016

Pria Jerman, Sang Pahlawan Dapur

Sekitar 17-18 tahun yang lalu, saya masih memiliki indra penciuman yang sangat kuat. Saya bahkan punya sebuah hobi yang janggal: membaui (baca: mencium-cium suatu jenis bau). Saya katakan hobi ini tergolong janggal karena saya tidak pernah lihat tuh, orang cium-cium bangke belalang, tapi saya pernah… Saya bahkan bisa sampai memarahi diri saya sendiri jika itu tidak saya lakukan (menciumi bau).

Saya ingat betul, betapa isnting saya suka menantang saya. Jika melihat sebuah serangga, dia bilang “Kalau rupanya begitu buruk, pasti baunya pun tak sedap. Ayo cium! Cari tahu, seberapa busuk baunya!” Kita semua tahu bentuk serangga kebanyakan “asing”, “tidak indah”, “mirip mesin/monster”. Jenis serangga yang biasanya saya cium adalah yang sudah mati dan tergeletak tanpa “nyawa” di mana pun itu.

Ternyata bukan hanya serangga. Pada suatu musim hujan di masa kecil saya yang penuh rasa penasaran itu, bertumbuhan di sekitaran halaman rumah kami sebuah jenis jamur aneh berwarna orens, tudungnya berwarna orens menyala. Belum pernah seumur hidup saya yang masih sedikit saat itu, melihat jamur dengan warna se-ngejreng itu. Bagaimana tidak menyedot rasa ingin tahu, dia tumbuh di cela-cela kerikil membosankan di depan rumah saya. Satu-satunya yang berwarna di situ hanyalah si jamur dan sejumput rumput hijau kesepian sekitar satu meter di sampingnya. Lagi-lagi insting saya menyeret saya ke situ. Selama beberapa hari mekar-mekarnya, saya duduk jongkok di samping mereka, mengamati jamur-jamur itu berlama-lama. Saya tahu usia jamur hanya sekejap mata. Tidak ingin melewati kesempatan langka ini. Saya tahu rupanya terlalu berlebihan menarik, artinya beracun (sesuatu yang bagi sensor penasaran saya justru menarik). Aromanya pun dari jarak 50 centi sudah tercium: busuk. Sudah jelas-jelas busuk, dengan rayuan yang keras, insting saya menyuruh “Mendekat, letakkan tepat di depan lubang hidung.” Dan saya yang tak berdaya, melakukannya.

Memang benar-benar busuk.
Jamur sialan.
Jamur orens sialan.
Tapi anehnya saya puas. Sudah tahu rasa, ya sudah, puas.

***

Anekdot jamur orens dan baunya yang menyengat selesai. Sampai saat itu indra penciuman saya memang tajam. Sekalipun sebagai anak kecil saya tidak menyadarinya, di kemudian hari barulah saya tercengang oleh perbedaannya. Saat itulah saya mulai menelusuri kembali riwayat indra penciuman saya sejak saya punya ingatan. Anekdot dalam tulisan lepas ini adalah riwayat singkatnya.

***

Saya memiliki tetangga yang sangat suka kerapihan, kebersihan, dan keindahan. Mereka sekeluarga memang doyan makan ikan, seingat saya. Setiap kali selesai makan ikan, saya pasti turut mendengar si ibu menegur anak-anaknya untuk mencuci tangan. “Bau amis!” tegurnya sedikit comel (namanya juga ibu-ibu). Lucunya, karena rumah kami itu sangat berdekatan, saya sering mendengar suara ibunya. Memang beliau sangat tegas dan disiplin kepada anak-anaknya. Percakapan normal yang terjadi di teras belakang rumah mereka jarang saya dengar dari teras rumah saya, namun teguran-teguran sang ibu terhadap anak-anaknya… sudah pasti saya turut dengar juga. Terkadang beliau benar-benar tegas sehingga saya sebagai anak kecil saat itu jadi sekejap diam tak berkutik, meskipun bukan saya yang sedang dimarahi/diteguri.

