Sabtu, 19 Mei 2012

Tanya Waktu


Tak ada yang bisa menjelaskan waktu
Tak ada yang tahu kenapa ada aku
kenapa ada kamu
tapi aku tahu kenapa aku dan kamu menjadi kita
walau tak ada yang sempat mengaku
ya, bisa jadi karena tak semua kata butuh suara
bahkan dalam diam ada kejujuran

Ke mana bayanganku dalam kedua matamu
dulu aku ada di sana
berwarna dan bercahaya

Ketika Marah


Ketika kau sedang marah
Semua yang kaulakukan
Hanya membuatnya semakin parah
Wajahmu yang merah
Bibirmu kaku, mata seperti panah
Semua saran rasanya salah
Semua orang tampak bodoh di depanmu
Ketika kau sedang marah

Jangan ada yang berani menyentuhmu
Kau sepeti bom yang siap meledak kapan saja
Kau tak mau kalah
Kau bertingkah tanpa arah
Orang-orang di sekitarmu kau suruh diam
Seolah kata-katamu adalah harga mati
Yang bantah harus mati
Begitulah kalau kau sedang marah.

Jumat, 18 Mei 2012

Kesunyian Itu Kejujuran


Bayanganku kini terjebak dalam bola matamu
Dan tatapanmu
Seolah kau bisa menembus bagian terdalam hatiku
Aku hanya bisa membuang muka
Aku tak cukup kuat
Aku tak siap
Untuk melihat ke dalam sana
Aku tak ingin mendapati sinar keraguan di sana

Aku benci kesunyian seperti ini
Karena ia meneriakkan kebenaran
Entah kenapa kau bisa setegar itu
Sedangkan aku sendiri
Mataku sudah memerih
Sebentar lagi akan ada sungai kecil di garis pipiku

Bibirmu yang kaku semakin mengeras
Seolah mendekap dendam yang tak mau terungkap
Membungkam
Tapi matamu berkata, “Jangan menangis’
“Suatu hari nanti...”
Adalah kata yang paling sering kita ucapkan
Kupercaya akan jadi sabda

Dan ketika kau pergi
Aku akan berlari ke dalam malam
Bersembunyi dalam sayap-sayap kegelapan
Aku tak ingin berdiri di siang hari
Karena bayanganku akan tampak

Ketika kau pergi,
Aku dan hujan, kita menangis bersama
Bantal yang kupakai meletakkan kepalaku
Membisikanku untuk tidak merasa sepi
Selalu ada pelangi sehabis hujan

Memetik Ilalang Dan Menagkap Belalang


Aku ingin berada di suatu tempat
Tempat yang mengingatkan aku pada masa kecil kita
Tempat itu luas, hijau, dan berangin
Dengan kita berdiri di tengah-tengahnya
Memetik ilalang dan menagkap belalang
                                
Waktu itu matahari sudah seperempat jalan menuju barat
Kau dan aku berdiri membelakanginya
Mengukur bayanga siapa di antara kita yang paling panjang

Padang itu begitu ramah dan terbuka
Apa adanya tapi tetap biasa
Tidak ada tempat bersembunyi
Tapi ada permadani untuk berbaring

Itulah masa-masa kecil kita
Saat-saat kita bergaul dengan alam
Tanpa berkata-kata namun bisa bicara  dengannya
Karena kita punya bahasa sendiri yang hanya bisa dimengerti di antara kita

Itulah saat-saat kita belum mengenal teknologi
Itulah terakhir kalinya kita berbagi dengan alam
Tapi kemudian, beberapa saat setelah itu
Ruang kita menyempit oleh hadirnya televisi
Kebun tempat kita bermain tergantikan oleh layar kaca
Kau dan aku adalah jiwa-jiwa yang terkurung
Kita terjebak di antara dimensi yang berbeda
Tidak adalah rumput hijau
Yang bisa kaupegang dan hirup aromanya
Hanya kering dan gersang yang kita rasakan


Kamis, 17 Mei 2012

Pilih Jadi Kepompong Atau Kupu-Kupu?


Pagi ini saya berjuang bangkit dari pekuburan saya (baca: tempat tidur) untuk merangkak ke kamar mandi yang jaraknya hanya beberapa meter dari kamar saya. Saya teringat bahwa hari ini adalah Hari Raya Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Jujur saja dengan setengah hati saya bersiap-siap ke gereja karena saya memikirkan sebuah kemungkinan yang jauh lebih menarik : bersepeda ke bandara Adi Sucipto yang selama ini sudah saya rencanakan. Karena saya berpikir, meskipun ke bandara artinya saya harus menempuh perjalanan 5 KM dengan napas ngos-ngosan dan keringat bercucuran, namun setidaknya itu jauh lebih menyenangkan daripada sekedar duduk manis di bangku kapela dan mendengarkan khotbah pastor.
Namun kaki saya membawa saya ke sana juga akhirnya, Kapela St. R. Bellarminus (Sanatha Dharma). 7.10 saya sudah memarkir sepeda ajaib saya di parkiran kapela. Kapela mungil nan cantik yang letaknya 500 M dari kos saya itu tampaknya sudah hampir penuh. Untunglah bangku langganan saya, bangku kiri paling depan, belum. Saya datang pada waktu yang sangat baik. Dandanan yang rapi memaksa saya untuk berlaku manis dan menahan ‘tingkah autis’ saya yang kadang-kadang secara tidak sadar muncul.
Misa pun berlangsung dan sampailah pada bagian yang paling saya sukai sejak kecil : bagian khotbah (hanya saja tidak jarang seorang pastor berkhotbah ngawur atau asal-asalan sehingga tidak menginspirasi umat!). Oya, lupa bilang kalau romo yang membawa misa beda dari biasanya, saya baru melihatnya. Dia membawakan khotbah yang benar-benar membuat saya menyesal sudah sempat berencana untuk menghindari misa yang sangat berharga pagi hari ini.
Khotbahnya begini:

Ketika saya masih muda, itu berarti empat belas tahun yang lalu, pada tahun 1998, Indonesia sedang mengalami krisis besar-besaran. Tepatnya tanggal 2 Mei, kami para mahasiswa berkumpul di kampus UNJ. Jumlah kami ribuan, laki-laki dan perempuan. Kami berencana untuk melakukan demonstrasi ke jalan-jalan di luar kampus padahal hal itu tidak mungkin sekali pada masa regim Suharto itu. Karena itu kami semua ragu-ragu. Lalu datanglah seorang teman kami yang pintar berpidato. Dia berdiri di podium di tengah-tengah kami semua dan mulai membakar semangat kami dengan pidato yang kurang lebih seperti ini : Teman-teman, hari ini kita akan menjadi laki-laki dan perempuan. Selama ini kita anak kecil. Dan setelah kita menjadi laki-laki dan perempuan, kita akan keluar dari gerbang kampus, kita akan menghadapi dunia.Lalu kami pun keluar dari lingkungan kampus, berdemonstrasi di jalanan yang sudah dijaga oleh polisi dan tentara. Alhasil ada yang dipukuli dan ditendang masuk ke dalam got dan segala macam resiko lainnya. Itulah yang harus kami hadapi karena selama ini kami hanya berani di balik tembok-tembok kampus, kami merasa nyaman di sana. Seperti itulah kebanyakan orang, ia hanya mau berdiam di tempat di mana ia merasa aman, termasuk bergaul dengan orang-orang yang mana dirasanya aman: hanya mau bergaul dengan orang seagama, hanya mau bergaul dengan orang sekampus, hanya mau bergaul dengan orang yang warna kulitnya sama dengan dia, yang bentuk rambutnya sama dengan dia, dsb. Orang-orang seperti itu hanya mau cari aman dan tidak memiliki keberanian untuk menghadapi dunia. Kita terperangkap dalam dinding kita masing-masing, sama seperti kepompong, yang kerjanya hanya makan dan tidur. Sering kali kita lebih meilih menjadi kepompong itu daripada menjadi kupu-kupu yang terbang ke sana ke mari mencari makanan dan melihat dunia. Ada juga tipe orang yang sudah berusaha, tapi ketika ia mengalami patah semangat, ia cenderung tidak mau berusaha lagi. Itu sama saja seperti sudah menjadi kupu-kupu tapi masuk lagi ke dalam bungkusan kepompong.
Beranilah untuk menerima utusan. Ketika kita dikejar, itulah resikonya mewartakan injil. Bergabunglah dengan kelompok yang dikejar itu, jangan bergabung dengan kelompok yang mengejar. Memang akan ada resikonya, tapi juga buah manis yang akan kita petik. Setelah demonstrasi kami itu, tidak ada lagi mahasiswa yang hanya berani berdemonstrasi di dalam kampus saja, mereka jadi berani untuk keluar. Dan puncaknya adalah runtuhnya regim Suharto.

Itulah khotbah romo yang membuat saya begitu terkesima, dan di akhir khotbahnya ia menambahkan dengan sedikit berguyon,

“Beberapa waktu lalu ada spanduk di kampus S1 yang bertuliskan slogan MUDA, KREATIF, TERBUKA.Saya rasa slogan itu sudah bagus tapi kalau saya bandingkan dengan slogan di spanduk mahasiswa S2, slogan mereka lebih berani dan membakar, tulisannya begini : KITA HARUS MUDA, BANGGA, DAN BERBAHAYA.”


Sepertinya romo baru ini sengaja diutus oleh Tuhan untuk memimpin misa pagi ini supaya orang-orang sejenis saya dan Dreamers sekalian bisa tersadarkan akan zona nyaman kita yang sebenarnya hanya membuat kita sekerdil katak dalam tempurung.
terimakasih Tuhan. Terima kasih, Romo.