Sekitar 18-19 tahun yang lalu. Di sekolah dasar. Teman-teman sekelas saya sering membuat celotehan yang cukup bikin iritasi kalau saya ingat-ingat. Salah satu contohnya, “Hmh, bau! Siapa yang kentut!!!” Meskipun memang kentut itu bau, tapi cara mereka melebih-lebihkan bau sebuah kentut itu selalu membuat saya gerah ketika kecil. Masih ingat betul,  saya merasa tidak lucu jika ada yang menistakan sebuah bau kentut. Come on, setiap orang punya lambung kan… isinya apa kalau bukan calon hajat. Yang paling membuat iritasi adalah jika yang kentut ketahuan siapa orangnya, pasti diperhinakan habis-habisan, seolah baru bangkai pun masih harum. Setidaknya begitulah pengalaman masa sekolah dasar saya. Entahlah bagaimana dengan kalian.

Kisah kecil ini ternyata berdampak besar ketika saya beranjak dewasa. Sebagai anak kecil ketika itu, saya hanya tahu apa yang saya lihat dan saya dengar. Karena selalu mendengar “ih, bauuu!!!” atau “idihhh, jijikkkk ah, bau amis!!! sana cuci tangan!”, atau “Sana mandi!”, secara otomatis saya mengartikan bau sebagai sesuatu yang menjijikkan, jahat, perlu dihindari, tidak bisa ditoleransi, jelek, sampai memalukan. Perlahan-lahan tanpa sadar, saya belajar berhenti menghirup lewat hidung setiap kali berpapasan dengan sesuatu yang mengeluarkan bau busuk. Dengan demikian saya tidak perlu menanggung derita bau. Ketika itu mana saya tahu akibatnya, namanya juga anak kecil. Tanpa sadar saya lakukan penahanan napas tersebut secara otomatis, kapan pun saya melihat bangkai atau mendeteksi bau.

Ketika remaja, mendengar teman sekelas atau seasrama berkata “Hmh, bau! Mona kau cium itu tidak?” Dan saya menjawab polos “Apa? Apa yang bau? Saya tidak cium apa-apa.” Kalau memang baunya busuk, saya tidak rugi, justru untung: saya berhasil dan selamat melalui detik-detik kelam mencekam ketika seseorang kentut di dalam ruangan. Semua orang memaki dan mengutuk seraya saling melempar pandangan menuduh. Saya? Sibuk dengan kesibukan saya sendiri, dengan damainya. Kalau pun angin jahat nan halus itu busuknya minta ampun, pasti hidung saya ikutan tangkap juga, tapi biasanya paling terakhir, terlambat loading sensornya.

Namun, jika yang saya lewatkan itu adalah aroma masakan…. Saya merasa sialan juga… “Ya ampun, harum bangettt… Jadi lapar…,” seru teman saya sambil menarik napas dalam-dalam. Dan saya hanya berdiri bingung, mencari sinyal, sambil membayangkan aroma masakannya. “Barangkali begini, ya, pasti harum banget,” bisik hati saya sambil membayangkan tumisan sayur pakai bawang merah dan putih. Mentok.

***

Sejak tahun lalu saya berdomisili di Jerman. Saat itu saya berkenalan dengan seorang pria yang benar-benar jago masak. Kemampuannya memasak membuat saya bungkam. Saya yang tadinya menghitamkan kosa kata dapur, akhirnya jatuh cinta setengah mati dengan dunia gastronomi. Pria ini sangat mencintai sayur-sayuran. Dia menguasai nama-nama bumbu, bahkan sampai yang tidak saya temukan terjemahannya dalam bahasa Indonesia: Rosmarin. Dia tahu proses memasak, dan proses sebuah bahan termasak. Dia bisa jelaskan semua itu dengan detail dan setiap deskripsi masakannya tercium passion yang bisa meleleh di ujung lidah. Dia bisa jelaskan kenapa dalam tumisan sayur kita membutuhkan lemak hewani ; “It is the trigger,” katanya dengan mata bernyala-nyala.



Dapur adalah kosakatanya. Memasak adalah panggilan hidupnya. Makan adalah suka citanya. Kami sering menghabiskan waktu bersama memasak, dan menikmati masakan kami. Koreksi: masakan dia. Saya hanya bisa mengiris bawang. Namun saya belajar banyak hal dari kebersamaan ini.
Saya ingat betul. Setiap kali dia memasukkan bumbu atau bahan berikutnya ke dalam wajan, aduk, dia dekatkan hidungnya ke wajan dan menghirup dalam-dalam. Mata terpejam. Saya terpana. Saya tidak tutup mata. Saya menunggu. Dia mau bilang apa.

“Hmmm….” katanya dengan senyum bangga. “Mona, sini, coba cium!” Saya mendekat, hidung kedap-kedip, dengan mata terbuka, lagi-lagi mencari sinyal…

”Ohhh…” Tidak dipungkiri, memang enak benar sih aromanya, hehehe.




Saya tidak melihat adegan live mencium masakan ini sebagai sesuatu yang lebay. Insting saya paham: kalau memang cinta, pasti jadi mellow… Saya juga kalau lihat high heels di toko sepatu, saya bisa meleleh bahagia. Itu baru melihat loh!

Kejadian narsis mencium masakan ini dilakukan si Pria Jerman berkali-kali, setiap kali kami memasak. Lalu karena penasaran, saya bertanya di suatu sore, ketika kami jalan-jalan ke hutan. Hutan-hutan di Jerman indah-indah dan berpelindung hukum, benar-benar untuk mencari kedamaian.
“Kenapa kamu suka mencium masakan dan lebay cara ciumnya?” tanya saya blak-blakan.

Lalu keluarlah anekdot masa kecilnya.

Ketika itu si Pria Jerman berusia 11 tahun. Bertiga dengan ayah tirinya yang sarkastis dan ibunya, mereka duduk di bus. Bus ini berjalan melewati pedesaan dan ladang. Kebetulan saat itu sedang musim menanam. Petani di Jerman sejak dulu menggunakan kotoran hewan asli sebagai pupuk, demi menjaga kesuburan dan humus tanah (super duper smart!—komentar penulis). Ketika Bus lewat, masuklah aroma kotoran hewan itu ke lewat cela-cela lubang bus dan menyebar ke indra penciuman setiap penumpang (bus-bus di Jerman tertutup rapat karena mereka mempunyai musim dingin, sekalipun summer, mereka tidak jalan dengan pintu/jendela terbuka seperti di Indonesia). Mencium bau tak sedap, si ayah tiri berkata ironis “wah, benar-benar harum ya…”

Si Pria Jerman yang ketika itu masih anak-anak menerjemahkan kalimat yang didengarnya tadi utuh-utuh seperti kedengarannya. Yang dia paham: Oh, ini baunya enak. Sejak saat itu ia mengenali bau pupuk kandang sebagai aroma yang bagus untuk hidung. Dia mengaku ke saya, sering mencium dalam-dalam aroma pupuk kandang, sampai ia cukup besar untuk memahami kalimat ironi, parabola, dan sarkasme.

Kebersamaan kami memang membuat saya menyadari satu hal: indra penciuman si pria Jerman memang benar-benar tajam. Hipotesis saya, karena dia tidak bersembunyi di balik paru-paru yang terbuka dan tertahan di sana. Sebaliknya, dia menerima bau apa adanya. Sebagai sebuah proses kimia yang kadang enak kadang tidak.
Saya akhirnya belajar, ketajaman indra, begitu pula dengan ketumpulannya adalah kemampuan yang bisa dilatih, sama halnya dengan saraf, sensor, otot, kemampuan berpikir, hati nurani dan seterusnya.